Adab Imam dan Khatib

ADAB IMAM DAN KHATIB DI DALAM DAN DI LUAR IBADAH
Oleh : Abdur Rokhim Hasan
A. ADAB IMAM
Di bawah ini, akan dijelaskankan tentang siapa yang berhak menjadi imam, dan beberapa adab berkaitan dengannya, sebagaimana point-point berikut ini.

1. Menimbang Diri, Apakah Dirinya Layak Menjadi Imam Untuk Jama’ah, Atau Ada Yang Lebih Afdhal Darinya?

Penilaian ini tentu berdasarkan sudut pandang syari’at. Diantara yang harus menjadi penilaiannya ialah:
a). Jika seseorang sebagai tamu, maka yang berhak menjadi imam ialah tuan rumah, jika tuan rumah layak menjadi imam.

b). Penguasa lebih berhak menjadi imam, atau yang mewakilinya. Maka tidaklah boleh maju menjadi imam, kecuali atas izinnya. Begitu juga orang yang ditunjuk oleh penguasa sebagai imam, yang disebut dengan imam rawatib.

c). Kefasihan dan kealiman dirinya. Maksudnya, jika ada yang lebih fasih dalam membawakan bacaan Al Quran dan lebih ‘alim, sebaiknya dia mendahulukan orang tersebut. Hal ini ditegaskan oleh hadits yang diriwayatkan Abi Mas`ud Al Badri Radhiyallahu ‘anhu , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً، فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً، فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً، فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا، وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ، وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ» قَالَ الْأَشَجُّ فِي رِوَايَتِهِ: مَكَانَ سِلْمًا سِنًّا، (رواه مسلم)

“Yang (berhak) menjadi imam (suatu) kaum, ialah yang paling pandai membaca Kitabullah. Jika mereka dalam bacaan sama, maka yang lebih mengetahui tentang sunnah. Jika mereka dalam sunnah sama, maka yang lebih dahulu hijrah. Jika mereka dalam hijrah sama, maka yang lebih dahulu masuk Islam (dalam riwayat lain: umur). Dan janganlah seseorang menjadi imam terhadap yang lain di tempat kekuasaannya (dalam riwayat lain: di rumahnya). Dan janganlah duduk di tempat duduknya, kecuali seizinnya” (H.R. Muslim)

d). Seseorang tidak dianjurkan menjadi imam, apabila jama’ah tidak menyukainya. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: “ثَلَاثَةٌ لَا يقْبَلُ لَهُمْ صَلَاةٌ: الرَّجُلُ يَؤُمُّ الْقَوْمَ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، وَالرَّجُلُ لَا يَأْتِي الصَّلَاةَ إِلَّا دِبَارًا – يَعْنِي بَعْدَ مَا يَفُوتُهُ الْوَقْتُ – وَمَنْ اعْتَبَدَ مُحَرَّرًا” (رواه أبو داود وابن ماجه )

“Dari Abdullah Ibn Amar berkata, bahwa Raswulullah saw. Berkata : Tiga golongan tidak diterima shalat meraka: (Yaitu) seseorang menjadi imam suatu kaum yang membencinya, orang yang melaksanakan shalat di saat waktu sudah lewat, dan orang yang memperbudak orang merdeka. (H.R. Abu Dawud dan Ibn Majah)
2. Seseorang Yang Menjadi Imam Harus Mengetahui Hukum-Hukum Yang Berkaitan Dengan Shalat.
Seseorang Yang Menjadi Imam Harus Mengetahui Hukum-Hukum Yang Berkaitan Dengan Shalat, seperti bacaan-Bacaan Shalat Yang Shahih, Hukum-Hukum Sujud Sahwi Dan Seterusnya.
Karena seringkali kita mendapatkan seorang imam memiliki bacaan yang salah, sehingga merubah makna ayat, sebagaimana yang pernah penulis dengar dari sebagian imam sedang membawakan surat Al Lumazah, dia mengucapkan”Allazi jaama`a maalaw wa `addadah”, dengan memanjangkan “Ja”, sehingga artinya berubah dari arti ‘mengumpulkan’ harta, menjadi ‘menyetubuhi’nya . Na`uzubillah.
3. Kewajiban Imam Untuk Meluruskan Dan Merapatkan Shaf.
Ketika shaf dilihatnya telah lurus dan rapat, barulah seorang imam bertakbir, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakannya.

Dari Nu`man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu berkata,”Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan shaf kami. Seakan-akan beliau meluruskan anak panah. Sampai beliau melihat, bahwa kami telah memenuhi panggilan beliau. Kemudian, suatu hari beliau keluar (untuk shalat). Beliau berdiri, dan ketika hendak bertakbir, nampak seseorang kelihatan dadanya maju dari shaf. Beliaupun berkata:
سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ، يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَوِّي صُفُوفَنَا حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاحَ حَتَّى رَأَى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ، ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا فَقَامَ، حَتَّى كَادَ يُكَبِّرُ فَرَأَى رَجُلًا بَادِيًا صَدْرُهُ مِنَ الصَّفِّ، فَقَالَ: «عِبَادَ اللهِ لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ، أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ» (رواه مسلم)

Saya mendengar Nu’man bin Basyir berkata : Rasulullah saw. (suatu ketika) meluruskan shaf kami, sehingga Nampak seperti botol yang terikat rapi. Kemudian suatu hari Rasulullahsaw. Melaksanakan shalat, hampir takbir, namun melihat seseorang menonjol dadanya. Lalu Rasulullah saw. Berkata : wahai hamba Allah luruskanlah shafmu, atau Allah akan memperselisihkan di antara kamu. (H.R. Mulim)

Salah satu kesalahan yang sering terjadi, seorang imam menghadap kiblat dan dia mengucapkan dengan suara lantang,”Rapat dan luruskan shaf,” kemudian dia langsung bertakbir. Kita tidak tahu, apakah imam tersebut tidak tahu arti rapat dan lurus. Atau rapat dan lurus yang dia maksud berbeda dengan rapat dan lurus yang dipahami oleh semua orang?!

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Adalah salah seorang kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya, kakinya dengan kaki kawannya.” Dalam satu riwayat disebutkan,“Aku telah melihat salah seorang kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya, kakinya dengan kaki temannya. Jika engkau lakukan pada zaman sekarang, niscaya mereka bagaikan keledai liar (tidak suka dengan hal itu, pen).”
Oleh karenanya, Busyair bin Yasar Al Anshari berkata, dari Anas Radhiyallahu ‘anhu,“Bahwa ketika beliau datang ke Madinah, dikatakan kepadanya,’Apa yang engkau ingkari pada mereka semenjak engkau mengenal Rasulullah n ?’ Beliau menjawab,’Tidak ada yang aku ingkari dari mereka, kecuali mereka tidak merapatkan shaf’.”

4. Melaksanakan shalat dengan ringkas tetapi tetap sempurna dan optimal.

Melaksanakan shalat dengan ringkas; yaitu mempersingkat shalat demi menjaga keadaan jama’ah dan untuk memudahkannya. Batasan dalam hal ini, ialah mencukupkan shalat dengan hal-hal yang wajib dan yang sunat-sunat saja, atau hanya mencukupkan hal-hal yang penting dan tidak mengejar semua hal-hal yang dianjurkan.
Dasarnya adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمُ النَّاسَ، فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيهِمُ الصَّغِيرَ، وَالْكَبِيرَ، وَالضَّعِيفَ، وَالْمَرِيضَ، فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ» (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa rasulullah saw. Berkata :Kalau salah seorang di antara kalian mengimami jamaah, hendaknya ia melakukannya dengan ringkas, karena di antara jamaah itu ada anak kecil, orang tua, orang lemah dan orang sakit. Tetapi kalau ia mau shalat sendiri silakan ia shalat sekehendak hatinya.” (H.R. Muslim)

Juga hadits berkut ini :
سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيَّ، قَالَ: أَقْبَلَ رَجُلٌ بِنَاضِحَيْنِ وَقَدْ جَنَحَ اللَّيْلُ، فَوَافَقَ مُعَاذًا يُصَلِّي، فَتَرَكَ نَاضِحَهُ وَأَقْبَلَ إِلَى مُعَاذٍ، فَقَرَأَ بِسُورَةِ البَقَرَةِ – أَوِ النِّسَاءِ – فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ وَبَلَغَهُ أَنَّ مُعَاذًا نَالَ مِنْهُ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَشَكَا إِلَيْهِ مُعَاذًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا مُعَاذُ، أَفَتَّانٌ أَنْتَ» – أَوْ «أَفَاتِنٌ» – ثَلاَثَ مِرَارٍ: «فَلَوْلاَ صَلَّيْتَ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ، وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى، فَإِنَّهُ يُصَلِّي وَرَاءَكَ الكَبِيرُ وَالضَّعِيفُ وَذُو الحَاجَةِ» (رواه البخاري )
Dari Jabir bin Abdillah al-anshari r.a. berkata ada seseorang dengan membawa dua onta, sementara waktu sudah malam, lalu bertemu Mu’ad alam keadaan shalat. Kemudian ia tinggalkan ontanya dan menghadap Mu’adz yang membaca surat al-baqarah atau surat an-nisa’, lalu dating kepada Rasulullah saw. Dan melaporkan perihal Mu’adz. Kemudian Rasulullah saw. Berkata kepada Mu’adz:“Hai Mu’adz! Apakah engkau mau menjadi pembuat fitnah?” Begitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bertanya hingga tiga kali. Sebaiknya kamu membaca: “sabbihismarabbikal a’la atau Wasy-Syamsi wa dhuhaaha, dan wallaili idza yaghsya. Karena yang shalat bermakmum denganmu itu ada orang tua, orang lemah dan orang yang mempunyai kebutuhan.” (H.R. Al-Bukhari)

Hadits lain adalah hadits Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي لَأَتَأَخَّرُ عَنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ مِنْ أَجْلِ فُلَانٍ، مِمَّا يُطِيلُ بِنَا فَمَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَضِبَ فِي مَوْعِظَةٍ قَطُّ أَشَدَّ مِمَّا غَضِبَ يَوْمَئِذٍ فَقَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ، فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ، فَلْيُوجِزْ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ، وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ» (رواه البخاري ومسلم )
Dari Abu Mas’ud al-Anshari r.a. berkata : ada seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya saya pernah meninggalkan shalat Shubuh berjamaah karena si fulan shalat terlalu panjang mengimami kami.” Tak pernah kulihat Nabi demikian marah dalam memberikan nasihat seperti saat itu, beliau betul-betul marah. Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Hai kaum muslimin sekalian! Ada di antara kalian yang membuat orang menjauh/lari. Kalau salah seorang di antara kalian mengimami jamaah, hendaknya ia melakukannya dengan ringkas, karena di antara jamaah itu ada (orang sakit), orang lemah, orang tua dan orang yang mempunyai kebutuhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Akan tetapi perlu diingat, bahwa takhfif merupakan suatu perkara yang relatif. Tidak ada batasannya menurut syari’at atau adat. Bisa saja menurut sebagian orang pelaksanaan shalatnya terasa panjang, sedangkan menurut yang lain terasa pendek, begitu juga sebaliknya. Oleh karenanya, hendaklah penambahan ataupun pengurangan yang dilakukan, kembali kepada mashlahat.
Shalat ringkas yang dituntut dari seorang imam itu terbagi menjadi dua:
Pertama: Shalat ringkas standar. Yakni tidak lebih dari yang dijelaskan dalam ajaran sunnah. Kalau melebihi dari yang dijelaskan dalam ajaran sunnah berarti terlalu panjang. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam: “Kalau salah seorang di antara kalian mengimami jamaah, hendaknya ia melakukan shalatnya dengan ringkas.”
Kedua: Ringkas insidentil. Yakni shalat ringkas karena adanya sebab tertentu, misalnya adalah hal yang mengharuskan si imam shalat lebih ringkas lagi dari yang ditegaskan dalam ajaran sunnah, ia terpaksa melakukan shalat lebih ringkas. Dalilnya adalah ketika Nabi melakukan shalat ringkas begitu beliau mendengar tangisan bayi, karena khawatir menyusahkan ibu anak tersebut.”
Kedua jenis shalat ringkas tersebut sesuai dengan ajaran sunnah.
5. Melakukan rakaat pertama lebih panjang dari rakaat kedua.
Dalilnya adalah hadits Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan: “Ketika iqamah untuk shalat Zhuhur telah dikumandangkan, salah seorang jamaah keluar ke Baqi’ (sebuah tanah lapang) untuk buang air, kemudian ia sempat menemui istrinya dan berwudhu baru kembali ke masjid. Ternyata Rasulullah masih dalam rakaat pertama, karena saking panjangnya.”
6. Memperpanjang dua rakaat pertama dan memperpendek dua rakaat terakhir pada setiap shalat.
Dasarnya adalah hadits Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Sa’ad radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Umar bin Al-Khaththab: “Saya biasa melakukan shalat seperti shalat Rasulullah. Saya memperpanjang dua rakaat pertama dan memperpendek dua rakaat terakhir. Saya tidak mengurangi sedikit pun dari cara yang saya tiru dari shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.”
7. Memperhatikan kepentingan para makmum tapi tidak menyelisihi ajaran sunnah.
Dasarnya adalah hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, dimana Rasulullah memperhatikan kepentingan jamaah sehingga beliau menangguhkan shalat Isya bila jamaah belum berkumpul. Jabir menceritakan: “Beliau melaksanakan shalat Isya pada waktu yang berbeda-beda. Bila beliau melihat jamaah sudah berkumpul, beliau mempercepat pelaksanaan shalat jamaah. Kalau beliau melihat bahwa jamaah terlambat, maka beliau juga mengundurkannya.” Shalat Isya di sini memang disunnahkan untuk dilakukan lebih malam. Namun Nabi memperhatikan kondisi para makmum agar tidak menyusahkan mereka, sehingga beliau melakukannya lebih cepat bila mereka telah berkumpul. Adapun selain shalat Isya, selalu beliau lakukan di awal waktu, terkecuali shalat Zhuhur bila panas terlalu terik.
Dengan demikian jelas bahwa kondisi para makmum juga harus diperhatikan oleh imam, selama tidak bertentangan dengan ajaran sunnah. Di antara indikasi adanya perhatian tersebut dari Rasulullah adalah bahwa beliau meringkas shalat begitu mendengar tangis anak kecil, khawatir kalau menyusahkan ibunya. Demikian juga beliau memperpanjang rakaat pertama shalat agar jamaah yang terlambat tidak ketinggalan rakaat pertama. Nabi juga pernah menunggu jamaah kedua dalam shalat khauf. Pelajaran yang bisa diambil dari semua perbuatan Nabi itu adalah disunnahkannya menunggu makmum yang baru masuk shalat pada waktu ruku’ agar tidak ketinggalan ruku’, tentunya bila tidak menyusahkan para makmum lainnya. Wallahu a’lam.
8. Tidak shalat sunnah di tempat melakukan shalat wajib.
Dasarnya adalah riwayat Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu secara marfu’:
عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ يُصَلِّى الإِمَامُ فِى الْمَوْضِعِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ حَتَّى يَتَحَوَّلَ ( رواه أبو داود )
Dari Al-Mughirah bin Syu’bah berkata : Rasulullah saw. Berkata “Janganlah imam shalat (sunnah) di tempat ia shalat wajib, tetapi harus bergeser.” (H.R. Abu Dawud)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu juga diriwayatkan bahwa beliau menyatakan, dimakruhkan imam untuk shalat sunnah di tempat ia shalat wajib, tetapi beliau menganggap boleh-boleh saja bagi selain imam.
Dari Said bin Al-Musayyab dan Hasan Al-Bashri diriwayatkan bahwa mereka lebih senang bila imam maju ke depan setelah salam.
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu menandaskan: “Adam meriwayatkan kepada kami: Syu’bah menceritakan sebuah riwayat kepada kami, dari Ayyub, dari Nafi’ bahwa ia menceritakan: Ibnu Umar pernah melakukan shalat sunnah di tempat beliau shalat wajib. Perbuatan itu juga dilakukan oleh Al-Qaasim, bahwa menyebutkan riwayat marfu’ dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam:
“Janganlah seorang imam shalat di tempat dia shalat wajib,” tetapi riwayat itu tidak shahih.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menandaskan: “Tujuan dimakruhkannya imam shalat sunnah di tempat ia shalat wajib adalah karena dikhawatirkan tidak dapat dibedakan antara shalat wajib dengan shalat sunnah..”
Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Ini mengandung dalil yang menunjukkan kebenaran pendapat sahabat-sahabat kami bahwa shalat sunnah rawatib dan shalat sunnah lainnya, disunnahkan untuk dilaksanakan di tempat yang berbeda dengan shalat wajib. Dan lebih baik lagi bila dilakukan di rumah, atau paling tidak di tempat lain di masjid atau di luar masjid agar bisa dibedakan bentuk shalat sunnah dengan shalat wajib. Arti ucapan: “…sebelum berbicara,” menunjukkan bahwa pemisahan antara shalat wajib dengan shalat sunnah bisa juga dilakukan dengan berbicara. Akan tetapi lebih baik bila dilakukan dengan cara bergeser, berdasarkan apa yang telah kami jelaskan. Wallahu a’lam.
Namun pendapat yang tepat adalah mendahulukan dzikir yang disunnahkan dengan penjelasan tambahan dari berbagai riwayat shahih tentang dzikir-dzikir itu seusai shalat langsung.” Kemudian beliau (Ibnu Hajar) berkata: “Adapun shalat yang tidak disyariatkan shalat sunnah rawatib sesudahnya, boleh saja imam dan para makmumnya menyibukkan diri dengan membaca dzikir-dzikir yang disunnahkan, tidak ditetapkan tempatnya, bila mau mereka bisa bergeser terlebih dahulu lalu berdzikir, tetapi kalau mereka mau mereka juga bisa tetap di tempat mereka dan berdzikir..”
9. Diam di tempat sejenak setelah salam.
Dasarnya adalah hadits Ummu Salamah yang menceritakan: “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam apabila salam (dalam shalat), kaum wanita berdiri ketika beliau selesai salam, lalu beliau diam sejenak sebelum berdiri.” Dalam lafazh lain disebutkan: “Ketika Rasulullah salam, kaum wanita bergerak keluar masjid dan menuju rumah-rumah mereka sebelum Rasulullah bergerak bangkit.”
Ibnu Syihab: “Saya berpendapat bahwa senjang waktu ketika Rasulullah diam adalah untuk memberi kesempatan kaum wanita keluaq sehingga tidak sempat terlihat oleh makmum yang hendak bergerak keltar.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menyatakan: “Hadits itu mengindikasikan bahwa seorang imam itu harus memperhatikan kondisi makmum, dan berwaspada menghindari segala hal yang dapat menggiring kepada perbuatan haram. Hadits itu juga mengindikasikan agar kita menghindari tempat terjadinya fitnah, khawatir bercampurnya kaum lelaki dengan kaum wanita di jalan menuju rumah-rumah mereka.”
Sementara dalam lafazh An-Nasa’i menyebutkan: “Bahwa kaum wanita di zaman Rasulullah apabila salam langsung bangkit meninggalkan shalat, sementara Rasulullah bersama para makmum lelaki tetap di tempat mereka sampai batas waktu tertentu. Apabila Rasulullah bangkit, para makmum lelaki juga ikut bangkit bersama beliau.”
10. Menghadap ke arah makmum seusai salam.
Dasarnya adalah hadits Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan: “Dahulu apabila Rasulullah selesai melaksanakan shalat, beliau menghadap ke arah kami.”
Artinya, apabila beliau selesai shalat dan salam, beliau menghadap ke arah makmum. Karena posisi imam yang membelakangi makmum adalah karena posisinya sebagai imam. Kalau sudah selesai shalat, hak untuk membelakangi makmum itu sudah tidak ada lagi. Maka dengan menghadap ke arah makmum pada saat itu, akan tertepislah kesombongan dan sikap takabbur di hadapan makmum. Wallahu a’lam.
11. Imam tidak boleh mengkhususkan doa baginya, lalu diamini oleh para makmum sekalian.
Dasarnya adalah hadits Abu Hurairah secara marfu’ (bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda):
“Dan tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk mengimami sekelompok orang tanpa izin mereka. Dan janganlah ia mengkhususkan doa untuk dirinya sendiri tanpa melibatkan orang lain… Kalau ia melakukan hal itu juga, berarti ia telah berkhianat kepada mereka.”
12. Imam tidak boleh shalat di tempat yang terlalu tinggi dibandingan dengan tempat makmum.

Imam tidak boleh shalat di tempat yang terlalu tinggi dibandingan dengan tempat makmum kecuali kalau ada sebagian shaf bersama imam, bila demikian tidak menjadi masalah. Adapun makmum, tidak dilarang kalau berada di tempat yang lebih tinggi dari tempat imam.
13. Imam tidak boleh berada di tempat yang tidak terlihat oleh seluruh makmum.
14. Tidak terlalu lama duduk menghadap kiblat setelah salam.
Dasarnya adalah hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan: “Rasulullah biasanya hanya duduk sebatas beliau bisa mengucapkan:
‘Allahumma antassalam wa minkas salaam tabarakta ya dzal jalali wal ikram.’
Kemudian beliau langsung menghadap ke arah makmum sebagaiman disebutkan dalam hadits Samurah radhiyallahu ‘anhu.”
15. Menghadap ke arah makmum setelah salam, terkadang melalui kanan dan terkadang melalui kiri.
Kedua-duanya tidak menjadi masalah. Dasarnya adalah hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan: “Janganlah seorang di antara kalian memberikan sebagian shalatnya kepada setan kalau ia berpandangan bahwa ia hanya berpaling dari shalatnya melalui sebelah kanan. Karena aku melihat seringkali Rasulullah berpaling melalui sebelah kiri.” Dalam lafazh Muslim disebutkan: “Kebanyakan aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berpaling dari shalatnya melalui sebelah kiri.”
Dari Anas bin Malik diriwayatkan bahwa ia menceritakan: “Adapun saya, kebanyakan yang saya lihat, Rasulullah meninggalkan shalat melalui sebelah kanan beliau.” Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Rasulullah biasa berpaling dari shalat melalui sebelah kanannya.”
Imam An-Nawawi rahimahullahu menandaskan: “Cara mengorelasikan antara kedua hadits tersebut adalah bahwa Rasulullah terkadang melakukan yang pertama (berpaling dari kanan) dan terkadang yang kedua (dari sebelah kiri). Masing-masing sahabat menceritakan mana yang menurut pendapatnya lebih sering dilakukan oleh Rasulullah sebatas yang dia ketahui, sehingga menunjukkan kedua-duanya boleh. Tidak ada yang dilarang. Adapun konsekuensi ucapan Ibnu Mas’ud yang mengatakan dilarang, bukanlah karena asal dari berpaling dari shalat melalui sebelah kanan atau kiri, tetapi itu bagi yang berpendapat bahwa itu satu keharusan. Kalau seseorang yakin bahwa salah satu dari keduanya itu wajib, maka ia keliru. Oleh sebab itu beliau menjelaskan: “…kalau ia berpandangan bahwa ia hanya berpaling dari shalatnya melalui sebelah kanan.”
Beliau mengecam orang yang mengharuskan demikian. Madzhab kami adalah bahwa tidak ada salah dari kedua cara itu yang dilarang. Akan tetapi disunnahkan berpaling melalui arah yang diperlukan, melalui kanan atau melalui kiri. Kalau kedua arah itu sama-sama diperlukan atau sama-sama tidak diperlukan maka yang lebih baik adalah sebelah kanan berdasarkan keumuman hadits-hadits yang secara tegas menceritakan keutamaan ‘kanan’ dalam hal yang berkaitan dengan kemuliaan dan sejenisnya. Inilah pendapat yang paling tepat berkaitan dengan kedua hadits ini. Ada juga pendapat yang berlawanan dengan pendapat yang benar ini. Wallahu a’lam.”
16. Membuat sutrah (penghalang di depan), karena akan menjadi sutrah baginya dan bagi para makmum di belakangnya.
Dasarnya ialah hadits Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu secara marfu’:
“Apabila salah seorang di antara kalian shalat, hendaknya ia shalat menghadap sutrah dan hendaknya mendekat ke arah sutrah tersebut.”
Demikian juga karena Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah berjalan menunggang keledainya di depan sebagian shat, kemudian beliau turun dari keledainya. Dan tak seorang pun menyalahkan beliau. Karena sutrah bagi imam adalah sutrah bagi para makmum yang berada di belakangnya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
B. ADAB KHATIB

Adab khutbah Jum’at dapat diartikan sebagai sekumpulan tatacara khutbah Jum’at, syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, dan hal-hal yang disunnahkan padanya1.
Kata “adab” (jamaknya “aadaab”) dalam bahasa Arab mempunyai beberapa makna, di antaranya adalah sejumlah tatacara yang selayaknya dilaksanakan oleh orang yang mempunyai pekerjaan / profesi (fan) atau aktivitas/tugas (shina’ah/tashurruf) tertentu. Misalnya, abad-adab Qadly (hakim) atau Khatib (penulis / pengarang). Lihat Al Mu’jamul Wasith, Dr. Ibrahim Anis dkk., hal. 9-10. Lihat Kamus Al Munawwir, Ahmad Warson Munawwir, jal. 14, 115, dan 853.
Dengan pengertian tersebut, maka adab-adab khutbah Jum’at di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Disunnahkan bagi khatib untuk memberi salam ketika masuk masjid dan ketika naik mimbar sebelum khutbah. Ibnu Umar RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW jika masuk masjid pada hari Jum’at memberi salam pada orang-orang yang duduk di sisi mimbar dan jika telah naik mimbar beliau menghadap hadirin dan mengucapkan salam. (HR. Ath Thabrani)6
2. Disunnahkan bagi khatib untuk berkhutbah di atas mimbar, sebab Nabi SAW dahulu berkhutbah di atas mimbar10.
3. Disunnahkan bagi khatib untuk duduk pada anak tangga mimbar yang paling atas, sebab Nabi SAW telah mengerjakan yang demikian itu11.
4. Disunnahkan bagi khatib untuk mengeraskan suaranya pada khutbahnya (selain rukun-rukun khutbah)12. Diriwayatkan dari Jabir RA, bahwa jika Rasulullah berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya keras, dan nampak sangat marah, sampai beliau seperti orang yang sedang menghasungkan pasukan (untuk berperang) (HR. Muslim dan Ibnu Majah)13.
5. Disunnahkan bagi khatib untuk bersandar / berpegangan pada tongkat atau busur panah14. Ini sesuai riwayat Al Hakam bin Hazan RA yang mengatakan bahwa dia melihat Rasulullah SAW berkhutbah seraya bersandar pada busur panah atau tongkat (HR. Ahmad dan Abu Dawud)15.
6. Disunnahkan bagi khatib untuk memendekkan khutbahnya (tidak berpanjang-panjang atau bertele-tele)16. Diriwayatkan dari Amar bin Yasir RA, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya lamanya shalat dan pendeknya khutbah seseorang, adalah pertanda kepahamannya (dalam urusan agama). Maka panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah !” (HR. Ahmad dan Muslim)
7. Dibolehkan bagi khatib untuk memberi isyarat dengan telunjuknya pada saat berdoa mengingat Rasulullah pernah mengerjakannya. Demikian menurut Imam Asy Syaukani-18.
8. Kedua khutbah wajib memperbincangkan salah satu urusan kaum muslimin19, yakni peristiwa atau kejadian yang sedang terjadi di kalangan kaum muslim dalam berbagai aspeknya. Hal ini mengingat Rasulullah SAW dan para khalifahnya dahulu –yang senantiasa menjadi khatib– sesungguhnya berkedudukan sebagai pemimpin politik (Al Qaid As Siyasi) bagi kaum muslimin.
Maka dari itu, perkara khatib saat ini pun seharusnya juga mengaitkan khutbahnya dengan realitas atau problem kontemporer yang ada di kalangan kaum muslimin, dan tidak sekedar mengulang-ulang khutbah yang kurang memberi kesadaran bagi hadirin, dengan tema yang itu-itu saja yang tentu akan membuat hadirin jemu, mengantuk, atau bahkan tertidur. Wallahu a’lam. [Muhammad Shiddiq Al Jawi – Dosen Jurusan Ekonomi Islam STAIN Surakarta-SEM Institute ]
PUSTAKA :
1. Lihat Ahkamush Shalat, Ali Ar Raghib, hal. 104
2. Lihat Rohmatul Ummah, (terjemahan), hal. 105
3. Ibid., hal. 105.
4. Lihat Nailul Authar, Imam Asy Syaukani, jilid III/304, Syarah As Sunnah, Imam Al Baghawi, jilid IV / 24-27, Majma’uz Zawaid, Al Haitsami, II/187, Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq, jilid I/262.
5. Lihat Majma’uz Zawaid, jilid II/184, Fiqih Sunnah, jilid I/260.
6. Lihat Al Fiqih ‘Ala Al Madzahib Al ‘Arba’ah, Abdurrahman Al Jaziri, jili I/390.
7. Perhatikan rinciannya dalam Al Fiqih ‘Ala Al Madzahibi Al ‘Arba’ah, jilid I/391-392.
8. Lihat Al-Fiqih ‘Ala Al Madzahibi Al ‘Arba’ah, jilid I/392
9. Lihat Ahkamush Shalat, hal. 104 , Syarah Sunnah, jilid II/242 dan 244, Majma’uz Zawaid, jilid II/183
10. Lihat Ahkamush Shalat, hal. 104.
11. Lihat Ahkamush Shalat, hal. 105, Fiqih Sunnah, jilid I/262. Nailul Authar, jilid III/307.
12. Lihat Nailul Authar, jilid III/307, Fiqih Sunnah, jilid I/263.
13. Lihat Ahkamush Shalat, hal. 104.
14. Lihat Nailul Authar, jilid III/305. Menurut Asy Syaukani, Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan, isnad hadits ini hasan.
15. Lihat Ahkamush Shalat, hal. 105, Fiqih Sunnah, jilid I/263, Nailul Authar, jilid III/305-307.
16. Lihat Majma’uz Zawaid, jilid II/190. Syarah Sunnah, jilid II/251.
17. Lihat Nailul Authar, jilid III/308, Syarah Sunnah, jilid II/255.
18. Lihat Ahkamush Shalat, hal. 104.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

PEMAHAMAN JIHAD SECARA BENAR UNTUK MENANGGULANGI TERORISME DAN RADIKALISME

 

 

 

Dasa Pemikiran

 

  1. Terorisme, radikalisme,  dan aksi kekerasan lainnya sering melibatkan anak-anak remaja, seperti aksi pengeboman yang baru-baru ini terjadi, padahal mereka adalah generasi muda harapan bangsa, yang akan memegang estafet kepemimpinan masa depan.
  2. Anak remaja sangat rentan menjadi sasaran indoktrinasi terorisme dan radikalisme yang mengatasnamakan agama. Pencarian jati diri dan labilnya mental, menjadikan mereka mudah menerima tawaran, dan menetukan pilihan yang salah : menjadi orang kafir atau menjadi orang muslim sejati (kafah) dengan istisyhad (kemulyaan mati syahid, jika ia mati karena aksinya itu, maka ia yakin mendapatkan gelar syahid, dengan jaminan masuk surga).
  3. Jargon ‘isy kariman aw mut syahidan’ (hiduplah dengan mulya dan matilah dalam keadaan syahid)ini juga nampaknya sering disalah pahami sebagai landasan dalam melancarkan aksi-aksi kekerasan dalam memberantas kema’shiyatan dan kemungkaran. 
  4. Semangat jihad (berjuang membela agama Allah)  yang dimiliki oleh genersai muda adalah hal yang sangat positif, selama jihad tidak disalah pahami. Salah dalam memahami jihad merupakan suatu hal yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Seperti menghalalkan bahkan menganjurkan istisyhad dengan bom bunuh, tujuan membunuh orang-orang yang dianggap oelh mereka sebagai orang kafir, atau bersekongkol dengan orang kafir.
  5. Al-Qur’an adalah merupakan kitab suci umat Islam, sebagai pedoman hidup yang harus dipahami secara benar.
  6. Banyak hal yang menyebabkan terjadinya terorisme dan radikalisme, termasuk diantaranya adalah ketidak adilan, kamiskinan, fanatisme agama suku dan ras, idiologi serta pemahaman yang keliru terhadap nilai-nilai agama.
  7. Pemahaman yang salah terhadapa ayat-ayat al-Qur’an, terutama tentang jihad dan perang adalah salah satu penyebab terjadinya radikalisme dan terorisme. Padahal banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menekankan toleransi dalam jihad dan da’wah. Lemah lembut dan hikmah (bijaksana) dalam menyampaikan kebenaran. Kepada umat khususnya generasi muda harus diberikan Pemahaman al-Qur’an yang  komprehensip.
  8. Agama manapun, umatnya memiliki potensi untuk melakukan radikalisme dan terorisme. Hal ini dapat terjadi disebabkan pemahaman yang salah terhadap nilai-nilai agamanya.
  9. Terlepas dari adanya rekayasa dari pihak manapun dan terlepas dari faktor-faktor yang lain, sesungguhnya potensi terjadinya pemahaman yang salah terhadap ajaran Islam dapat menyebabkan munculnya terorisme dan radikalisme di kalangan umat Islam. ini adalah hal yang realistik.
  10. Apabila hal ini tidak diakui oleh umat Islam, dan mengganggap bahwa terjadinya radikalisme dan teorisme hanya disebabkan rekayasa dan hal-hal  lain, maka tidak akan ada upaya untuk meluruskan pemahaman yang salah tersebut.

 

  1. Banyak ayat al-Qur’an dan hadits yang harus dipahami secara benar, antara lain :

        a. Ayat-ayat al-Qur’an banyak berbicara mengenai jihad dan perang, seruan     memerangi orang-orang kafir dan musyrik.

    1.  Penerapan hukum Allah, yang tidak menerapkan hukum Allah , adalah orang kafir, zhalim dan fasiq.
    2. Hadits Nabi tentang nahi munkar.
    3. Dan lain-lain

 

  1. Pemahaman al-Qur’an secara benar haruslah ditanamkan kepada generasi muda, terutama di kalangan pelajar (SMA dan sederajat). Dengan minimnya pelajaran agama di sekolah, maka potensi ke arah pemahaman yang salah terhadap ajaran Islam menjadi lebih besar.
  2. Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA dan sederajat juga harus  diberi muatan yang cukup tentang tema-tema penting terkait jihad, toleransi, dan wawasan kebangsaan. Kemudian dilengkapi dengan silabus dan penjelasan yang komprehensip.   
  3. Kurikuum Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA dan sederajat selama ini telah mengandung muatan tafsir al-Qur’an dengan tema-tema yang mendekati jihad, tapi nampaknya belum tersaji secara lengkap, khususnya yang terkait dengan definisi jihad yang benar dan yang salah.Wawasan kebangsaan dalam ajaran Islam. Tolernsi dan pluralitas.
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

DOSA SOSIAL DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN

DOSA SOSIAL DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN

Abdur Rokhim Hasan

 

 

Pengantar

 

       Manusia terlahir suci dari dosa, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi “ setiap anak dilahirkan dalam keaadaan suci, kemudian kedua orang tuanya menjadikannya yahudi, nashrani atau majusi (H.R. Bukhari dan Muslim).

      Manusia pada umumnya tidak mau menyandang dosa (di mata manusia), karena seseorang yang menyandang dosa berarti ia dalam posisi salah, kotor, dicap manusia tidak baik. Maka banyak manusia secara tidak langsung mengklim bahwa dirinya bersih dari dosa. Manusia berdosa berarti manusia melakukan kesalahan. Kesalahan yang ia lekukan bisa berhubungan dengan Allah swt. bisa juga behubungan dengan manusia atau makhluk lainnya. Walaupun kesalahan yang dilakukan tehadap makhluk Allah berarti juga melakukan kesalahan kepada Allah swt. Bila dibedakan sesuai dengan jenisnya, ada  haq Allah dan ada haq adami, maka adakesalahan yang langsung berhubungan dengan Allah swt.dan ada kesalahan yang terkait dengan manusia atau makhluk lainnya.

        Pada umumnya, kesalahan (dosa) yang langsung berhubungan dengan Allah swt.  tidak diketahui oleh manusia. Tetapi anehnya, kesalahan seperti ini pada umumnya banyak yang lebih takut. Sementara yang berhubungan dengan manusia atau makhluk lainnya, manusia lebih berani melakukannya. Banyak diantara manusia melanggar hak-hak orang lain, kemudian ia enggan untuk minta maaf kepadanya.  Karena dengan meminta maaf akan diketahui oleh orang lain kesalahan dan dosanya  itu, minimal oleh orang yang diminta maaf. Mereka tidak mau menyandang dosa, Sebagian ada yang melakukannya tetapi ia tidak merasa berdosa, mungkin karena tidak disengaja. Sedang sebagaian yang lain, dengan beraninya,  melakukannya karena berkeyakinan bahwa segala dosa mudah dihapus atau mendapatkan ampunan dari Allah swt.

        Banyak orang yang beranggapan, bahwa membersihkan dirinya dari dosa melalui taubat “mohon ampun kepada Allah swt.” atau dengan melaksanakan ibadah, lebih-lebih ibadah yang berskala besar, seperti haji dan sedekah dalam jumlah yang banyak, dianggap dapat menghapus dosa, baik itu dosa besar atau kecil, dosa hubungannya dengan Allah secara langsung maupun dosa yang ada hubungannya dengan manusia. Mereka beranggapan, bahkan mungkin sampai berkeyakinan, bahwa Allah swt. adalah Maha Penerima Taubat (al-Tawwab), Maha Pengampun (al-Ghafur, al-Ghaffar ). Dengan keyakinan itu maka seluruh dosa manusia, sebesar apapun akan diampuni oleh Allah swt.

       Di masyarakat pada umumnya, seseorang mudah sekali melakukan dosa, karena memiliki anggapan atau bahkan keyakinan, bahwa dosa apapun akan mudah dihapuskan, melalui taubat kepada Allah swt.  bahkan dosa mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak halal sekalipun, seperti mencuri, manipulasi dan korupsi,  mereka beranggapan bahwa harta haram itu bisa disucikan dengan menginfakkan sebagian harta hasil curiannya tersebut, teutama kepada anak-anak yatim, sekaligus dapat membersihkan dirinya dari dosa dan menyelamatkannya dari sial. Maraknya tindak pidana korupsi bukanlah dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan agama, tetapi banyak dilakukan oleh orang-orang yang pandai. Apakah faktor yang menyebabkan mereka berani melakukan tindak pidana dan dosa itu ? Mungkin ada banyak faktor, antara lain ; tuntutan kebutuhan ekonomi, ingin hidup mewah demi gengsi, tuntutan lingkungan kerja, yang ia tidak bisa menghindar darinya, karena laksana lingkaran syetan, atau karena ia berkeyakinan mudahnya mengahapuskan dosa-dosa, apapun bentuk dosa, karena Allah swt. Maha pengampun dan maha pemurah.

      Persepsi tentang pengahapusan dosa seperti ini, perlu dikaji dan dipahami secara benar sehingga manusia tidak mudah melakukakan dosa. Di sisi lain juga tidak mudah berputus asa, karena sulitnya mendapatkan ampunan. Dengan mengkaji macam-macam dosa dan bagaimana cara menghapuskannya atau bertaubat dari dosa tersebut, maka akan memberikan gambaran yang jelas sekaligus memberikan pencerahan kepada umat. Pertanyaannya adalah, Mudahkah manusia bartaubat dari semua dosa, baik itu dosa besar maupun dosa kecil, Bagaimanakah bartaubat dari dosa, terutama dosa yang terkait dengan manusia (haq adami), apakah sama dengan bertaubat dari dosa yang terkait dengan Allah (haqqullah). Apa dampak negatif dan bahayanya kedua dosa itu bagi manusia di dunia maupun di akhirat.

Dari permasalahan-permaslahan dosa tersebut, Penulis akan mencoba mengkajinya, terutama dosa sosial yang dijelaskan dalam al-Qur’an.

 

Pengertian Dosa   

 

       Kata dosa tejemahan dari kata al-dzanb, al-itsm,al-jurm,dan al-wizr. Sedangkan kata al-dzanb di dalam beberapa kamus bahasa arab dijelaskan; memiliki makna yang sama dengan al-itsm, al-jurm, dan al-ma’shiyah, ya’ni perbuatan yang tidak halal[1][1]. Dalam Ensiklopedi Iswlam disebutkan : Dosa adalah perbuatan yang melanggar hukum, baik hukum Tuhan (agama), hukum adat atau hukum negara. Secara istilah dosa dipahami sebagai pelanggaran terhadap hukum agama. Dalam istilah fiqih, dosa berkaitan dengan siksa (penderitaan sebagai hukuman)[2]. Ibn Manzhur mendefinisikan, dosa adalah melakukan sesuatu yang tidak halal[3].  Al-Jurjani menjelaskan dalam kitabnya al-Ta’rifat, : al-itsm adalah sesuatu yang harus dijauhi menurut syari’at maupun naluri manusia[4]. Pengertian yang disampaikan oleh Al-Jurjani ini berdekatan dengan pengertian al-itsm yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. bahwa al-itsm (dosa) adalah sesuatu kebimbangan di dalam hati dan tidak mau dilihat orang lain, sebagaimana Hadits berikut ini :

 .

عن النواس بن سمعان الأنصاري قال : سألت النبي صلى الله عليه و سلم عن البر و الإثم قال : البر حسن الخلق و الإثم ما حاك في صدرك و كرهت أن يطلع عليه الناس[5]    (رواه الحاكم )

“Diriwayatkan dari Al-Nawwas Ibn Sam’an al-Anshari, berkata ; Saya bertanya kepada Rasulullah saw. Tentang kebaikan dan dosa. Lalu Rasulullah saw. Menjawab : kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa yang bergetar  (bimbang) di dalam dadamu dan kamu tidak suka orang lain melihat perbuatan itu (H.R. Al-Hakim).

 

Dari kata-kata yang memiliki arti dosa tersebut, yang banyak digunakan di dalam al-Qur’an, penulis akan menjelaskannya, untuk mendapatkan gambaran tentang arti dosa :

 

  1. Al-Itsm

 

     Kata al-Itsm disebut dalam al-Qur’an sebanyak 45 kali, dan yang terbanyak di surat al-Baqarah, disebut sebanyak 12 kali. Yaitu al-Baqarah : 85, 173, 181, 182, 182, 188, 203, 206, 219, 219, 276, dan 283.  Kata al-itsm adalah satu-satunya kata yang memiliki ma’na dosa, yang di dalam al-Qur’an menguraikan jenis-jenis kesalahan dan kejahatan yang berbuah dosa yang kemudian disebut dengan al-itsm. Kata al-itsm baik yang terdapat di dalam surat al-Baqarah maupun lainnya, memiliki ma’na dosa yang dikaitkan dengan sosial (dosa sosial).

b. Al-Dzanb.

     Kata al-dzanb disebut di dalam al-Qur’an sebanyak 38 kali. Kata ini tidak terdapat di dalam surat al-Baqarah, yang paling banyak disebutkan di surat Ali Imran sebanyak 7 kali, di Surat Ghafir atau al-Mu’min sebanyak 4 kali, yang menggunakan kata mufrad (single) sebanyak 11 kali sedang yang berbentuk jam’ sebanyak 25 kali. Kata al-dzanb digunakan oleh al-Qur’an untuk menjelaskan dosa kaitannya dengan siksaan dan ampunan, yang terkait dengan siksaan seperti dalam surat Ali Imran : 11:

 

É>ù&y‰Ÿ2 ÉA#uä tböqtãóÏù tûïÏ%©!$#ur `ÏB óOÎgÎ=ö6s% 4 (#qç/¤‹x. $uZÏG»tƒ$t«Î/ ãNèdx‹s{r’sù ª!$# öNÍkÍ5qçRä‹Î/ 3

ª!$#ur ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$#

“(keadaan mereka) adalah sebagai Keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. dan Allah sangat keras siksa-Nya (Q.S.Ali Imran : 11).

 

Penyebutan 6 kali yang lain di dalam surat Ali Imran terkait dengan ampunan, seperti pada Ali Imran  : 16 :

 

 

šúïÏ%©!$# tbqä9qà)tƒ !$oY­/u‘ !$oY¯RÎ) $¨YtB#uä öÏÿøî$$sù $uZs9 $oYt/qçRèŒ $uZÏ%ur z>#x‹tã ͑$¨Z9$#  

“(yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah beriman, Maka ampunilah segala dosa Kami dan peliharalah Kami dari siksa neraka,” (Q.S.Ali Imran : 16).

 

c. Al-Jurm

 

 Kata al-jurm disebut sebanyak 65 kali. Banyak yang berbentuk jama’ mudzakkar salim ( مجرمون ) berjumlah 49 kata. Banyaknya bentuk kata ini menggambarkan bahwa kata al-jurm dipakai di dalam al-Qur’an untuk menggambarkan para pelaku dosa, bukan jenis-jenis dosa sebagaimana diungkapkan kata al-itsm. Kata al-jurm  juga digunakan untuk menjelaskan ancaman siksa yang diterima, seperti dalam Surat Maryam ayat 86  :

ä-qÝ¡nSur tûüÏB̍ôfßJø9$# 4’n<Î) tL©èygy_ #YŠö‘Ír  ( مريم : 86 )  

“dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam Keadaan dahaga”(Q.S. Maryam : 86).

 

d. Al-Wizr

 

     Kata  Al-wizr yang memiliki ma’na dosa disebut sebanyak 11 kali. Dalam al-Qur’an ada ungkapan dalam al-Qur’an yang menggunakan kata al-wizr, ya’ni   لا تزر وازرة وزر أخرى   diulang sebanyak 5 kali. Pada Al-An’am 164, 

Ÿwur â‘Ì“s? ×ou‘Η#ur u‘ø—Ír 3“t÷zé& 4

“dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”(Q.S.al-An’am : 164)

 

Al-Isra’ : 15, Fathir : 18, Al-Zumar : 7,  dan Al-Najm : 38.

 

 

        Dengan diulang-ulangnya kata  al-wizr tersebut memberikan pemahaman bahwa kata al-wizr, disamping memiliki ma’na dosa, juga memiliki ma’na beban. Maka kedua ma’na itu bisa disatukan, bahwa penjelasan dosa yang menggunakan kata al-wizr di dalam al-Qur’an lebih dekat kepada ma’na beban dosa yang ditanggung oleh seseorang dan tidak bisa dibebankan atau dialihkan bebannya kepada orang lain.

Perbedaan antara kata al-itsm, al-dzanb, dan al-jurm dalam al-Quran :.

  1. Kata al-itsm banyak digunakan di dalam al-Qur’an, yang memiliki ma’na dosa, yang diuraikan kesalahannya di dalam ayat tersebut dan paling banyak terkait dengan dosa sosial.
  2. Kata al-dzanb banyak digunakan di dalam al-Qur’an dengan menggunakan bentuk jam’ (   ذنوب)  sementara kata alitsm banyak mnggunakan kata mufrad (   إثم  )
  3. Kata al-dzanb banyak digunakan di dalam al-Qur’an terkait dengan siksaan dan ampunan Allah swt. kepada pelakunya.
  4. Kata al-itsm sebagian besar tedapat dalam surat al-Baqarah, surat yang banyak berbicara mengenai hukum dan sosial, sementara kata al-dzanb banyak terdapat pada surat ghafir (Pengampun) sesuai dengan kandungannya dan relevansinya, ya’ni berbicara mengenai siksaan dan ampunan.

Perbedaan ma’na antara beberapa kata tersebut :

  1. Perbedaan kata al-dzanb  dan al-jurm  menurut Abu Hilal Al-Askari adalah bahwa kata al-dzanb memiliki arti al-ittiba’ (mengikuti) maka berarti sesuatu kejelekan perbuatan seseorang yang mengikutinya, sedangkan kata al-jurm memiliki arti putus, dengan demikian maka berarti keburukan yang dengannya terputus suatu kewajiban[6].
  2. Perbedaan antara al-itsm dengan al-dzanb adalah bahwa al-itsm memiliki ma’na kurang, oleh karena itu di dalam al-Qur’an al-khamr disebut dengan itsm, karena al-khamr (perasan anggur) yang memabukkan itu dapat mengurangi akal.[7]

 

Macam-macam Dosa

 

  1. Dosa Besar dan Dosa Kecil

 

Apabila dilihat dari segi besar kecilnya, maka dosa terbagi menjadi dua, ada dosa besar dan ada dosa kecil. Al-Qur’an menjelaskan adanya dosa besar, pada surat an-Nisa’ 31 dengan kalimat  كبائر ما تنهون عنه , as-Syura 37 dan an-Najm 32 dengan kalimat كَبَائِرَ الْإِثْمِ , tetapi al-Qur’an tidak mendefinisikan dan merinci dosa-dosa besar. Al-Qurthubi mengutip pendapat Ibnu Abbas yang mendefinisikan dosa besar adalah setiap dosa yang diancam dengan neraka, murka, la’nat atau siksaan.[8] Al-Qurthubi juga menyimpulkan;

كل ذنب عظم الشرع التوعد عليه بالعقاب وشدده، أو عظم ضرره في الوجود كما ذكرنا فهو كبيرة وما عداه صغيرة.[9]

 

“dosa besar adalah setiap dosa yang diancam oleh syara’ dengan siksa atau besar bahayanya bagi kehidupan”.

       Al-Dzahabi mendefinisikan dosa besar, dalam bagian awal kitabnya al-Kabair ; Dosa besar adalah apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Namun kemudian ia menyimpulkan dan mendefinisikan ulang, bahwa dosa besar yaitu dosa yang diancam dengan hukuman di dunia, seperti pembunuhan, zina dan pencurian, atau ancaman di akhirat dengan siksa, atau murka, atau pelakunya dila’nat melalui hadits Nabi [10].

        Kalau dilihat dari segi jumlahnya, maka Ibnu Abbas mengatakan ; jumlah dosa besar kurang lebih 70 macam. Dosa-dosa yang yang tidak memenuhi kriteria di atas maka disebut dosa kecil.

  1. Dosa Sosial dan dosa ritual

      Dosa yang dilakukan seseorang terhadap orang lain, atau dosa yang terkait dengan haq adami  (hak antar sesama manusia) penulis sebut dengan Dosa Sosial. Disebut dosa sosial karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan seseorang baik secara individu maupun kelompok berhubungan dengan orang lain baik secara individu meupun kelompok. Sedangkan dosa ritual adalah dosa yang dilakukan manusia yang terkait dengan haqqullah  seperti meninggalkan shalat, puasa, haji dan sebagainya. Al-Qur’an banyak menjelaskan macam-macam dosa sosial, sedikit menjelaskan dosa ritual. Dari 70 macam dosa besar, sebagaimana yang diuraikan oleh Al-Dzahabi dalam kitabnya al-Kabair, ternyata dosa sosial jauh lebih banyak dibandingkan dosa ritual. Dosa sosial berjumalah 59 macam, sedang dosa ritual berjumlah 11 macam [11].

 

Macam-macam Dosa Sosial

       Dosa-dosa sosial yang yang dijelaskan oleh al-Qur’an jumlahnya sangat banyak, namun yang paling menonjol diungkap oleh al-Qur’an secara garis besarnya sebagai berikut :

a. Pembunuhan

       Orang yang membunuh orang lain adalah merupakan kejahatan yang sangat besar. Oleh karena itu al-Qur’an menjelaskan hukuman yang sangat berat bagi pelaku kejahatan kemanusiaan ini, ayang harus diterima di dunia, yaitu dengan qishash (pembalasan yang sama) berarti dengan dibunuh, sebagaimana dijelaskan pada surat al- Baqarah ayat 178-179

       Pelaku pembunuhan dan perusakan di muka  bumi ini juga mendapat dosa yang sangat besar, sebagaimana dijelaskan pada surat Al-Maidah ayat 32 :

 

“oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya [12]. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi”(Q.S. Al-Maidah : 32)

 

       Surat al-Baqarah ayat 85 , berbicara tentang pembunuhan dan kekerasan yang dilakukan oleh kaum yahudi sebelum Islam datang,

§NèO öNçFRr& ÏäIwàs¯»yd šcqè=çGø)s? öNä3|¡àÿRr& tbqã_̍øƒéBur $Z)ƒÌsù Nä3ZÏiB `ÏiB öNÏd̍»tƒÏŠ

tbrãyg»sàs? NÎgøŠn=tæ ÄNøOM}$$Î/ Èbºurô‰ãèø9$#ur

“kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan”

 

    Ayat ini berkenaan dengan cerita orang Yahudi di Madinah pada permulaan Hijrah. Yahudi Bani Quraizhah bersekutu dengan suku Aus, dan Yahudi dari Bani Nadhir bersekutu dengan orang-orang Khazraj. antara suku Aus dan suku Khazraj sebelum Islam selalu terjadi persengketaan dan peperangan yang menyebabkan Bani Quraizhah membantu Aus dan Bani Nadhir membantu orang-orang Khazraj. sampai antara kedua suku Yahudi itupun terjadi peperangan dan tawan menawan, karena membantu sekutunya. tapi jika kemudian ada orang-orang Yahudi tertawan, Maka kedua suku Yahudi itu bersepakat untuk menebusnya Kendatipun mereka tadinya berperang-perangan.

        Banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan tentang dosa pembunuhan, di antaranya Ali Imran : 21, An-Nisa’ : 92 – 93, al-An’am : 151, al-Isra’ : 33,  al-Furqan : 68.

 

b. Berbuat Kerusakan di Bumi

      Berbuat kerusakan di muka bumi adalah merupakan dosa sosial  yang mendapat ancaman dosa yang sangat berat. Banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang dosa sosial ini.  Paling sedikit ada 39 ayat yang menjelaskan tentang dosa dan larangan berbuat kerusakan di muka bumi.   Sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-Maidah ayat 33,  sebagai berikut :

 

$yJ¯RÎ) (#ätÂt“y_ tûïÏ%©!$# tbqç/͑$ptä† ©!$# ¼ã&s!qߙu‘ur tböqyèó¡tƒur ’Îû ÇÚö‘F{$# #·Š$|¡sù br& (#þqè=­Gs)ム÷rr& (#þqç6¯=|Áム÷rr& yì©Üs)è? óOÎgƒÏ‰÷ƒr& Nßgè=ã_ö‘r&ur ô`ÏiB A#»n=Åz ÷rr& (#öqxÿYムšÆÏB ÇÚö‘F{$# 4 šÏ9ºsŒ óOßgs9 ӓ÷“Åz ’Îû $u‹÷R‘‰9$# ( óOßgs9ur ’Îû ÍotÅzFy$# ë>#x‹tã íOŠÏàtã

 

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar(Q.S. Al-Maidah : 33)

 

        Larangan berbuat kerusakan di muka bumi juga dijelaskan pada ayat-ayat berikut :Al-Baqarah : 11, 12, 27, 30, 60, 205, 220, 251. Ali Imran : 63,  Al-Maidah : 64, Al-a’raf : 56, 74, 85, 86, 103, 127, 142. Yunus : 40, 81, 91.  Hud : 85 dan 116, Yusuf : 73, Al-Ra’d : 25. Al-Nahl : 88. Al-Isra’ : 4. Al-Kahf : 94. Al-anbiya’ : 22. Al-Mu’minun : 71, Al-Syu’ara’ : 152, 183. Al-Naml : 14, 34, 48, 4, Al-Qashash, 77, al-‘ankabut : 30, 36.  Shad : 28.  dan Surat Muhammad : 22.

 

c. Mengambil dan Memakan harta orang lain dengan cara yang bathil

 

        Mengambil  harta orang lain dengan cara yang batil (tidak benar), seperti mencuri, merampok, korupsi, dan sebagainya adalah merupakan kejahatan kemanusiaan, yang pelakunya mendapat hukuman yang sangat berat, yaitu dengan dipotong tangannya. sebagaimana dijelaskan di dalam Surat Al-Maidah ayat 38 :

 

ä-͑$¡¡9$#ur èps%͑$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym  

 

“laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(Q.S. Al-Maidah : 38).

 

       Pencurian yang disebutkan pada ayat tersebut mencakup segala jenisnya, termasuk menodong, merampok, dan korupsi. Hukuman yang begitu berat bagi pelaku pencurian sebagaimana dijelaskan pada ayat tersebut, bukan memberikan contoh kekerasan, akan tetapi hukuman potong tangan dipastikan oleh al-Qur’an sebagai cara yang efektif untuk melindungi manusia dari pelaku kejahatan harta ini.

 

        Ada beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan larangan memakan harta orang lain dengan cara yang bathil sepeti Surat al-Baqarah 188

 

Ÿwur (#þqè=ä.ù’s? Nä3s9ºuqøBr& Nä3oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ (#qä9ô‰è?ur !$ygÎ/ ’n<Î) ÏQ$¤6çtø:$# (#qè=à2ù’tGÏ9 $Z)ƒÌsù ô`ÏiB ÉAºuqøBr& Ĩ$¨Y9$# ÉOøOM}$$Î/ óOçFRr&ur tbqßJn=÷ès? ÇÊÑÑÈ  

“dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.”(Q.S. Al-Baqarah : 188)

 

     Lebih keras lagi dan secara tegas al-Qur’an menyatakan sebagai dosa besar adalah memakan harta anak yatim dengan cara bathil, sebagaimana dijelaskan dalam Surat An-Nisa ayat 2, 6 dan 10. Hal demikian sama dengan mengambil harta orang-orang yang lemah, seperti fakir miskin, orang yang terlantar, orang yang kena mushibah dan sebagainya. Al-Qur’an juga melarang memakan harta orang lain dengan cara batil di dalam perdagangan, sebagaimana dijelaskan dalam Surat An-Nisa’ ayat 29.  Ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang larangan dan dosa mengambil atau memakan harta orang lain dengan cara bathil adalah : Surat  An-Nisa’ :  161.  Al-Taubah : 34.

 

Termasuk dalam kategori mengambil atau memakan harta orang lain dengan cara bathil adalah riba. Riba sangat dilarang dalam al-Qur’an, sehingga pelaku riba disamakan dengan orang yang kesurupan :

“orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”(Q.S. Al-Baqarah : 275)

 

 

Riba termasuk mengembangkan harta dengan cara yang tidak halal, sehingga termasuk dalam katergori mengambil harta orang lain dengan cara bathil. Al-Qur’an menjelaskan dosa riba pada ayat-ayat berikut : Al-baqarah 276,  278.  Ali Imran : `130. An-Nisa’ :  161

 

  1. Menyakiti Orang Lain

 

       Al-Qur’an memberikan ajaran yang sangat mulia, sampai kepada menjaga hubungan yang baik dengan orang lain, dengan tidak menyakiti orang lain dengan cara apapun, baik dengan lisan, tangan, dan sebagainya. Salah satu ayat yang menjelaskan hal tersebut adalah  Surat al-Ahzab ayat 58 :

 

tûïÏ%©!$#ur šcrèŒ÷sムšúüÏZÏB÷sßJø9$# ÏM»oYÏB÷sßJø9$#ur ΎötóÎ/ $tB (#qç6|¡oKò2$# ωs)sù (#qè=yJtFôm$# $YZ»tFôgç/ $VJøOÎ)ur $YYÎ6•B

  

“dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.(Q.S. Al-Ahzab : 58)

 

       Al-Qur’an juga mengingatkan kepada orang-orang yang mampu memberi dan menolong kepada orang lain, baik dengan harta, tenaga, pikiran dan lainnya, agar tidak menyakiti orang yang diberi sadaqah atau bantuan, dan juga tidak mengungkit-ungkit pemberiannya itu.  Hal tersebut dijelaskan dalam ayat-ayat berikut ini :

 

tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZムöNßgs9ºuqøBr& ’Îû È@‹Î6y™ «!$# §NèO Ÿw tbqãèÎ7÷Gム!$tB (#qà)xÿRr& $xYtB Iwur “]Œr&   öNçl°; öNèdãô_r& y‰YÏã öNÎgÎn/u‘ Ÿwur ì$öqyz óOÎgøŠn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRt“óstƒ ÇËÏËÈ   ×Aöqs% Ô$rã÷è¨B îotÏÿøótBur ׎öyz `ÏiB 7ps%y‰|¹ !$ygãèt7÷Ktƒ “]Œr& 3 ª!$#ur ;ÓÍ_xî ÒOŠÎ=ym ÇËÏÌÈ   $yg•ƒr’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw (#qè=ÏÜö7è? Nä3ÏG»s%y‰|¹ Çd`yJø9$$Î/ 3“sŒF{$#ur “É‹©9$%x. ß,ÏÿYム¼ã&s!$tB uä!$sÍ‘ Ĩ$¨Z9$# Ÿwur ß`ÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# ( ¼ã&é#sVyJsù È@sVyJx. Ab#uqøÿ|¹ Ïmø‹n=tã Ò>#tè? ¼çmt/$|¹r’sù ×@Î/#ur ¼çmŸ2uŽtIsù #V$ù#|¹ ( žw šcrâ‘ωø)tƒ 4’n?tã &äóÓx« $£JÏiB (#qç7|¡Ÿ2 3 ª!$#ur Ÿw “ωôgtƒ tPöqs)ø9$# tûï͍Ïÿ»s3ø9$# ÇËÏÍÈ  

 

 

“orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”(Q.S. Al-Baqarah : 262-264)

 

Di dalam haditsnya, Rasulullah saw. Menegaskan

 

 

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ[13]  (رواه أحمدوابن ماجه)

 

“Jangan kamu menyengsarakan orang lain”(H.R. Ahmad dan Ibn Majah)

 

 

 

  1. Memutus Hubungan Silaturrahim

 

         Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam menjaga hubungan silaturrahim dengan anggota keluarga. Oleh karena itu memutus tali silaturrahim adalah merupakan dosa besar , sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat  berikut :

 

tûïÏ%©!$#ur tbqàÒà)Ztƒ y‰ôgtã «!$# .`ÏB ω÷èt/ ¾ÏmÉ)»sV‹ÏB šcqãèsÜø)tƒur !$tB ttBr& ª!$# ÿ¾ÏmÎ/ br& Ÿ@|¹qãƒ

 tbr߉šøÿãƒur ’Îû ÇÚö‘F{$#   y7Í´¯»s9’ré& ãNßgs9 èpoY÷è¯=9$# öNçlm;ur âäþqߙ ͑#¤$!$#  

 

“orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan Mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang Itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).”(Q.S. Ar-Ra’d : 25)

 

 

 

tûïÏ%©!$# tbqàÒà)Ztƒ y‰ôgtã «!$# .`ÏB ω÷èt/ ¾ÏmÉ)»sWŠÏB tbqãèsÜø)tƒur !$tB ttBr& ª!$# ÿ¾ÏmÎ/ br& Ÿ@|¹qムšcr߉šøÿãƒur ’Îû ÇÚö‘F{$# 4 šÍ´¯»s9’ré& ãNèd šcrçŽÅ£»y‚ø9$#  

“(yaitu) orang-orang yang melanggar Perjanjian Allah sesudah Perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. mereka Itulah orang-orang yang rugi.”(Q.S Al-Baqarah : 27)

 

tûïÏ%©!$#ur tbqè=ÅÁtƒ !$tB ttBr& ª!$# ÿ¾ÏmÎ/ br& Ÿ@|¹qムšcöqt±øƒs†ur öNåk®5u‘ tbqèù$sƒs†ur uäþqߙ É>$|¡Ïtø:$#

  

“dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan[771], dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk”(Q.S. Al-Ra’d : 21).

 

 

ö@ygsù óOçFøŠ|¡tã bÎ) ÷LäêøŠ©9uqs? br& (#r߉šøÿè? ’Îû ÇÚö‘F{$# (#þqãèÏeÜs)è?ur öNä3tB$ymö‘r&  

 

“Maka Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”(Q.S. Muhammad : 22)

 

 

Menjaga hubungan silaturrahim dengan anggota keluarga juga dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 181 dan 182.

 

  1. Kesombongan

        Kesombongan merupakan dosa besar yang menjadi pangkal dari berbagai macam dosa, sehingga banyak ayat-ayat al-Qur’an menjelaskan bahaya dosa kesombongan ini, baik secara langsung maupun melalui kisah (cerita). Al-Qur’an mengkisahkan kesombongan Iblis yang tidak mau sujud kepada Nabi Adam a.s., juga Fir’aun dengan kesombongannya ia mengaku Tuhan. Dengan hartanya Qarun menjadi sombong. Dosa kesombongan itu antara lain dijelaskan pada ayat-ayat berikut ini :

 

#sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% ã&s! È,¨?$# ©!$# çmø?x‹s{r& äo¨“Ïèø9$# ÉOøOM}$$Î/ 4 ¼çmç7ó¡yssù æL©èygy_ 4 }§ø¤Î6s9ur ߊ$ygÏJø9$#  

“dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.”(Q.S. Al-Baqarah : 206)

 

       Dosa kesombongan dan sekaligus balasan siksa diungkap pada ayat-ayat berikut, : An-Nisa’ : 172-173,  al-A’raf : 36, 40,dan 133. Al-Qashash : 39-40, dan Q.S. Luqman : 7

 

Aallah swt. Menceritakan dalam al-Qur’an orang-orang yang sombong dan ancaman serta siksa yang ditimpakan kepada mereka, pada ayat berikut ini :

 “dan (juga) Karun, Fir’aun dan Haman. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. akan tetapi mereka Berlaku sombong di (muka) bumi, dan Tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu).  Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri.”(Q.S. Al-‘Ankabut : 39-40)

 

     Ayat-ayat tersebut cukup menjadi bukti, betapa bahayanya dosa sosial kesombongan. Anehnya, biasanya pelakunya sering tidak merasa atau tidak sadar bahwa ia melakukakan kesombongan itu, tetapi orang lain menerima akibat dosa tersebut.

 

g. Meminum Khamr (Minuman Keras)

 

          Meminum khamr dan sejenisnya, yakni minuman dan barang konsumsi lain yang dapat memabukkan, termasuk NARKOBA, adalah merupakan biang dari banyak bentuk kejahatan, seperti pencurian, perzinahan dan pembunuhan. Karena begitu akrabnya dan sudah menjadi kebiasaan bangsa arab mengkonsumsi khamr saat diturunkannya al-Qur’an, maka al-Qur’an menjelaskan status hukumnya secara gradual (bertahap), ayat pertama yang menjelaskan tentang khamr adalah Al-Baqarah : 219 yang masih bersifat umum, ya’ni terdapat bahaya dan manfaat, akan tetapi bahayanya lebih besar. Kemudian tahap kedua al-Qur’an menjelaskan khamr pada Surat An-Nisa’ : 43. Kemudian tahap ketiga al-Qur’an lebih tegas menjelaskan status hukum khamr dalam surat al-Maidah : 90 – 91. dengan menyatakan bahwa khamr adalah termasuk perbuatan syaitan, maka berhentilah kamu dari meminum khamr.

 

  1. Kebohongan publik

 

  Dosa kebohongan publik adalah termasuk dosa sosial yang sangat berbahaya

 

¨bÎ) tûïÏ%©!$# râä!%y` Å7øùM}$$Î/ ×pt6óÁãã ö/ä3YÏiB 4 Ÿw çnqç7|¡øtrB #uŽŸ° Nä3©9 ( ö@t/ uqèd ׎öyz ö/ä3©9 4

 Èe@ä3Ï9 <›ÍöD$# Nåk÷]ÏiB $¨B |=|¡tFø.$# z`ÏB ÉOøOM}$# 4 “Ï%©!$#ur 4†¯<uqs? ¼çnuŽö9Ï. öNåk÷]ÏB ¼çms9 ë>#x‹tã ×LìÏàtã

 

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (Q.S. An-Nur : 11).

 

 

        Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah s.a.w. ‘Aisyah r.a. Ummul Mu’minin, sehabis perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya’ban 5 H. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula ‘Aisyah dengan Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. ‘Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. tiba-tiba Dia merasa kalungnya hilang, lalu Dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa ‘Aisyah masih ada dalam sekedup. setelah ‘Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat Dia duduk di tempatnya dan mengaharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya. Kebetulan, lewat ditempat itu seorang sahabat Nabi, Shafwan Ibnu Mu’aththal, diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan Dia terkejut seraya mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, isteri Rasul!” ‘Aisyah terbangun. lalu Dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut Pendapat masing-masing. mulailah timbul desas-desus. kemudian kaum munafik membesar- besarkannya, Maka fitnahan atas ‘Aisyah r.a. itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.

 

`tBur ó=Å¡õ3tƒ ºpt«ÿ‹ÏÜyz ÷rr& $\ÿùSÎ) ¢OèO ÏQötƒ ¾ÏmÎ/ $\«ÿƒÌt/ ωs)sù Ÿ@yJtGôm$# $YY»tFökæ5 $VJøOÎ)ur $YYÎ6•B

“dan Barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, Maka Sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.”(Q.S. An-Nisa’ : 112)

 

Ayat lain yang menjelaskan dosa kebohongan publik adalah : An-Nisa’ : 156, An-Nur : 16, dan  Al-Mumtahanah : 12,

 

  1. Prasangka buruk dan ghibah

        Al-Qur’an menjelaskan dosa ghibah  (menggunjing) dan hukumannya yang sangat berat, sebagaimana digambarkan pada ayat berikut ini :

 

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qç7Ï^tGô_$# #ZŽÏWx. z`ÏiB Çd`©à9$# žcÎ) uÙ÷èt/ Çd`©à9$# ÒOøOÎ) ( Ÿwur (#qÝ¡¡¡pgrB Ÿwur =tGøótƒ Nä3àÒ÷è­/ $³Ò÷èt/ 4 =Ïtä†r& óOà2߉tnr& br& Ÿ@à2ù’tƒ zNóss9 ÏmŠÅzr& $\GøŠtB çnqßJçF÷d̍s3sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# Ò>#§qs? ×LìÏm§‘

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (Q.S. al-Hujurat : 12).

 

      Hukuman yang begitu berat tergambar dengan jelas pada ayat tersebut bagi orang-orang yang melakukan ghibah dan tajassus (mencari-cari keburukan orang) dan prasangka buruk. Perbuatannya disamakan dengan memakan bangaki saudaranya.

 

Taubat Dari Dosa Sosial

 

 

        Untuk membersihkan diri dari dosa, maka manusia harus bertaubat, karena dengan bertaubat maka dosa-dosa akan dihapus dan diampuni oleh Allah swt. Sebagaimana Rasulullah saw. berkata :

 

« التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ »[14].

 

“Rasulullah saw. Bersabda “orang yang brtaubat dari dosa sama seperti orang yang tidak berdosa” (H.R. Ibn Majah)

 

        Pertanyaanya adalah, ketika seseorang berbuat dosa kemudian memohon ampun kepada Allah swt. Apakah kemudian segala macam dosa dapat diampuni, baik yang besar maupun yang kecil, yang terkait dengan haqqullah atau haq adami ? sebagaimana pemahaman sepintas dari hadits berikut :

 

 

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى[15]

 

  “Wahai Ibn Adam (manusia) seandainya dosa-dosamu mencapai mendung di langit, kemudian kamu mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan saya tidak peduli”(H.R. At-Tirmidzi)

 

 ( من قال سبحان الله وبحمده في يوم مائة مرة حطت خطاياه وإن كانت مثل زبد البحر )

 

“Barangsiapa membaca سبحان الله وبحمده 100 x dalam sehari maka kesalahan-kesalahannya (dosanya) dihapus walaupun banyaknya seperti  buih di lautan.(H.R. Bukhari)

Kalau melihat hadits-hadits tersebut di atas nampaknya ampunan Allah swt. Sangat mudah untuk diraih, baik bagi pelaku dosa besar maupun kecil. Mungkin hadits-Hadits tersebut dan hadits serupa yang lain dijadikan dasar dengan pemahaman  yang salah. Nampaknya banyak orang yang memiliki anggapan dan bahkan keyakinan bahwa demikian mudah mendapatkan ampunan Allah swt. ?  Apakah ampunan yang dijanjikan di dalam hadits-hadits tesebut meliputi ampunan semua jenis dosa, besar maupun kecil, dosa sosial maupun dosa ritual ? Ketika kita pahami hadits-hadits tersebut dengan hadits-hadits lain secara menyeluruh, dapat disimpulkan bahwa, dosa sosial tidak semudah itu dalam mendapatkan ampunan. Banyak ulama yang menjelaskan tentang at-taubah an-nashuh.

        Al-Imam al-Qurthubi di dalam menafsirkan ayat 8 Surat Al-Tahrim menjelaskan definisi at-taubah an-nashuh : ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan at-taubah an-nashuh sampai 23 pendapat, di antaranya ada yang mengatakan; at-taubah an-nashuh adalah taubat yang tidak akan mengulangi lagi perbuatan dosa, sebagaimana air susu tidak bisa kembali lagi ke tempatnya semula (buah susu), Al-Qurthubi juga mengutip pendapat Abu Bakar Al-Daqqaq Al-Mashri, bahwa at-taubah an-nashuh adalah mengembalikan kezhaliman, meminta halal dalam pertikaian, dan selalu dalam ketaatan.[16]

        Hafizh Ibn Ahmad Hakami menguraikan syarat at-taubah an-nashuh. Ada 3 syarat; yaitu :Pertama. Berhenti dari perbuatan dosa, Kedua. Menyesali perbuatannya. Ketiga. Tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu lagi. Tetapi apabila dosa terkait dengan haq adami (dosa dan kesalahan yang ada hubungannya dengan manusia) maka ditambah satu(1) syarat lagi, yaitu meminta maaf kepada orang yang bersangkutan [17]. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Sa’id Ibn ‘Ali al-Qahthani  [18], juga An-Nawawi dalam kitabnya riyadh ash-Shalihin [19].

       Apa yang diuraikan oleh Hafizh Ibn Ahmad Hakami dan juga banyak ulama lainnya adalah sesuai dengan kesimpulan dari hadits Nabi tentang kezhaliman berikut ini :

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا ، فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ ، فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ » [20] (رواه البخاري)

 

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW. Bersabda : Barang siapa yang pernah melakukan kezhaliman kepada saudaranya (sesama manusia) maka hendaknya meminta halal kepadanya, karena  sesungguhnya disana (hari kiamat) tidak ada dinar dan dirham sebelum kebaikannya (orang yang melakukan kezhaliman) diberikan kepada orang yang pernah dizhalimi. Apabila ia (orang yang melakukan kezhaliman) tidak memiliki kebaikan, maka kejelekan (dosa) orang yang dizhalimi dibeikan kepadanya  (orang yang melakukan kezhaliman) (H.R. bukhari)

 

Dan juga hadits Nabi berikut ini :

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ».[21] (رواه مسلم )

 

 

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW. Bersabda : tauhakah kamu apakah orang yang bangkrut itu ? para sahabat menjawab : orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya dirham dan harta. Lalu Rasulullah bersabda : orang yang bangkrut dari ummatku adalah orang yang datang di hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, zakat. Tetapi ia mencaci maki ini (orang lain) menuduh itu (orang lain), memakan harta orang lain, membunuh orang lain, memukul orang lain, maka kebaikannya (pahalanya) diberikan kepada orang lain (yang pernah dizhalimi), Apabila kebaikan (pahalanya) sudah habis sementara belum terpenuhi, maka kejelekan (dosa-dosa) orang yang pernah dizhaimi diberikan (ditimpakan) kepadanya, kemudian ia dibuang ke neraka (H.R. Muslim)

 

Dengan demikian, jelas bahwa tidaklah mudah, bertaubat dari dosa sosial, sebab ada jalan berat yang harus dilalui yaitu meminta maaf atau meminta halal kepada orang yang pernah disakiti atau dizhalimi. Apabila orang yang dizhalimi jumlahnya sedikit, satu atau dua orang, berarti meminta maafnya ringan atau lebih mudah, tetapi ketika orang yang disakiti atau dizhalimi jumlahnya cukup banyak, seperti orang yang melakukan korupsi uang rakyat se Indonesia. Maka bagaimana ia akan meminta maaf kepada orang se Indonesia, adalah merupakan hal yang sangat sulit. Oleh karena itu, dosa sosial termasuk dosa korupsi adalah dosa yang sulit untuk mendapatkan ampunan Tuhan.

 

Dampak Perbuatan Dosa

 

  1. Di Dunia

Pelaku dosa tidak langsung mendapatkan balasan siksa di dunia. Berbeda dengan umat tedahulu ketika mereka melakukan ma’shiyat atau dosa, maka langsung mendapat balasan siksaan di dunia sebagaimana banyak diceritakan oleh al-Qur’an. “dan Sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, Padahal Rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.(Q.S. Yunus : 13)  Kaum Nabi Luth,  kaum Nabi Shalih, kaum Nabi Hud dan kaum Nabi-Nabi yang lain sebelum Nabi Muhammad saw. Mendapat siksa dari Allah swt. Sewaktu di dunia dengan berbagai macam siksaan. Walaupun umat sekarang (umat setelah Nabi Muhammad) tidak langsung mendapat balasan siksa, tetapi dosa-dosa yang mereka lakukan bedanpak negatif, baik terhadap dirinya sendiri maupun kepada masyarakt luas

 

  1. Kembali kepada pribadi pelaku

 

Danpak negatif atas perbuatan dosa yang kembali kepada pribadi si pelaku dosa, antara lain :

 

  1. Musibah (bencana).

      Musibah (bencana)  yang menimpa kepada Pelaku dosa, sebagaimana dijelaskan pada hadits berikut :

 

عَنْ أَبِى مُوسَى أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يُصِيبُ عَبْدًا نَكْبَةٌ فَمَا فَوْقَهَا أَوْ دُونَهَا إِلاَّ بِذَنْبٍ وَمَا يَعْفُو اللَّهُ عَنْهُ أَكْثَرُ ». قَالَ وَقَرَأَ ( وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ )[22]. (رواه الترمذي )

“Dari Abu Musa, bahwa Rasulullah saw. Berkata : Tidaklah menimpa musibah kepada seorang hamba, baik besar maupun kecil, kecuali disebabkan dosa, tetapi dosa yang diampuni oelh Allah swt. Lebih banyak.(H.R. Al-Tirmidzi)

 

  1. Hati tertutup noda (berkarat)

        Dosa yang dilakukan seseorang dapat mengakibatkan kotornya hati seseorang, sehingga laksana kaca sebuah lampu, lambat laun akan semakin teban kotoran yang menempel di kaca tersebut, semakin sulit untuk dibersihkan. Hal ini sebagaimana dalam ayat berikut :

žxx. ( 2ö@t/ tb#u‘ 4’n?tã NÍkÍ5qè=è% $¨B (#qçR%x. tbqç6Å¡õ3tƒ ÇÊÍÈ  

“sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”(Q.S. Al-Muthaffifin : 14)

 

       Ayat tersebut ditafsirkan oleh Rasulullah saw. : sesungguhnya seseorang apabila melakukakan kesalahan (dosa), maka menjadi noda hitam di dalam hatinya. Apabila ia menghentikan perbuatannya itu dan bertobat, maka menjadi jernih (putih)  dan apabila ia kembali melakukan dosa, maka semakin bertambah hitam nodanya sehingga menutupi hatinya, itulah ma’na ran   yang disebutkan oleh Allah swt. Dalam ayat 14 Surat al-Muthaffifin)(H.R. Al-Tirmidzi)[23]

 

  1. Doa dan amalnya tidak diterima

 

 

        Di antara balasan dosa adalah tidak dikabulkannya do’a, sebagaimana dijelaskan pada ayat berikut ini

 

¨bÎ) šúïɋ©9$# (#qç/¤‹x. $uZÏG»tƒ$t«Î/ (#rçŽy9õ3tFó™$#ur $pk÷]t㠟w ßx­Gxÿè? öNçlm; Ü>ºuqö/r& Ïä!$uK¡¡9$# Ÿwur tbqè=äzô‰tƒ sp¨Yyfø9$# 4Ó®Lym ykÎ=tƒ ã@yJpgø:$# ’Îû ÉdOy™ ÅÞ$u‹Ïƒø:$# 4 šÏ9ºx‹Ÿ2ur “Ì“øgwU tûüÏB̍ôfßJø9$# ÇÍÉÈ  

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit  dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.(Q.S. Al-A’raf : 40)

 

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa balsan dan hukuman dosa orang-orang yang sombong adalah ditutupnya pintu-pintu langit, ya’ni  : doa dan amal mereka tidak diterima oleh Allah juga mereka tidak mungkin masuk surga sebagaimana tidak mungkin masuknya unta ke lubang jarum.

  1. Terhalang dari Rizki

 

Orang yang melakukan dosa akan terhalang dari rizki,. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi berikut :

« لاَ يَزِيدُ فِى الْعُمْرِ إِلاَّ الْبِرُّ وَلاَ يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلاَّ الدُّعَاءُ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ ».[24]

“Tidak menambah umur kecuali kebaikan, tidak dapat menolak takdir kecuali doa dan sesungguhnya orang terhalang dari rizkinya disebabkan dosa yang ia lakukan(H.R. Ibn Majah)

 

 

 

 

  1. Dampak Negatifnya kepada Masyarakat (orang banyak)

 

 

Dosa juga memberikan danpak negatif kepada masyarakat luas, antara lain :

 

    1. Masyarakat luas mendapat siksa di dunia.

 

         Dosa yang dilakukan seseorang tidak hanya berdampak negatif kepada dirinya sendiri, akan tetapi dapat berdampat negatif kapada orang lain dan masyarakat luas. Sebagaimana dijelaskan pada ayat berikut ini :

 

 

 

عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ أَبِي حَكِيمٍ أَنَّهُ سَمِعَ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ يَقُولُكَانَ يُقَالُ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِذَنْبِ الْخَاصَّةِ وَلَكِنْ إِذَا عُمِلَ الْمُنْكَرُ جِهَارًا اسْتَحَقُّوا الْعُقُوبَةَ كُلُّهُمْ[25]   (رواه مالك)

 

“Umar Ibn Abdul Aziz berkata : Dikatakan bahwa sesungguhnya Allah swt. Tidak menyiksa suatu kaum disebabkan dosa yang dilakukan oleh orang tertentu. Tetapi apabila dilakukan suatu kemungkaran secara terang-terangan, maka mereka semua mendapatkan siksa”(H.R. Malik)

 

Juga hadits berikut :

 

 

عن أبي بكر قال سمعنا رسول الله يقول: ((إن الناس إذا رأوا الظالم فلم يأخذوا على يديه

أوشك أن يعمهم الله بعقاب)) وإني سمعت رسول الله يقول: ((ما من قوم يعمل فيهم بالمعاصي

 ثم يقدرون على أن يغيروا ولا يغيرون إلا يوشك أن يعمهم الله بعقاب))[26] أبو داود وابن ماجه.

“Dari Abu Bakar berkata : kami mendengar Rasulullah saw. Bekata : sesungguhnya apabila orang-orang melihat seseorang yang melakukan kezhaliman dan mereka tidak bertindak kepadanya, maka dikhawatirkan Allah swt. akan menimpakan siksa kepada mereka semua, dan saya mendengar Rasulullah saw. Brkata : Suatu kaum yang di tengah-tengah mereka dilakukan ma’shiat (dosa) kemudian mereka mampu untuk merubahnya tetapi mereka tidak merubahnya maka dikhawatirkan Allah swt. Menimpatkan siksanya kepad mereka semua secara merata.(H.R. Abu Daud dan Ibn Majah)  

 

2. Ditutupnya Keberkahan dari langit dan bumi.

 

      Orang-orang yang melakukan dosa, terutama dosa sosial, akan tertutup dari keberkahan. Mereka tidak mendapat keberkahan dalam segala usahanya. Hal itu sebagaimana diuraikan dalam ayat berikut :

öqs9ur ¨br& Ÿ@÷dr& #“tà)ø9$# (#qãZtB#uä (#öqs)¨?$#ur $uZóstGxÿs9 NÍköŽn=tã ;M»x.tt/ z`ÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur

`Å3»s9ur (#qç/¤‹x. Mßg»tRõ‹s{r’sù $yJÎ/ (#qçR$Ÿ2 tbqç7Å¡õ3tƒ

  

“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya(Q.S. Al-A’raf : 96).

 

 

        Ayat ini dapat disimpulkan bahwa penduduk suatu negeri apabila beriman dan bertakwa, maka pasti akan mendapat keberkahan dari langit dan bumi sebaliknya apabila mereka durhaka dan  mendustakan terhadap apa yang disampaikan oleh para utusan Allah, maka  mereka mendapat hukuman siksaan di dunia berupa kesulitan, sebagai peringatan dan kesenangan sebagai bentuk penghinaan, benyaknya bencana  serta dicabutlah keberkahan tersebut[27].

 

  1. Terjadi kerusakan di Muka Bumi

 

Apabila kemaksiatan dilakukan, maka akan terjadi kerusakan di muka bumi, antara lain rusaknya tanaman, sehingga gagal panen, terjadi banjir dan tanah longsor dan sebagainya, sebagaimana dijelaskan pada ayat berikut ini

 

tygsß ßŠ$|¡xÿø9$# ’Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur $yJÎ/ ôMt6|¡x. “ω÷ƒr& Ĩ$¨Z9$# Nßgs)ƒÉ‹ã‹Ï9 uÙ÷èt/ “Ï%©!$# (#qè=ÏHxå öNßg¯=yès9 tbqãèÅ_ötƒ ÇÍÊÈ  

“telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(Q.S. Ar-Rum : 41)

 

 

Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa terjadinya kerusakan di muka bumi ini disebabkan perbuatan manusia. Menurut Ibn Katsir ; kerusakan di muka bumi antara lain seperti gagal panen dan rusaknya tanaman disebabkan karena kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia. Menurut Abu al-Aliah : orang yang durhaka kepada Allah swt. berarti ia berbuat kerusakan di muka bumi, karena baiknya bumi dan langit (alam) ini adalah dengan taat kepada Allah swt.[28] Oleh karena itu Rasulullah saw. Berkata : hukum yang ditegakkan dengan baik di muka bumi ini lebih dicintai oleh penghuninya daripada mereka diberi hujan selama empat puluh (40) hari (H.R. Al-Nasa’i dan Ibn Majah). Ketika hukum ditegakkan dengan baik, maka akan memberikan efek jera, sehingga dapat mencegah orang untuk berbuat hal-hal yang diharamkan.  

 

 

 

 

  1. Siksa di Akhirat

 

Al-Qur’an banyak menjelaskan bahwa orang-orang yang menyandang dosa, sampai akhir hidupnya ia tidak bertobat, maka pasti di akhirat akan mendapat balasan siksa sesuai perbuatan dosanya. Sebagaimana dijelaskan pada ayat berikut ini dan juga pada ayat-ayat lainnya.

 

(#râ‘sŒur tÎg»sß ÉOøOM}$# ÿ¼çmoYÏÛ$t/ur 4 ¨bÎ) šúïÏ%©!$# tbqç7Å¡õ3tƒ zOøOM}$# tb÷rt“ôfã‹y™ $yJÎ/ (#qçR%x. tbqèùΎtIø)tƒ  

 

“dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan(Q.S. Al-An’am : 120).

 

 

Kesimpulan

 

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa :

2.      Al-Qur’an banyak menjelaskan macam-macam dosa sosial, ya’ni dosa yang dilakukan oleh seseorang terkait dengan orang lain, seperti mencuri dan korupsi, dalam istilah disebut dosa haq adami.

3.      Jika dibandingkan antara dosa sosial (haq adami) dengan dosa ritual (haqqullah), dalam hal pensucian dosa dan pertaubatannya, maka dosa sosial lebih sulit mendapatkan ampunan, karena salah satu persyaratannya atau rukunnya adalah meminta maaf kepada orang yang bersangkutan, bahkan nyaris tak terampuni.

4.      Dosa-dosa yang digolongkan oleh para ulama sebagai dosa besar, dan tidak ada hubungannya dengan orang lain, relatif lebih mudah pertaubatannya, dibandingkan dengan dosa sosial.

 

 

 

 

Catatan Akhir


 

 


[1] . Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur al afriqi al Mashri, Lisan al-Arab, (Berut, Daar shadir, tth), Cet. I Juz I, h. 389.

[2] . Ensiklopedi Islam, Jakarta, P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve,1994, Cet. Ke-3, Jilid 2, h. 318

[3] . Ibn Manzhur, Lisan al-Arab,  Juz I, h. 23.

[4] . Ali Ibn Muhammad Ibn Ali al-Jurjani, al-T’rifat, (Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, 1405)Cet. I, Juz I, h. 23

[5]   Al-Hakim Al-Naisaburi, Al-Mustadrak ala Al-Shahihain, (Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1411)  Juz 2, h. 17.

[6] . Abu Hilal Al-Askari, Al-Furuq Al-Lughawiyyah,  Juz I. H. 244.

[7] . Abu Hilal Al-Askari. Juz I. h. 7

[8] . Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an,  Juz 5, h. 158.

[9] . Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an,  Juz 5, h. 160.

[10] . Al-Imam Syamsuddin al-Dzahabi, al-Kabair, Beirut, Dar al-Fikr, 1994, h. 7

[11] . Ibid.

[12] .Hukum ini bukanlah mengenai Bani Israil saja, tetapi juga mengenai manusia seluruhnya. Allah memandang bahwa membunuh seseorang itu adalah sebagai membunuh manusia seluruhnya, karena orang seorang itu adalah anggota masyarakat dan karena membunuh seseorang berarti juga membunuh keturunannya.

[13] . Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hanbal, Musnad Ahmad Ibn Hanbal, Bairut, ‘Alam al-Kutub, 1998, Cet. I. Juz I, h. 313.

[14] .Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, Beitur, Dar al-Jail, 1418, Juz 2, h. 1419.

[15] .Al-Tirmidzi, Sunan Al-Tirmidzi, (Beirut, Dar Ihya’ al-Turats,  tth), Juz 4 h. 548.

[16] Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Mesir, Dar Al-Kutub al-Mishriyah, 1952, Cet. II, h. 18,

[17] .Hafizh Ibn Ahmad Hakami, Ma’arij al-Qabul bi Syarh Sullam alWushul ila ‘Ilm al-Ushul, Damam, Da Ibn al-Qayyim, 1990, Juz 3, h. 1044.

[18] . Sa’id Ibn ‘Ali Ibn Wahf al-Qahthani, al-Hikamah fi al-Da’wah ila Allah, al-Mamlakah al-Arabiah al-Su’udiyah, Wuzarah al-Syuun al-Islamiah, wa al-Auqaf wa al-Da’wh wa al-Irsyad, 1423, Cet. I, Juz 2, h. 195.

[19] . Al-Nawawi, Riyadh Ash-Shalihin

[20] .Muhammad Ibn Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Beirut, Dar Ibn Katsir, 1407, Cet. Ke-3, juz 2, h. 864.

[21] .Muslim Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, Beirut, Dar Ihya’ al-Turats, tth, Juz 4, h. 1997.

[22] .Al-Tirmidzi, Sunan Al-Tirmidzi, h. 377.

[23]. Al-Tirmidzi, Sunan Al-Tirmidzi, h. 434.

[24] . Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, Juz 1, h. 106.

[25] . Malik Ibn Anas, Al-Muwaththa’ , Muassasah Zaid Ibn Sultan Ali Nahyan, Juz4, h. 143.

[26] .Abu Daud, Sunan Abi Daud, (Beirut, Dar al-Fikr, tth), Juz 4, h. 525.

[27] .Abd. Rahman Ibn Nashir Ibn al-Sa’di, Taisir al-Karim Al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, Muassasah al-Risalah, 1420 H,  Juz I, h, 298.,

[28] .Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Dar Thaibah, 1420, tth, Cet. II, Juz 6, h. 320.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Abu Daud, Sunan Abi Daud, Beirut, Dar al-Fikr, tth.

Al Mashri, Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur al afriqi ,  Lisan al-Arab, Berut, Daar shadir, tth, Cet. I.

Al-Jurjani, Ali Ibn Muhammad Ibn Ali, , al-T’rifat, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, 1405, Cet. I .

Al-Naisaburi, Al-Hakim, Al-Mustadrak ala Al-Shahihain, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1411.

Al-Askari, Abu Hilal , Al-Furuq Al-Lughawiyyah.

Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, .

Al-Dzahabi, Al-Imam Syamsuddin, al-Kabair, Beirut, Dar al-Fikr, 1994.

Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hanbal, Musnad Ahmad Ibn Hanbal, Bairut, ‘Alam al-Kutub, 1998, Cet. I.

Al-Qahthani, Sa’id Ibn ‘Ali Ibn Wahf, al-Hikamah fi al-Dawah ila Allah, al-Mamlakah al-Arabiah al-Su’udiyah, Wuzarah al-Syuun al-Islamiah, wa al-Auqaf wa al-Da’wh wa al-Irsyad, 1423, Cet. I..

Al-Bukhari, Muhammad Ibn Ismail, Shahih al-Bukhari, Beirut, Dar Ibn Katsir, 1407, Cet. Ke-3.

Al-Naisaburi, Muslim Ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim, Beirut, Dar Ihya’ al-Turats, tth..

Al-Tirmidzi, Sunan Al-Tirmidzi, Beirut, Dar Ihya’ al-Turats,  tth.

Ensiklopedi Islam, Jakarta, P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve,1994, Cet. Ke-3.

Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Dar Thaibah, 1420, tth, Cet. II.

Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, Beitur, Dar al-Jail, 1418.

Hakami , Hafizh Ibn Ahmad, Maarij al-Qabul bi Syarh Sullam alWushul ila Ilm al-Ushul, Damam,   Da Ibn al-Qayyim, 1990..

Malik Ibn Anas, Al-Muwaththa’ , Muassasah Zaid Ibn Sultan Ali Nahyan.

Al-Sa’di , Abd. Rahman Ibn Nashir , Taisir al-Karim Al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, Muassasah al-Risalah, 1420 H,

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

KERJASAMA DAN TOLERANSI DENGAN NON MUSLIM

HUBUNGAN KERJASAMA MUSLIM DENGAN NON MUSLIM

DALAM PERSPEKTIF TAFSIR ALQUR’AN

Oleh : Abdur Rokhim

 

  1. A.      Pendahuluan

       Hubungan muslim dengan non muslim sering diwarnai dengan ketegangan dan kekerasan bahkan menjurus kepada radikalisme. Hal ini bisa disebabkan karena masalah keagamaan (da’wah), sosial kemasyarakatan, atau politik.

      Bangsa Indoneseia memiliki budaya  yang relatif unig, banyak terjalin kerjasama antara Umat muslim dengan umat kristiani dalam event-event keagamaan, seperti dalam penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), baik tingkat daerah maupun nasional. Kerjasama ini dalam berbagai hal, dalam kepanitiaan, bantuan tenaga, dan finansial. Demikian pula ketika umat Kristiani melaksanakan perayaan natal, maka banyak umat muslim yang bekerjasama dan membantu mereka dalam kesuksesan perayaan natal tersebut. Ormas NU (GP ANSOR), misalnya, mengerahkan Banser-nya untuk menjaga dan mngamankan gereja dalam perayaan natal. Demikian halnya dengan umat buda dan hindu di Bali dan daerah-daerah lain.

         Dalam wilayah politik umat Islam juga bekerjasama dengan non muslim, sebagaimana dalam kepengurusan organisasi politik, baik yang bernuansa kebangsaan seperti partai Golkar, PDIP, Demokrat, dan lain-lain, maupun yang bernuansa keagamaan seperti PKS, PKB, PAN, PDS, dan lain-lainnya.

       Maka dalam makalah ini penulis akan membahas tentang “Hubungan Kerjasama Muslim dengan Non Muslim dalam perspektif tafsir al-Qur’an” dengan sistematika penulisan sebagai berikut :

       Tulisan ini akan penulis bagi menjadi beberapa pembahasan, dalam sub tema berikut ini, yang menjadi satu kesatuan pembahasan secara utuh sehingga akan dapan disimpulkan berdasarkan permasalahan yang penulis kemukakan :

  1. Pendahuluan
  2. Non Muslim
  3. Hubungan Muslim dengan non muslim
  4. Kesimpulan
    1. B.      Non Muslim

       Kata Non Muslim mancakup seluruh komunitas umat di luar umat Islam, baik kaum agamawan maupun non agamawan, termasuk di antaranya adalah : Yahudi, Nashrani, Hindu, Budha, dan orang kafir.

       Al-Qur’an menyebutkan beberpa komunitas agama, antara lain adalah : Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani),  al-shabi’un, al-majus, komunitas agama lain, Musyrik, dan Kafir. Agar dapat gambaran secara lengkap, maka Penulis akan membahas komunitas agama dan kelompok lainnya yang terkait dengan masalah agama.

  1. Ahlul Kitab

      Term Ahlul Kitab disebutkan secara langsung di dalam al-Qur’an sebanyak 31 kali dan tersebar pada 9 surat yang berbeda. Kesembilan surat tersebut adalah al-Baqarah, Ali ‘Imran, al-Nisa’, al-Maidah, al-Ankabut, al-Ahzab, al-Hadid, al-Hasyr, dan al-Bayyinah. Dari kesembilan surat tersebut hanya al-Ankabut lah satu-satunya yang termasuk dalam surat Makkiyah dan selebihnya termasuk dalam surat-surat Madaniyah. 

     Ini mengisyaratkan bahwa interaksi dengan Ahlul Kitab baru berjalan intensif tatkala Nabi Muhammad SAW berada di Madinah. Ini dikarenakan bahwa di Kota Makkah sendiri pada waktu itu (periode Makkah) penganut agama Yahudi sangat sedikit. Adapun yang dihadapi Nabi SAW dalam dakwahnya adalah kaum musyrik penyembah berhala.[1] 

       Istilah Ahlul Kitab pada surat al-Ankabut ayat 46 sendiri, menurut al-Thaba’thaba’i ialah umat Yahudi dan Nasrani.[2] Pada ayat itu, dijelaskan bahwa umat Islam dilarang berdebat dengan Ahlul Kitab kecuali dengan cara yang lebih baik. Ini adalah tuntunan agar umat Islam melakukan interaksi sosial dengan Ahlul Kitab  dengan cara yang baik. Artinya, perbedaan pandangan dan keyakinan antara umat Islam dan Ahli Kitab tidak menjadi penghalang untuk saling membantu dan bersosialisasi. Menurut Yusuf Qaradhawi, hal ini dikarenakan Islam sangat menghormati semua manusia apapun agama, ras dan sukunya.[3]

        Istilah Ahlul Kitab sendiri ditemukan lebih bervariasi pada ayat-ayat Madaniyah. Meski demikian, semuanya tetap ditujukan kepada Yahudi dan Nasrani atau salah satu dari mereka. Senada dengan itu, Abdul Mun’im al-Hafni juga membatasi bahwa yang dimaksud Ahli Kitab adalah Yahudi dan Nasrani.[4]

            Kedudukan Ahlul Kitab

       Dalam pandangan Islam, status Ahlul Kitab jelas termasuk kategori kufur. Menurut Imam al-Ghazali (w. 505 H) kufur berarti pendustaan terhadap Rasulullah saw dan ajaran yang dibawanya.[5] Abu Zahrah mengatakan bahwa mengingkari (kufur) Muhammad berarti mengingkari syariat Allah secara keseluruhan. Ini karena, syariat yang dibawa Nabi Muhammad merupakan pelengkap dan penutup syariat Allah.[6]  

       Inilah yang dimaksud oleh al-Thabary sebagai ukuran keimanan bagi Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Yakni, pembenaran mereka terhadap kenabian Muhammad saw dan ajaran yang dibawanya.[7].   Bahkan Ibn Katsir lebih menekankan bahwa kedua kelompok tersebut jika tidak mengikuti Muhammad saw, dan tidak meninggalkan sunnah Nabi Isa dan Kitab Injil, maka akan binasa. 

        Lebih jauh dikatakan Ibn Katsir: “(Ukuran) keimanan orang-orang Yahudi adalah jika mereka berpegang kepada Taurat dan sunnah Nabi Musa hingga datang periode Nabi Isa. Pada periode Nabi Isa, orang-orang yang berpegang pada Taurat dan sunnah Nabi Musa dan tak mengikuti Nabi Isa, maka mereka akan binasa. Sementara (ukuran) keimanan orang-orang Nasrani adalah jika berpegang kepada Injil dan syari’at Nabi Isa.       Keimanan orang tersebut dapat diterima hingga datang periode Nabi Muhammad saw. Pada periode Nabi Muhammad saw ini, orang yang tidak mengikutinya dan tidak meninggalkan sunnah Nabi Isa dan Kitab Injil, maka binasa.[8] 

        Ini menunjukkan bahwa memang keadaan manusia pada waktu itu, baik dari segi sosialnya bahkan akidahnya, benar-benar mengkhawatirkan. Masyarakat Musyrik ‘Arab, golongan Yahudi dan Nasrani menjadikan patung-patung,  para rahib dan pendeta sebagai tuhan-tuhan. Maka, amat sangat perlu diutus seorang Rasul untuk memurnikan akidah mereka, yakni Muhammad SAW. Dan mereka wajib mempercayainya dan ajaran yang dibawanya.   

        Ini menunjukkan relevansi pernyataan kedua ulama (al-Thabary dan Ibn Katsir) sebelumnya, bahwa ukuran keimanan Yahudi dan Nasrani adalah dengan memeluk Islam. Perintah ini sejatinya sudah dikabarkan oleh Kitab Suci mereka sendiri. Namun seakan mereka tidak mendengar dan malah menyembunyikan kabar tersebut. Al-Qur’an mengabarkan pembangkangan mereka dalam surat Ali ‘Imran: 71: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?”

    Menanggapi ayat tersebut, para Mufassir menjelaskan bahwa Ahli Kitab menyembunyikan kabar tentang kenabian Muhammad di dalam Kitab Suci mereka, Taurat dan Injil.[9]

        Menyembunyikan kenabian Muhammad berarti menyembunyikan datangnya agama Islam. Menurut al-Thabary, inilah yang menyebabkan mereka disebut kafir. Secara eksplisit, Ahli Kitab diidentifikasi sebagai orang-orang kafir sebagaimana halnya orang-orang musyrik. Dalam surat al-Bayyinah: 1 Allah berfirman, “Orang-orang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” 

      Istilah kufr dalam ayat tersebut, menurut Ibn ‘Asyur, ialah orang-orang yang menentang dan menolak kerasulan Muhammad.[10] Kekafiran Ahli Kitab dalam ayat ini sangat jelas, sama halnya dengan kekafiran orang musyrik, yakni sama-sama menentang dan menolak ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. 

       Inilah perspektif Islam dalam perspektif teologis dalam memandang Ahlul Kitab. Keyakinan ini tentu wajib dihormati, sebagaimana kaum Muslim juga menghormati keyakinan-keyakinan lain. Konsep ideal adalah: keyakinan terjamin, kerukunan terjalin.  

  1. C.      Hubungan Kerjasama Muslim dengan Non Muslim

          Hubungan muslim dengan non muslim telah dijelaskan dalam syari’at Islam, baik dalam masalah ibadah maupun muamalah.

  1. Dalam masalah ibadah, hubungan muslim dengan non muslim telah diatur dengan jelas dan tegas, bahwa kaum muslim harus menghormati ibadah mereka, dan tempat-tempat idabah mereka (toleran dalam beribadah), dengan tetap menjaga kemurnian ibadah, ya’ni tidak mengikuti kegiatan mereka dalam beribadah. Hal ini telah dijelaskan dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah ; 139, al-Qashash : 55, al-Syura : 15, al-Kafirun : 1-6 (tantang toleransi dalam ibadah) dan al-HaJJ : 40 tentang melindungi tempat ibadah).
  2. Dalam masalah muamalah, al-Qur’an banyak menjelaskan tentang hubungan muslim dangan non muslim dalam masalah muamalah.

Dalam makalah ini penulis mencoba membahas hubungan muslim dengan non muslim dalam maaslah sosial (mu’amalah).

Untuk mendapatkan uraian dan informasi yang lengkap , maka penulis akan mengkaji ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi yang terkait dengan tema serta bagaimana para ulama menafsrikan ayat-ayat tersebut.

  Pada Surah Ali Imran : 28  Allah swt. Berfirman : 

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً

وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (ال عمران : 28)

 

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)”.(Q.S. Ali Imran : 28)

         Ada ayat-ayat lain yang terkait dengan penafsiran ayat tersebut, antara lain Surah Ali Imran : 118, An-Nisa’ : 114, al-Maidah : 51, 57 dan al-Mumtahanah : 1.  Ayat-ayat tersebut kandungan ma’nanya sebagian besar sama dengan kandungan ma’na Surah Ali Imran : 28, ya’ni larangan menjadikan orang-orang kafir atau Yahudi dan Nashrani sebagai teman kepercayaan (teman dekat).

         Pada ayat-ayat tersebut digunakan kata auliya’ , hanya pada satu ayat yang menggunakan kata bithanah, yaitu pada surah Ali Imran 118.  Kata auliya’  berasal dari kata wali (bentuk mufrad/tunggal) kemudian dirubah bentuk jam’ menjadi auliya’ wali memilikima’na beragam, antara lain : orang yang menguasai sesuatu, melaksanakan sesuatu, orang yang menolong, orang yang menyintai, dan teman akrab.[11]       Al-Thabari menafsirkan kata auliya pada Surah Ali Imran : 28 dengan anshar dan akhilla’ [12]

      Pada Surah Ali Imran : 118,  Allah swt. Menjelaskan larangannya terhadap orang mu’min untuk menjadikan orang-orang non muslim sebagai bithanah. Kata bithanah menurut Ibn Katsir adalah keluarga khusus bagi seseorang sehingga mengetahui rahasianya.[13] Al-Qurthubi mendefinisakan bithanah hampir sama dengan Ibn Katsir, yaitu orang-orang yang memiliki hubungan khusus sehingga mengatahui rahasinya.[14] Di dalam hadits Rasulullah saw. menjelaskan bithanah :

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِىٍّ وَلاَ اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ ، إِلاَّ كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ ، بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ ، فَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى »  ( رواه البخاري)

 

“Dari Abu Sa’id al-Khudri, dari Rasulullah saw. Berkata : Allah swt. Tidak mengutus Nabi dan tidak mengangkat khalifah kecuali baginya dua bithanah(teman kepercayaan) :1. Bithanah yang memerintahkan kebaikan dan menganjurkannya, dan 2. Bithanah yang memerintahkan keburukan dan menganjurkannya. Maka orang yang ma’shum (terpelihara) adalah orang yang dipelihara oleh Allah swt”.(H.R. Bukhari)

 

       Dengan penjelasan tersebut di atas dan didukung dengan hadits Nabi, maka jelas bahwa yang dimaksud bithanah adalah teman kepercayaan atau teman khusus.                                      

       Al-Thabari menafsirkan ayat tersebut, bahwa Allah swt. Melarang orang-orang mu’min menjadikan orang non muslim sebagai “bithanah”(teman)   yang dengan jelas mereka dikenal sebagai orang yang menipu terhadap Islam dan Umat Islam, dengan bukti yang nyata atau dengan tanda-tanda meupun isyart akan permusuhan. Adapun orang yang tidak dapat dipastikan bahwa mereka akan menipu umat Islam, maka tidak boleh bagi umat Islam untuk menghalang-halangi berteman dengan mereka[15]

          Dalam menafsrikan ayat ini al-Thabari mengaitkan penafsirannya dengan ayat 118 surat Ali Imran, bahwa yang dimaksud bithanah yang dilarang oleh Allah swt. adalah orang munafik yang tanpak tanda-tanda kemunafikannya, jika mereka datang kepada sahabat-sahabat Rasulullah, maka mereka menyatakan iman, tetapi sesungguhnya mereka bohong.[16]

          Al-Thabari juga melengkapi penafsiran ayat ini dengan ayat 23 Surat al-Taubah.         Ayat ini menurutnya ; menjelaskan  dan mengingatkan kepada orang-orang mu’min agar mereka tidak menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudara mereka sebagai bithanah (teman kepercayaan) yang dapat menyebarkan rahasia dan kejelekan umat Islam, apabila mereka kafir. [17]

        Sedangkan Ibn Katsir menafsirkan ayat ini; bahwa Allah swt. Melarang orang mukmin menjadikan orang munafik sebagai bithanah yang akan dapat mengetahui rahasia untuk disebarkan kepada musuh-musuh Islam.

       Kalau kita melihat sejarah pada masa Rasulullah saw. , maka sesungguhnya hubungan muslim dengan non muslim sudah terjalin dengan baik, misalnya, Rasulullah saw. Menyewa Abdullah ibn Uraiqith al-Laitsi untuk menjadi petunjuk jalan ketika Rasulullah saw. hijrah ke Madinah. Abdullah ibn Uraiqith al-Laitsi adalah orang kafir Quraisy, teman akrabnya al-‘Ash ibn Wail al-Sahmi, ayahnya ‘Amr Ibn al-‘Ash.[18]   Rasulullah saw. juga mengambil pembantu dari orang yahudi sebagaimana diriwayatkan dalam Hadits Imam Bukhari berikut ini :

  عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِىٌّ يَخْدُمُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ « أَسْلِمْ » . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهْوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ – صلى الله عليه وسلم – . فَأَسْلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ يَقُولُ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ »[19]    (رواه البخاري)

”Dari Anas r.a. berkata : Ada seorang yahudi menjadi pembantu Rasulullah saw. kemudian sakit , lalu Rasulullah saw. menjenguknya, dan duduk di samping kepalanya, kemudian Rasulullah berkata : masuklah Islam kamu !, kemudian ia memandangi wajah ayahnya yang duduk disampingnya. Kemudian ayahnya berkata : ikuti Abu al-Qasim (Rasulullah saw), maka ia masuk Islam . kemudian Rasulullah pergi sambil berkata : Segala puji bagi Allah yang telah menyelematkannya dari neraka .(H.R. Bukhari)  

       Rasulullah saw. juga bekerja sama dengan orang yahudi dalam menggarap kebun, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits berikut ini :

عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ – رضى الله عنه – قَالَ أَعْطَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَيْبَرَ الْيَهُودَ أَنْ يَعْمَلُوهَا

وَيَزْرَعُوهَا وَلَهُمْ شَطْرُ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا[20]  (رواه البخاري )

“Dari Nafi’ dari Abdullah r.a. berkata : Rasulullah saw. memberikan tanah Khaibar kepada Orang yahudi untuk digarap dan ditanami, dan bagi mereka separuh dari hasilnya”(H.R. Bukhari)

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِىٍّ إِلَى أَجَلٍ ،

 وَرَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيدٍ .[21] (رواه البخاري ومسلم)

“Dari Aisyah r.a. berkata : bahwa Rasulullah saw. membeli makanan dari seorang yahudi dengan menggadaikan baju perangnya yang tebuat dari besi. (H.R. Bukhari dan Muslim)

        Dari rekaman sejarah tersebut nampaknya tidak pernah terjadi ketegangan dan konflik yang berbau agama antara kaum muslim dengan kaum non muslim, bahkan Rasulullah saw. benar-benar melindungi mereka. Hal ini dinyatakan dalam sabdanya :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ رِيحَهَا يُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا » (رواه البخاري)[22]

 

                                       

.”Dari Abdullah Ibn Amr, dari Rasulullah saw. bekata : barangsiapa membunuh seseorang yang ada ikatan perjanjian dengan kaum muslimin (kafir dzimmi)[23] maka tidak akan dapat mencium bau surga, dan bau surga dapat ditemukan dari jarak tempuh perjalanan 40 (empat puluh) tahun (H.R. Bukhari)

 

 

 

Kesimpulan

 

Dari uraian tafsir tersebut di atas dapat penulis simpulkan sebagai berikut :

  1. 1.      Hubungan kerjasama dengan orang non muslim dibenarkan selama non muslim tersebut tidak jelas-jelas memiliki niat jahat terhadap umat Islam
  2. 2.       Hubungan kerjasama dengan orang non muslim dibenarkan selama tidak membahayakan bagi kaum muslimin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 Muhammad Galib Mattola, Ahl al-Kitab: Makna dan Cakupannya, (Jakarta: Paramadina, cet. I, 1998),

 Muhammad Izzah Daruzah, al-Yahud fi al-Qur’an al-Karim, (Al-Maktab al-Islami, tanpa tempat dan tahun), lihat : M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2007)). 

Muhammad Husayn al-Thabathaba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, (Beirut: Mu’assasah al-‘Alami al-    Mathbu’ah, 1983)

Yusuf Qaradhawi, Mauqif al-Islam al-‘Aqady min Kufr al-Yahud wa al-Nashara, (Kairo: Maktabah Wahbiyah, 1999)). 

Abdul Mun’im al-Hafni, Mausu’ah al-Harakat wal Mazahib al-Islamiyah fil ‘Alam, dalam Muhtarom (penj), Ensiklopedia Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2006)), cet. I

Abu Hamid al-Ghazali, Fayshol al-Tafriqoh Baina al-Islam wa al-Zindiqoh, (Tanpa tempat dan penerbit, 1992), cet. I

Muhammad Abu Zahrah, Zuhrotu al-Tafasir, (Kairo: Daar al-Fikr al-‘Araby, t.thn)

Al-Thabary, Tafsir al-Thabari, Jil. V, Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Jil. III.;

Ibn ‘Athiyyah, al-Muharrar       al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz, (Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. 1, 2001)

Ibn ‘Asyur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir

Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, ( Dar al-Thaibah, 1999)

Muhammad Ibn Jarir al-Qurthubi, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, ( Muassasah al-Risalah, 2000)

Ali Ibn Ahmad al-Andalusi, Jawami’ al-Sirah, (Mesir, Dar al-Ma’arif, 1900)

Shafiyyurrahman al-Mubarakafuri, al-Rahiq al-Makhtum, (al-Maktabah al-Syamilah edisi ke-2)

Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar ibn Katsir, 1407)

Muslim Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim,  (Beirut, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, tth)


[1]. Muhammad Galib Mattola, Ahl al-Kitab: Makna dan Cakupannya, (Jakarta: Paramadina, cet. I, 1998), lihat : Muhammad Izzah Daruzah, al-Yahud fi al-Qur’an al-Karim, (Al-Maktab al-Islami, tanpa tempat dan tahun), lihat : M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2007)). 

 

[2] Muhammad Husayn al-Thabathaba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, (Beirut: Mu’assasah al-‘Alami al-Mathbu’ah, 1983), juz. 16,

[3] Yusuf Qaradhawi, Mauqif al-Islam al-‘Aqady min Kufr al-Yahud wa al-Nashara, (Kairo: Maktabah Wahbiyah, 1999)). 

[4] Abdul Mun’im al-Hafni, Mausu’ah al-Harakat wal Mazahib al-Islamiyah fil ‘Alam, dalam Muhtarom (penj), Ensiklopedia Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2006)), cet. I

[5] Abu Hamid al-Ghazali, Fayshol al-Tafriqoh Baina al-Islam wa al-Zindiqoh, (Tanpa tempat dan penerbit, 1992), cet. I

 

[6] Muhammad Abu Zahrah, Zuhrotu al-Tafasir, (Kairo: Daar al-Fikr al-‘Araby, t.thn), jil. II,

[7] Ibn Jarir al-Thabary, Tafsir al-Thabari, Juz. 2

[8] Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, jil. I).

            

[9] Al-Thabary, Tafsir al-Thabari, Jil. V, Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Jil. III.; Ibn ‘Athiyyah, al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz, (Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. 1, 2001), jil. I

[10] Ibn ‘Asyur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, jil. XXX.

[11] Ibrahim Mushtafa Ahmad al-Zayyat, al-Mu’jam al-Washith, (Dar al-Da’wah, tth), Juz 2, h. 1040.

[12] Muhammad Ibn Jarir al-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, (Beirut, Muassasah al-Risalah, 2000 M), Juz. 9 h. 319     

[13] Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, ( Dar al-Thaibah, 1999), Juz 2, h. 106.

[14] Muhammad Ibn Ahmad al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Juz 4, h. 178

[15]. Muhammad Ibn Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, ( Muassasah al-Risalah, 2000), Juz 7, h. 146.

[16] Muhammad Ibn Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Juz 7, h. 151.

[17] Muhammad Ibn Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Juz 14, h. 175.

[17]

 

[18] Ali Ibn Ahmad al-Andalusi, Jawami’ al-Sirah, (Mesir, Dar al-Ma’arif, 1900), Juz 1, h. 91. Lihat , Shafiyyurrahman al-Mubarakafuri, al-Rahiq al-Makhtum, (al-Maktabah al-Syamilah edisi ke-2), Juz 1, h. 132.

[19] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar ibn Katsir, 1407), Juz 1, h. 455.

[20] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz 2, h. 884.

[21] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz 2, h. 729. Lihat : Muslim Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim,  (Beirut, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, tth), Juz 3, h. 1226

 

[22] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz 4, h. 253.

[23] Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al’Bari Syarh Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar al-Ma’rifah, 1379), Juz 12, h. 259.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

KERJASAMA DAN TOLERANSI DENGAN NON MUSLIM

KERJASAMA DAN TOLERANSI DENGAN NON MUSLIM

Oleh : Abdur Rokhim

 

  1. A.     Pendahuluan

       Hubungan muslim dengan non muslim sering diwarnai dengan ketegangan dan kekerasan bahkan menjurus kepada radikalisme. Hal ini bisa disebabkan karena kurangnya pemahaman terhadap nilai-nilai agama sehingga menjurus pada fanatisme agama,  atau masalah  sosial ekonomi sehingga mengarah kepada ketegangan antar suku dan golongan, demikian pula masalah politik.

      Bangsa Indoneseia memiliki budaya  yang relatif unig, banyak terjalin kerjasama antara Umat muslim dengan umat kristiani dalam event-event keagamaan, seperti dalam penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), baik tingkat daerah maupun nasional. Kerjasama ini dalam berbagai hal, dalam kepanitiaan, bantuan tenaga, dan finansial. Demikian pula ketika umat Kristiani melaksanakan perayaan natal, maka banyak umat muslim yang bekerjasama dan membantu mereka dalam kesuksesan perayaan natal tersebut. Ormas NU (GP ANSOR), misalnya, mengerahkan Banser-nya untuk menjaga dan mngamankan gereja dalam perayaan natal. Demikian halnya dengan umat buda dan hindu di Bali dan daerah-daerah lain.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003  tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab V Pasal 12 ayat 1a : Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.[1]

 

 

 

         Dalam wilayah politik umat Islam juga bekerjasama dengan non muslim, sebagaimana dalam kepengurusan organisasi politik, baik yang bernuansa kebangsaan seperti partai Golkar, PDIP, Demokrat, dan lain-lain, maupun yang bernuansa keagamaan seperti PKS, PKB, PAN, PDS, dan lain-lainnya.

       Maka dalam makalah ini penulis akan membahas tentang “Hubungan Kerjasama Muslim dengan Non Muslim dalam perspektif tafsir al-Qur’an” dengan sistematika penulisan sebagai berikut :

       Tulisan ini akan penulis bagi menjadi beberapa pembahasan, dalam sub tema berikut ini, yang menjadi satu kesatuan pembahasan secara utuh sehingga akan dapan disimpulkan berdasarkan permasalahan yang penulis kemukakan :

  1. Pendahuluan
  2. Toleransi menurut Konstitusi 
  3. Agama-agama menurut Al-Qur’an
  4. Hubungan Muslim dengan non muslim
  5. Kesimpulan
    1. Agama-agama menurut Al-Qur’an

 

 

       Kata Non Muslim mancakup seluruh komunitas umat di luar umat Islam, baik kaum agamawan maupun non agamawan, termasuk di antaranya adalah : Yahudi, Nashrani, Hindu, Budha, dan orang kafir.

       Al-Qur’an menyebutkan beberpa komunitas agama, antara lain adalah : Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani),  al-shabi’un, al-majus, komunitas agama lain, Musyrik, dan Kafir. Agar dapat gambaran secara lengkap, maka Penulis akan membahas komunitas agama dan kelompok lainnya yang terkait dengan masalah agama.

  1. Ahlul Kitab

      Term Ahlul Kitab disebutkan secara langsung di dalam al-Qur’an sebanyak 31 kali dan tersebar pada 9 surat yang berbeda. Kesembilan surat tersebut adalah al-Baqarah, Ali ‘Imran, al-Nisa’, al-Maidah, al-Ankabut, al-Ahzab, al-Hadid, al-Hasyr, dan al-Bayyinah. Dari kesembilan surat tersebut hanya al-Ankabut lah satu-satunya yang termasuk dalam surat Makkiyah dan selebihnya termasuk dalam surat-surat Madaniyah. 

     Ini mengisyaratkan bahwa interaksi dengan Ahlul Kitab baru berjalan intensif tatkala Nabi Muhammad SAW berada di Madinah. Ini dikarenakan bahwa di Kota Makkah sendiri pada waktu itu (periode Makkah) penganut agama Yahudi sangat sedikit. Adapun yang dihadapi Nabi SAW dalam dakwahnya adalah kaum musyrik penyembah berhala.[2] 

       Istilah Ahlul Kitab pada surat al-Ankabut ayat 46 sendiri, menurut al-Thaba’thaba’i ialah umat Yahudi dan Nasrani.[3] Pada ayat itu, dijelaskan bahwa umat Islam dilarang berdebat dengan Ahlul Kitab kecuali dengan cara yang lebih baik. Ini adalah tuntunan agar umat Islam melakukan interaksi sosial dengan Ahlul Kitab  dengan cara yang baik. Artinya, perbedaan pandangan dan keyakinan antara umat Islam dan Ahli Kitab tidak menjadi penghalang untuk saling membantu dan bersosialisasi. Menurut Yusuf Qaradhawi, hal ini dikarenakan Islam sangat menghormati semua manusia apapun agama, ras dan sukunya.[4]

        Istilah Ahlul Kitab sendiri ditemukan lebih bervariasi pada ayat-ayat Madaniyah. Meski demikian, semuanya tetap ditujukan kepada Yahudi dan Nasrani atau salah satu dari mereka. Senada dengan itu, Abdul Mun’im al-Hafni juga membatasi bahwa yang dimaksud Ahli Kitab adalah Yahudi dan Nasrani.[5]

            Kedudukan Ahlul Kitab

       Dalam pandangan Islam, status Ahlul Kitab jelas termasuk kategori kufur. Menurut Imam al-Ghazali (w. 505 H) kufur berarti pendustaan terhadap Rasulullah saw dan ajaran yang dibawanya.[6] Abu Zahrah mengatakan bahwa mengingkari (kufur) Muhammad berarti mengingkari syariat Allah secara keseluruhan. Ini karena, syariat yang dibawa Nabi Muhammad merupakan pelengkap dan penutup syariat Allah.[7]  

       Inilah yang dimaksud oleh al-Thabary sebagai ukuran keimanan bagi Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Yakni, pembenaran mereka terhadap kenabian Muhammad saw dan ajaran yang dibawanya.[8].   Bahkan Ibn Katsir lebih menekankan bahwa kedua kelompok tersebut jika tidak mengikuti Muhammad saw, dan tidak meninggalkan sunnah Nabi Isa dan Kitab Injil, maka akan binasa. 

        Lebih jauh dikatakan Ibn Katsir: “(Ukuran) keimanan orang-orang Yahudi adalah jika mereka berpegang kepada Taurat dan sunnah Nabi Musa hingga datang periode Nabi Isa. Pada periode Nabi Isa, orang-orang yang berpegang pada Taurat dan sunnah Nabi Musa dan tak mengikuti Nabi Isa, maka mereka akan binasa. Sementara (ukuran) keimanan orang-orang Nasrani adalah jika berpegang kepada Injil dan syari’at Nabi Isa.       Keimanan orang tersebut dapat diterima hingga datang periode Nabi Muhammad saw. Pada periode Nabi Muhammad saw ini, orang yang tidak mengikutinya dan tidak meninggalkan sunnah Nabi Isa dan Kitab Injil, maka binasa.[9] 

        Ini menunjukkan bahwa memang keadaan manusia pada waktu itu, baik dari segi sosialnya bahkan akidahnya, benar-benar mengkhawatirkan. Masyarakat Musyrik ‘Arab, golongan Yahudi dan Nasrani menjadikan patung-patung,  para rahib dan pendeta sebagai tuhan-tuhan. Maka, amat sangat perlu diutus seorang Rasul untuk memurnikan akidah mereka, yakni Muhammad SAW. Dan mereka wajib mempercayainya dan ajaran yang dibawanya.   

        Ini menunjukkan relevansi pernyataan kedua ulama (al-Thabary dan Ibn Katsir) sebelumnya, bahwa ukuran keimanan Yahudi dan Nasrani adalah dengan memeluk Islam. Perintah ini sejatinya sudah dikabarkan oleh Kitab Suci mereka sendiri. Namun seakan mereka tidak mendengar dan malah menyembunyikan kabar tersebut. Al-Qur’an mengabarkan pembangkangan mereka dalam surat Ali ‘Imran: 71: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?”

    Menanggapi ayat tersebut, para Mufassir menjelaskan bahwa Ahli Kitab menyembunyikan kabar tentang kenabian Muhammad di dalam Kitab Suci mereka, Taurat dan Injil.[10]

        Menyembunyikan kenabian Muhammad berarti menyembunyikan datangnya agama Islam. Menurut al-Thabary, inilah yang menyebabkan mereka disebut kafir. Secara eksplisit, Ahli Kitab diidentifikasi sebagai orang-orang kafir sebagaimana halnya orang-orang musyrik. Dalam surat al-Bayyinah: 1 Allah berfirman, “Orang-orang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” 

      Istilah kufr dalam ayat tersebut, menurut Ibn ‘Asyur, ialah orang-orang yang menentang dan menolak kerasulan Muhammad.[11] Kekafiran Ahli Kitab dalam ayat ini sangat jelas, sama halnya dengan kekafiran orang musyrik, yakni sama-sama menentang dan menolak ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. 

       Inilah perspektif Islam dalam perspektif teologis dalam memandang Ahlul Kitab. Keyakinan ini tentu wajib dihormati, sebagaimana kaum Muslim juga menghormati keyakinan-keyakinan lain. Konsep ideal adalah: keyakinan terjamin, kerukunan terjalin.  

  1. C.      Hubungan Kerjasama Muslim dengan Non Muslim

          Hubungan muslim dengan non muslim telah dijelaskan dalam syari’at Islam, baik dalam masalah ibadah maupun muamalah.

  1. Dalam masalah ibadah, hubungan muslim dengan non muslim telah diatur dengan jelas dan tegas, bahwa kaum muslim harus menghormati ibadah mereka, dan tempat-tempat idabah mereka (toleran dalam beribadah), dengan tetap menjaga kemurnian ibadah, ya’ni tidak mengikuti kegiatan mereka dalam beribadah. Hal ini telah dijelaskan dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah ; 139, al-Qashash : 55, al-Syura : 15, al-Kafirun : 1-6 (tantang toleransi dalam ibadah) dan al-HaJJ : 40 tentang melindungi tempat ibadah).
  2. Dalam masalah muamalah, al-Qur’an banyak menjelaskan tentang hubungan muslim dangan non muslim dalam masalah muamalah.

Dalam makalah ini penulis mencoba membahas hubungan muslim dengan non muslim dalam maaslah sosial (mu’amalah).

Untuk mendapatkan uraian dan informasi yang lengkap , maka penulis akan mengkaji ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi yang terkait dengan tema serta bagaimana para ulama menafsrikan ayat-ayat tersebut.

  Pada Surah Ali Imran : 28  Allah swt. Berfirman : 

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً

وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (ال عمران : 28)

 

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)”.(Q.S. Ali Imran : 28)

         Ada ayat-ayat lain yang terkait dengan penafsiran ayat tersebut, antara lain Surah Ali Imran : 118, An-Nisa’ : 114, al-Maidah : 51, 57 dan al-Mumtahanah : 1.  Ayat-ayat tersebut kandungan ma’nanya sebagian besar sama dengan kandungan ma’na Surah Ali Imran : 28, ya’ni larangan menjadikan orang-orang kafir atau Yahudi dan Nashrani sebagai teman kepercayaan (teman dekat).

         Pada ayat-ayat tersebut digunakan kata auliya’ , hanya pada satu ayat yang menggunakan kata bithanah, yaitu pada surah Ali Imran 118.  Kata auliya’  berasal dari kata wali (bentuk mufrad/tunggal) kemudian dirubah bentuk jam’ menjadi auliya’ wali memilikima’na beragam, antara lain : orang yang menguasai sesuatu, melaksanakan sesuatu, orang yang menolong, orang yang menyintai, dan teman akrab.[12]       Al-Thabari menafsirkan kata auliya pada Surah Ali Imran : 28 dengan anshar dan akhilla’ [13]

      Pada Surah Ali Imran : 118,  Allah swt. Menjelaskan larangannya terhadap orang mu’min untuk menjadikan orang-orang non muslim sebagai bithanah. Kata bithanah menurut Ibn Katsir adalah keluarga khusus bagi seseorang sehingga mengetahui rahasianya.[14] Al-Qurthubi mendefinisakan bithanah hampir sama dengan Ibn Katsir, yaitu orang-orang yang memiliki hubungan khusus sehingga mengatahui rahasinya.[15] Di dalam hadits Rasulullah saw. menjelaskan bithanah :

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِىٍّ وَلاَ اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ ، إِلاَّ كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ ، بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ ، فَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى »  ( رواه البخاري)

 

“Dari Abu Sa’id al-Khudri, dari Rasulullah saw. Berkata : Allah swt. Tidak mengutus Nabi dan tidak mengangkat khalifah kecuali baginya dua bithanah(teman kepercayaan) :1. Bithanah yang memerintahkan kebaikan dan menganjurkannya, dan 2. Bithanah yang memerintahkan keburukan dan menganjurkannya. Maka orang yang ma’shum (terpelihara) adalah orang yang dipelihara oleh Allah swt”.(H.R. Bukhari)

 

       Dengan penjelasan tersebut di atas dan didukung dengan hadits Nabi, maka jelas bahwa yang dimaksud bithanah adalah teman kepercayaan atau teman khusus.                                      

       Al-Thabari menafsirkan ayat tersebut, bahwa Allah swt. Melarang orang-orang mu’min menjadikan orang non muslim sebagai “bithanah”(teman)   yang dengan jelas mereka dikenal sebagai orang yang menipu terhadap Islam dan Umat Islam, dengan bukti yang nyata atau dengan tanda-tanda meupun isyart akan permusuhan. Adapun orang yang tidak dapat dipastikan bahwa mereka akan menipu umat Islam, maka tidak boleh bagi umat Islam untuk menghalang-halangi berteman dengan mereka[16]

          Dalam menafsrikan ayat ini al-Thabari mengaitkan penafsirannya dengan ayat 118 surat Ali Imran, bahwa yang dimaksud bithanah yang dilarang oleh Allah swt. adalah orang munafik yang tanpak tanda-tanda kemunafikannya, jika mereka datang kepada sahabat-sahabat Rasulullah, maka mereka menyatakan iman, tetapi sesungguhnya mereka bohong.[17]

          Al-Thabari juga melengkapi penafsiran ayat ini dengan ayat 23 Surat al-Taubah.         Ayat ini menurutnya ; menjelaskan  dan mengingatkan kepada orang-orang mu’min agar mereka tidak menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudara mereka sebagai bithanah (teman kepercayaan) yang dapat menyebarkan rahasia dan kejelekan umat Islam, apabila mereka kafir. [18]

        Sedangkan Ibn Katsir menafsirkan ayat ini; bahwa Allah swt. Melarang orang mukmin menjadikan orang munafik sebagai bithanah yang akan dapat mengetahui rahasia untuk disebarkan kepada musuh-musuh Islam.

       Kalau kita melihat sejarah pada masa Rasulullah saw. , maka sesungguhnya hubungan muslim dengan non muslim sudah terjalin dengan baik, misalnya, Rasulullah saw. Menyewa Abdullah ibn Uraiqith al-Laitsi untuk menjadi petunjuk jalan ketika Rasulullah saw. hijrah ke Madinah. Abdullah ibn Uraiqith al-Laitsi adalah orang kafir Quraisy, teman akrabnya al-‘Ash ibn Wail al-Sahmi, ayahnya ‘Amr Ibn al-‘Ash.[19]   Rasulullah saw. juga mengambil pembantu dari orang yahudi sebagaimana diriwayatkan dalam Hadits Imam Bukhari berikut ini :

  عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِىٌّ يَخْدُمُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ « أَسْلِمْ » . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهْوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ – صلى الله عليه وسلم – . فَأَسْلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ يَقُولُ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ »[20]    (رواه البخاري)

”Dari Anas r.a. berkata : Ada seorang yahudi menjadi pembantu Rasulullah saw. kemudian sakit , lalu Rasulullah saw. menjenguknya, dan duduk di samping kepalanya, kemudian Rasulullah berkata : masuklah Islam kamu !, kemudian ia memandangi wajah ayahnya yang duduk disampingnya. Kemudian ayahnya berkata : ikuti Abu al-Qasim (Rasulullah saw), maka ia masuk Islam . kemudian Rasulullah pergi sambil berkata : Segala puji bagi Allah yang telah menyelematkannya dari neraka .(H.R. Bukhari)  

       Rasulullah saw. juga bekerja sama dengan orang yahudi dalam menggarap kebun, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits berikut ini :

عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ – رضى الله عنه – قَالَ أَعْطَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَيْبَرَ الْيَهُودَ أَنْ يَعْمَلُوهَا

وَيَزْرَعُوهَا وَلَهُمْ شَطْرُ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا[21]  (رواه البخاري )

“Dari Nafi’ dari Abdullah r.a. berkata : Rasulullah saw. memberikan tanah Khaibar kepada Orang yahudi untuk digarap dan ditanami, dan bagi mereka separuh dari hasilnya”(H.R. Bukhari)

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِىٍّ إِلَى أَجَلٍ ،

 وَرَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيدٍ .[22] (رواه البخاري ومسلم)

“Dari Aisyah r.a. berkata : bahwa Rasulullah saw. membeli makanan dari seorang yahudi dengan menggadaikan baju perangnya yang tebuat dari besi. (H.R. Bukhari dan Muslim)

        Dari rekaman sejarah tersebut nampaknya tidak pernah terjadi ketegangan dan konflik yang berbau agama antara kaum muslim dengan kaum non muslim, bahkan Rasulullah saw. benar-benar melindungi mereka. Hal ini dinyatakan dalam sabdanya :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ رِيحَهَا يُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا » (رواه البخاري)[23]

 

                                       

.”Dari Abdullah Ibn Amr, dari Rasulullah saw. bekata : barangsiapa membunuh seseorang yang ada ikatan perjanjian dengan kaum muslimin (kafir dzimmi)[24] maka tidak akan dapat mencium bau surga, dan bau surga dapat ditemukan dari jarak tempuh perjalanan 40 (empat puluh) tahun (H.R. Bukhari)

 

 

 

Kesimpulan

 

Dari uraian tafsir tersebut di atas dapat penulis simpulkan sebagai berikut :

  1. 1.      Hubungan kerjasama dengan orang non muslim dibenarkan selama non muslim tersebut tidak jelas-jelas memiliki niat jahat terhadap umat Islam
  2. 2.       Hubungan kerjasama dengan orang non muslim dibenarkan selama tidak membahayakan bagi kaum muslimin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 Muhammad Galib Mattola, Ahl al-Kitab: Makna dan Cakupannya, (Jakarta: Paramadina, cet. I, 1998),

 Muhammad Izzah Daruzah, al-Yahud fi al-Qur’an al-Karim, (Al-Maktab al-Islami, tanpa tempat dan tahun), lihat : M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2007)). 

Muhammad Husayn al-Thabathaba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, (Beirut: Mu’assasah al-‘Alami al-    Mathbu’ah, 1983)

Yusuf Qaradhawi, Mauqif al-Islam al-‘Aqady min Kufr al-Yahud wa al-Nashara, (Kairo: Maktabah Wahbiyah, 1999)). 

Abdul Mun’im al-Hafni, Mausu’ah al-Harakat wal Mazahib al-Islamiyah fil ‘Alam, dalam Muhtarom (penj), Ensiklopedia Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2006)), cet. I

Abu Hamid al-Ghazali, Fayshol al-Tafriqoh Baina al-Islam wa al-Zindiqoh, (Tanpa tempat dan penerbit, 1992), cet. I

Muhammad Abu Zahrah, Zuhrotu al-Tafasir, (Kairo: Daar al-Fikr al-‘Araby, t.thn)

Al-Thabary, Tafsir al-Thabari, Jil. V, Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Jil. III.;

Ibn ‘Athiyyah, al-Muharrar       al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz, (Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. 1, 2001)

Ibn ‘Asyur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir

Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, ( Dar al-Thaibah, 1999)

Muhammad Ibn Jarir al-Qurthubi, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, ( Muassasah al-Risalah, 2000)

Ali Ibn Ahmad al-Andalusi, Jawami’ al-Sirah, (Mesir, Dar al-Ma’arif, 1900)

Shafiyyurrahman al-Mubarakafuri, al-Rahiq al-Makhtum, (al-Maktabah al-Syamilah edisi ke-2)

Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar ibn Katsir, 1407)

Muslim Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim,  (Beirut, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, tth)

 

 

 

 

 


[1].Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003  tentang Sistem Pendidikan Nasional.

[2]. Muhammad Galib Mattola, Ahl al-Kitab: Makna dan Cakupannya, (Jakarta: Paramadina, cet. I, 1998), lihat : Muhammad Izzah Daruzah, al-Yahud fi al-Qur’an al-Karim, (Al-Maktab al-Islami, tanpa tempat dan tahun), lihat : M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2007)). 

 

[3] Muhammad Husayn al-Thabathaba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, (Beirut: Mu’assasah al-‘Alami al-Mathbu’ah, 1983), juz. 16,

[4] Yusuf Qaradhawi, Mauqif al-Islam al-‘Aqady min Kufr al-Yahud wa al-Nashara, (Kairo: Maktabah Wahbiyah, 1999)). 

[5] Abdul Mun’im al-Hafni, Mausu’ah al-Harakat wal Mazahib al-Islamiyah fil ‘Alam, dalam Muhtarom (penj), Ensiklopedia Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2006)), cet. I

[6] Abu Hamid al-Ghazali, Fayshol al-Tafriqoh Baina al-Islam wa al-Zindiqoh, (Tanpa tempat dan penerbit, 1992), cet. I

 

[7] Muhammad Abu Zahrah, Zuhrotu al-Tafasir, (Kairo: Daar al-Fikr al-‘Araby, t.thn), jil. II,

[8] Ibn Jarir al-Thabary, Tafsir al-Thabari, Juz. 2

[9] Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, jil. I).

            

[10] Al-Thabary, Tafsir al-Thabari, Jil. V, Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Jil. III.; Ibn ‘Athiyyah, al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz, (Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. 1, 2001), jil. I

[11] Ibn ‘Asyur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, jil. XXX.

[12] Ibrahim Mushtafa Ahmad al-Zayyat, al-Mu’jam al-Washith, (Dar al-Da’wah, tth), Juz 2, h. 1040.

[13] Muhammad Ibn Jarir al-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, (Beirut, Muassasah al-Risalah, 2000 M), Juz. 9 h. 319     

[14] Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, ( Dar al-Thaibah, 1999), Juz 2, h. 106.

[15] Muhammad Ibn Ahmad al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Juz 4, h. 178

[16]. Muhammad Ibn Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, ( Muassasah al-Risalah, 2000), Juz 7, h. 146.

[17] Muhammad Ibn Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Juz 7, h. 151.

[18] Muhammad Ibn Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Juz 14, h. 175.

[18]

 

[19] Ali Ibn Ahmad al-Andalusi, Jawami’ al-Sirah, (Mesir, Dar al-Ma’arif, 1900), Juz 1, h. 91. Lihat , Shafiyyurrahman al-Mubarakafuri, al-Rahiq al-Makhtum, (al-Maktabah al-Syamilah edisi ke-2), Juz 1, h. 132.

[20] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar ibn Katsir, 1407), Juz 1, h. 455.

[21] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz 2, h. 884.

[22] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz 2, h. 729. Lihat : Muslim Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim,  (Beirut, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, tth), Juz 3, h. 1226

 

[23] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz 4, h. 253.

[24] Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al’Bari Syarh Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar al-Ma’rifah, 1379), Juz 12, h. 259.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

PENENTUAN AWAL BULAN HIJRIYAH DALAM PERSPEKTIF TAFSIR DAN SAINS (suatu kajian solusi penyatuan)

PENENTUAN AWAL BULAN HIJRIYAH

DALAM PERSPEKTIF TAFSIR DAN SAINS

(suatu kajian solusi penyatuan)

                                                                                            

 

 

A. Pendahuluan

 

 

Umat Islam di Indonesia selalu dihadapkan pada perbedaan pendapat dalam penentuan awal Ramadhan 1 syawal (idul fitri) dan ‘idul adhha. Perbedaan pendapat pada umumnya dapat dinilai sebagai rahmat, namun ada juga perbedaan yang dinilai sebagai adzab. Ada hadits yang menjelaskan tentang perbedaan, yaitu : اختلاف أمتي رحمة .  (perbedaan ummatku adalah rahmat) dan hadits lain : اختلاف أصحابي رحمة لأمتي  (perbedaan sahabat-sahabatku adalah rahmat bagi ummatku) kedua hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitabnya al-Madkhal lalu al-Thabarani dan al-Dailami juga iktu meriwatkan hadits ini. Hadits ini statusnya adalah dhaif sebagaimana dijelaskan oleh al-Sakhawi dalam kitabnya al-maqashid al-hasanah[1].  Walaupun kedua hadits itu dhaif tetapi al-Qur’an menunjukkan, bahwa perbedaan umat manusia dan perbedaan pendapat di kalangan ulama merupakan keniscayaan dan sunnatullah. Al-Qur’an menunjukkan akan hal itu, terbukti dengan adanya lafazh-lafazh mutasyabihat dalam al-Qu’an  (lafazh-lfazh yang srupa lafazhnya atau samar ma’nanya) dan banyak lafazh-lafazh yang memiliki ma’na zhanni ad-dalalah (tidak pasti ma’nanya).

 

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa perbedaan pendapat dalam agama (Islam) itu tebagi menjadi tiga macam :

  1. Dalam hal eksistensi Tuhan (Allah) dan mentauhidkan-Nya, mengungkari akan hal ini dan perbedaan dalam hal ini bisa menjadikan kafir.
  2. Dalam hal sifat-sifat Allah dan kehendaknya, mengingkarinya adalah bid’ah.
  3. Perbedaan dalam hukum-hukum far’I (cabang) yang mengandung banyak interpretasi, maka dalam hal ini Allah menjadikannya sebagai rahmat dan kemulyaan bagi para ulama, itulah yang dimaksud dengan

Hadits     لأمتي  اختلاف أصحابي رحمة  [2]

 

Perbedaan pendapat tidaklah harus mengarah kepada perpecahan, perselisihan dan pertentangan, bahkan permusuhan. Selama perbedaan pendapat itu disertai dengan sikap toleransi, karena dilandasi kesadaran bahwa perbedaan pendapat itu merupakan keniscayaan sebagai al-Qur’an membeikan peluang akan hal tersebut. Sedangkan yang dikecam oleh al-Qur’an adalah pertentangan dan perselisihan yang mengarah kepada permusuhan. Tidak mungkin al-Qur’an melarang perbedaan pendapat, karena itu akan melanggar kudrat al-Qur’an itu sendiri.

Penulis sependapat dengan Ibnu Taimiyah, bahwa perbedaan tekadang dapat mendatangkan rahmat dan terkadang mendatangkan adzab. Perbedaan hukum bisa jadi rahmat apabila tidak mendatangkan keburukan besar seperti samanya hukum[3].

 

Sejalan dengan pendapat itu maka dapat juga simpulkan bahwa perbedaan yang tidak membawa dampak negatif terhadap sosial budaya maka berarti perbedaan yang baik, akan tetapi perbedaan yang membawa danpak negatis terhadap sosial yang luas maka ini bisa merupakan perbedaan yang negatif pula atau azab.

 

Penetapan Awal bulan Ramadhan,  Syawal dan Dzaulhijjah memiliki dampak sosial yang sangat besar. Oleh karena itu perbedaan dalam hal ini bisa jadi merupakan azab bukan rahmat. Dalam menyikapi hal hal ini, maka semestinya seluruh umat Islam, paling tidak dalam sebuah negara hendaknya dapat disatukan.

Pertanyaannya adalah :  Benarkah bahwa perbedaan penentuan awal bulan sangat era kaitannya dengan penafsiran dalil-dalil dalam al-Qur’an maupun Hadits ? mungkinkah umat Islam disatukan dalam penentuan awal bulan, mengingat bahwa permasalahan penentuan awal buan juga sangat terkait dengan sains, ya’ni ilmu hisab (ilmu falak), astronomi dan fisika. Ilmu ini dapat dikategorikan ilmu yang pasti  ? permasalahan inilah yang akan dibahas 

 

 

 

 

  1. SEJARAH PERHITUNGAN BULAN

 

Mengapa Islam Memakai Kalender Bulan? Sejak awal peradaban, manusia sudah merasakan perlunya sistem pembagian waktu menjadi satuan-satuan periode “bulan” dan “tahun” yang lazim disebut Kalender atau Taqwim (Arab). Kebutuhan manusia akan sistem kalender itu bertemali dengan kepentingan kehidupan sehari-hari mereka dan atau kepentingan kehidupan keagamaan mereka.

Acuan yang digunakan untuk menyusun kalender atau taqwim tersebut adalah siklus pergerakan dua benda langit yang sangat besar pengaruhnya pada kehidupan manusia di Bumi, yakni Bulan dan Matahari. Kalender yang disusun berdasarkan siklus sinodik Bulan dinamakan Kalender Bulan (Qamariyah, Lunar). Kalender yang disusun berdasarkan siklus tropik Matahari dinamakan Kalender Matahari (Syamsiyah, Solar). Sedangkan kalender yang disusun dengan mengacu kepada keduanya dinamakan Kalender Bulan-Matahari (Qamariyah-Syamsiyah, Luni-Solar).

Sekitar empat ribu tahun lebih sebelum masehi, bangsa Arab telah membuat Kalender Matahari atau Syamsiyah. Pada waktu itu tahun Syamsiyah terdiri dari 365 hari dengan rincian 360 hari dibagi menjadi 12 bulan dengan umur masing-masing 30 hari, dan 5 hari untuk pesta perayaan tahunan bangsa Arab. Belakangan Kalender Syamsiyah itu digunakan juga oleh masyarakat Romawi. Bangsa Arab sendiri kemudian beralih pada Kalender Bulan atau Qamariyah yang digunakan juga oleh masyarakat Mesir kuno dan Babilonia. Kalender Qamariyah¬Syamsiyah digunakan oleh orang-orang Cina dan India.

Islam yang datang untuk pertama kalinya kepada masyarakat Arab mengukuhkan penggunaan kalender qamariyah yang telah berlaku di kalangan mereka itu dengan cara mengaitkan waktu pelaksanaan beberapa ketentuan syari’ahnya kepada kalender tersebut serta membuat sistemnya menjadi mapan. Islam -misalnya- memapankan konsep ”bulan” (syahr, month) dalam kalender tersebut sebagai periode waktu yang membentang di antara dua penampakan hilal berurutan, dan “tahun” (sanah) sebagai periode waktu yang terdiri dari dua belas “bulan”. Ketika orang-orang kafir menyisipkan tambahan bulan untuk menunda masuknya bulan Muharram, al-Qur’an (at-Taubah: 37) mengecamnya dengan menegaskan bahwa perbuatan mereka itu hanyalah menambah kekafiran belaka.

Jatuhnya pilihan Islam terhadap sistem qamariyah sebagai kalender formal syar’inya agaknya bukan semata karena kebetulan ia turun untuk pertama kalinya kepada masyarakat pengguna kalender itu, tetapi sistem kalender qamariyah itu -dibandingkan dengan syamsiyah- adalah lebih sejalan dengan karakter Islam sendiri sebagai agama yang mudah.

Dalam kalender qamariyah, umur bulan (syahr) bisa diketahui dengan mudah melalui pengamatan yang sederhana terhadap Bulan. Hal itu terkait dengan sunnatullah tentang siklus pergerakan Bulan yang membuat Bulan hadir dalam pengamatan manusia di Bumi dalam posisi dan bentuk penampakan yang selalu berubah setiap hari secara signifikan. Perubahan itu berupa pergeseran posisinya ke arah Timur sejauh rata-rata 13° setiap hari atau setara dengan 26 kali garis tengah piringannya, dan pergeseran itu sekaligus mengakibatkan perubahan bentuk penampakannya. Mengenai fenomena ini Al-Qur’ an (Yasin: 39) menyatakan: “Kami tetapkan bagi Bulan manzilah-manzilah, sehingga kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.”

Keadaan seperti itu tidak terjadi pada Matahari yang hadir dengan bentuk penampakan yang relatif sama setiap hari. Meskipun sebenarnya posisi Matahari itu juga bergeser, yakni ke Utara atau ke Selatan, tetapi pergeserannya itu terjadi tidak secara mencolok karena per hari rata-rata hanya sebesar 0° 15′ 24,54″, atau hanya setengah kali garis tengah piringannya. Karena itu -tidak seperti dalam kalender qamariyah- umur bulan dalam kalender syamsiyah tidak bisa dengan mudah diketahui lewat pengamatan yang sederhana terhadap Matahari.

Dengan penghampiran ini dapatlah dipahami kalau Nabi SAW memberi petuniuk kepada kaum muslimin generasi awal-yang masih Ummi untuk memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan berdasarkan rukyat atau pengamatan terhadap penampakan Hilal. Dengan gambaran sebagaimana telah dikemukakan, perintah rukyat tersebut tentu menjadi tidak relevan seandainya Islam menjatuhkan pilihannya pada kalender “syamsiyah”.[4]

 

 

D. Perhitungan Tahun dan Bulan Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah

 

 

 

 

 

Al-Qur’an menjelaskan bilangan bulan.

 

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ ( التوبة : 36)

 “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas (12) bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram[640]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri[641] kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”(Q.S. Al-Taubah : 36)

 

Para mufassir menjalaskan, di antaranya Al-Baghawi, bahwa hitungan bulan dalam setahun, menurut perhitungan hilaliyah atau qamariyah, itu ada 12 (dua belas) bulan. Nama-nama bulan itu adalah : muharram, shafar, rabi’ al-awwal, Rabi’ al-akhir, jumda al-ula, jumada al-tsaniyah, rajab, sya’ban, ramadhan, syawwal, dzulqa’dah, dan dzulhijjah. Lebih lanjut Al-Baghawi  menjelaskan bahwa yang dimaksud فِي كِتَابِ اللَّهِ   adalah  “pada al-lauh al-mahfuzh” , dengan demikian Allah swt. Menetapkan bilangan bulan dan nama-namanya dalam al-lauh al-mahfuzh semenjak Allah swt. Menciptakan langit dan bumi. Di antara 12 bulan itu terdapat 4 bulan yang dimulyakan, yaitu : Muharram, Rajab, Dzul Qa’dah, dan Dzul Hijjah. Ia juga menjelaskan bahwa yang dimaksud  ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ “Itulah (ketetapan) agama yang lurus” adalah al-hisab al-mustaqim “perhitungan yang lurus”.[5]

 

 

 

 

 

Rasulullah saw. Menjelaskan

 

 

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا ، أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ، ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ »(رواه البخاري ومسلم)[6]

 

“Dari Abu Bakrah, dari Rasulullah saw. Berkata : sesungguhnya  zaman (tahun) beredar sebagaimana keadaanya (mestinya) sama seperti pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Tahun terdiri dari dua  belas (12) bulan. Di antaranya tedapat empat (4) bulan yang dimulyakan :  tiga bulan berturut-turut, yaitu : Dzulqa’dah, Dzulhijjah, al-Muharram, dan Rajab Mudhar yang terdapat diantara bulan Jumada (al-Tsaniyah) dan Sya’ban.(H.R. Bukhari dan Muslim)

 

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan Hadits tersebut dalam kitabnya Fath al-Bari, kaitannya dengan ayat 36 Surat al-Taubah, bahwa ketika Allah swt. Menciptakan langit dan bumi, maka pada saat itu pula Allah menetapakan bilangan bulan dalam satu tahun adalah 12 bulan. Maka tahun terus berputar dan perputarannya pada saat ini sama dengan pada hari diciptakan langit dan bumi.[7]

 

 

 

 

C. Hisab, Ru’yah, dan Hilal Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah

 

 

  1. Hisab

 

 

Salah satu ilmu pengetahuan yang sangat penting bagi ummat Islam adalah ilmu hisab atau ilmu falak. Ilmu hisab ini sangat berkaitan dengan ibadah penting yaitu shalat, puasa dan haji. Dengan ilmu hisab, waktu shalat fardhu dapat ditentukan dengan tepat dan pasti melalui pergerakan matahari. Sementara pergerakan matahari itu sendiri telah ditentukan posisinya. Allah SWT berfirman

 

….. إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا )النساء : 103)

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa: 103)

Penentuan masuknya bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah sebagai patokan untuk ibadah puasa dan haji dapat diprediksi dengan memahami pergerakan matahari dan bulan. Selain itu, dengan sedikit memahami ilmu matematika bola, arah Ka’bah yang menjadi qiblat shalat dapat pula diketahui dari segala posisi di bumi. Mengingat pentingnya ilmu hisab, maka ilmu ini sangat perlu dipelajari oleh ummat Islam.

Secara bahasa, kata “hisab” berasal dari haasabayuhaasibumuhaasabatanhisaaban. Kata hisab berarti perhitungan. Ilmu hisab memang bermakna ilmu untuk menghitung posisi benda langit (matahari, bulan, planet-planet dan lain-lain). Yang memiliki akar kata yang sama dengan kata “hisab” adalah kata “husban” yang berarti perhitungan. Kata “husban” disebutkan dalam Al Qur’an untuk menyatakan bahwa pergerakan matahari dan bulan itu dapat dihitung dengan ketelitian sangat tinggi.

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ  (الرحمن : 5)

Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” (Ar-Rahman:5)

 

Ilmu ini memiliki kaitan erat dengan astronomi. Namun secara umum ilmu hisab hanya mengambil bagian kecil dari astronomi yaitu mempelajari pergerakan matahari, bulan, bumi serta planet-planet lain di tata surya (solar system). Dengan mempelajari ilmu hisab, kita akan dapat menentukan arah qiblat, waktu sholat, serta posisi matahari dan bulan setiap saat. Selain itu, kalender Islam dapat pula dihitung, sehingga masuknya bulan-bulan penting dalam Islam seperti Muharram, Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dapat diperkirakan. Dengan ilmu hisab, berbagai peristiwa alam yang menakjubkan seperti gerhana matahari, gerhana bulan, transit Merkurius dan Venus di matahari dapat pula dihitung dengan akurasi tinggi. Dan masih banyak lagi fenomena yang dapat ditelusuri melalui ilmu hisab[8].

     Kata hisab yang mengandung arti perhitungan (matahari dan bulan) atau terkait dengan ilmu hisab terdapat pada empat (4) Surah, yaitu : kata husban terdapat pada Surah al-An’am : 96  dan Surah Al-Qamar : 5. Kata hisab terdapat pada Surah Yunus : 5 dan Al-Isra’ : 12.

 

 

فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (الأنعام :96)

 

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui(Q.S. Al-Anam : 96).

 

Ayat ini ditafsirkan oleh al-Razi [9] bahwa Allah swt. Telah menetapkan ukuran gerakan matahari dan bulan dengan perhitungan tertentu sebagaimana dijelaskan pada Surah Yunus : 5 dan Surah al-Rahman : 5 . Allah swt. Telah menetapkan ukuran pergerakan matahari pada kecepatan tertentu sehingga sempurna perputaran dalam setahun. Dan juga menetapkan ukuran pergerakan bulan dengan kecepatannya sehingga menjadi sempurna dalam perputarannya dalam sebulan. Dengan ukuran pergerakan dan kecepatannya yang telah ditentukan oleh Allah swt. Maka akan berpengaruh kepada kebaikan alam.  

Al-Kholil Ibn Ahmad  [10] menjelaskan mana husban  yang ada pada Surah al-Rahman : 5 dalam  kitabnya al-Ain :

وقوله – عز وجل – : ” الشَّمْسُ والقَمَرُ بحُسْبانٍ ” ، أي قُدِّرَ لهما حِسابٌ معلوم في مواقيتِهما لا يَعدُوانِه ولا يُجاوزانِه.

yani ditetapkan bagi kedua matahari dan bulan suatu perhitungan yang pasti dalam waktu-waktu yang keduanya tidak akan melampaunya.

 

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ ( القمر : 5)

 

matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan(Q.S. Al-Qamar : 5).

 

 

Sedangkan kata hisab digunakan pada 2 ayat berikut :

 

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.(Q.S. Yunus : 5)

 

 

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آَيَتَيْنِ فَمَحَوْنَا آَيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آَيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا  (الإسراء :  12)

“dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.”(Q.S al-Isra’ : 12)

 

Dua ayat tersebut menjelaskan, bahwa Allah swt menciptakan orbit-orbit yang dilalui matahari dan bulan, begitu pula diciptakannya malam dan siang secara silih berganti, maka dapat diketahui bilangan tahun dan perhitungan waktu, ya’ni perhitungan waktu dalam setahun, bilangan hari dan jam.[11]

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”(Q.S. al-Baqarah : 185)

 

 

 

 

Tentang hisab, Rasulullah saw. Menjelaskan dalam sebuah perkataannya

 

عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّهُ قَالَ « إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا »[12] . يَعْنِى مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ ، وَمَرَّةً ثَلاَثِينَ (رواه البخاري ومسلم)

 

“Dari Nabi Muhammad saw. Berkata : sesungguhnya kami adalah ummat yang ummi, tidak bisa menulis dan menghitung,  bulan itu bilangannya begini, begini (dengan isyarat tangan) , ya’ni sekali waktu 29 hari dan sekali temo 30 hari (H.R. Bukhari)

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan, bahwa yang dimaksud al-hisab (terambil dari kata wa la nahsuba) pada hadits tersebut di atas adalah perhitungan bintang dan perjalananya. Bangsa arab atau sahabat Nabi saat itu tidak mengasainya kecuali sebagian sedikit di antara mereka,  maka hukum berpuasa dan lainnya digantungkan atas ru’yah untuk meringankan mereka dan menjauhkan dari kesulitan perhitungan perjalanan atau pergrakan bintang. Hukum ru’ah menjadi pedomanseperti itu terus berjalan, walaupun sesudah itu ada di antara umat Islam yang menguasai ilmu hisab, bahkan menurut zahir redaksi hadits memberikan pengertian tidak menggantungkan hukum puasa dan lainnya kepada ilmu hisab. Hal ini sebagaimana dijelaskan pada hadits yang lainmaka apabila dalam keadaan mendung maka sempurnakanlah hitungan bulan 30 hari  dan Rasulullah saw. Tidak mengatakan ‘bertanyalah kamu kepada ahli hisab’. Hikmah yang dapat diambil dari hal tesebut adalah, bahwa hitungan bulan ketika dalam keadaan mendung maka menjadi sama bagi seluruh mukallaf, maka hilanglah perbedaan dan pertentangan. Sebagian ulama dari rafidhah berpendapat , agar tetap kembali kepada ahli hisab.[13]

 

Mustafa Dib al-Bigha menjelaskan hadits tersebut, sama dengan penjelasan Ibn Hajab al-‘Asqalani, bahwa yang dimaksud wa la nahsubu adalah : kami tidak mengethui perhitungan nujum, maka umat Islam dalam menetapkan waktu-waktu ibadah tidak dibebani untuk mengetahui ilmu hisab dan tulis.[14]

 

قال النبي صلى الله عليه و سلم ” من اقتبس علما من النجوم اقتبس شعبة من السحر زاد مازاد ” .

قال الشيخ الألباني : حسن

 

 

 

  1. Ru’yah

Makna ru’yah secara bahasa adalah melihat dengan mata kepala. Ru’yah yang dimaksud di sini adalah ru’yatul hilal, ya’ni melihat hilal secara langsung.  Al-Qur’an tidak banyak  menjelaskan ru’yatul hilal, tetapi hadits banyak menjelaskan.

 

Hadits-hadits Nabi yang menjelaskan ru’yah, antara lain sebagai brikut :

 

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم « صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُمِّىَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ » (رواه البخاري  ومسلم )[15]

 

“Jika kalian melihatnya (hilal) maka berpuasalah dan jika kalian melihatnya (lagi) maka berbukalah(laksanakanlah idul fitri). Dan jika (pandangan) kalian terhalangi oleh awan maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban genap 30 hari.” (H.R.Bukhari dan Muslim).

 

 

 

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً ، فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِينَ » (رواه البخاري)[16]

 

“Jika kalian melihatnya (hilal) maka berpuasalah dan jika kalian melihatnya (lagi) maka berbukalah(laksanakanlah idul fitri). Dan jika (pandangan) kalian terhalangi oleh awan maka genapkanlah.” (oleh Imam Bukagri dan Muslim. Dalam lafazh Imam Muslim: “Jika (pandangan) kalian terhalangi oleh awan maka genapkanlah (puasa kalian) tiga puluh (hari).”

 

عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه – قَالَ آلَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مِنْ نِسَائِهِ ، وَكَانَتِ انْفَكَّتْ رِجْلُهُ ، فَأَقَامَ فِى مَشْرُبَةٍ تِسْعًا وَعِشْرِينَ لَيْلَةً ، ثُمَّ نَزَلَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلَيْتَ شَهْرًا . فَقَالَ « إِنَّ الشَّهْرَ يَكُونُ تِسْعًا وَعِشْرِينَ »[17]  (رواه البخاري)

جزء 2   ص  675

 

“Dari Anas r.a berkata : Rasulullah saw. Bersumpah untuk tidak menggauli istri-istrinya. Kakinya terpecah-pecah. Kemudian ia berdiam di kamarnya selama 29 malam. Kamudian ia keluar. Lalu  para sahabat bertanya : wahai Rasulullah : bukankah engakau bersumpah ‘Ila (tidak melakukan pya ersetubuhan dengan istri) selama satu bulan ?. kemudian Rasulullah saw berkata : sesungguhnnya bulan ini terdiri dari 29 hari.(H.R. Bukhari)

 

 

 

 

 

قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا » . يَعْنِى ثَلاَثِينَ ، ثُمَّ قَالَ « وَهَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا » . يَعْنِى تِسْعًا وَعِشْرِينَ يَقُولُ ، مَرَّةً ثَلاَثِينَ وَمَرَّةً تِسْعًا وَعِشْرِينَ . (رواه البخاري)[18]

“Rasulullah saw. Bersabda : bulan itu begini, begini, dan begini. Ya’ni 30 hari. Kemudian bersabda : dan begini, begini, dan begini, ya’ni 29 hari”(H.R. Bukhari)

 

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لَمَا صُمْنَا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تِسْعًا وَعِشْرِينَ أَكْثَرُ مِمَّا صُمْنَا مَعَهُ ثَلاَثِينَ.[19]  (رواه أبوداود)

 

Ibnu Mas’u berkata : ketika saya berpuasa besama Nabu Muhammad saw. Maka jumlah bulan terdiri dari 29 hari itu lebih banyak daripada 30 hari.”(H.R. Abu Daud) 

 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّمَا الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ » (رواه مسلم )[20]

 

“Dari Ibn Umar r.a. berkata, Rasulullah saw. Bersabda : Sesungguhnya bulan itu 29 hari, maka janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat hilal dan jangan kamu merayakan ‘idul fitri sehingga kamu melihat hilal, apabila tertutup mendung maka sempurnakan bulan (menjadi 30 hari)”(H.R. Muslim)

 

 

عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا الْبَخْتَرِىِّ قَالَ أَهْلَلْنَا رَمَضَانَ وَنَحْنُ بِذَاتِ عِرْقٍ فَأَرْسَلْنَا رَجُلاً إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – يَسْأَلُهُ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَمَدَّهُ لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ أُغْمِىَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ »[21]  (رواه مسلم)

 

 

Dari Amr Ibn Murrah berkata, saya mendengar Abu al-Bukhtari berkata ; telah hilal bulan ramadhan sedang kami berada di dzat Irq, maka kami mengutus seseorang untuk datang kepada Ibnu Abbas r.a. menenyakan hal tersebut, maka Ibnu Abbas r.a.  berkata : Rasulullah saw. Bersabda : “sesungguhnya Allah swt. telah memberikan kemudahan untuk melihat hilal, apabila tertutup awan, maka sempurnakanlah bilangan bulan (30 hari)” (H.R. Muslim) 

 

 

 

 

 

 

  1. Hilal

 

Hilal secara bahasa adalah bulan yang nampak pada malam pertama sampai malam ketiga di setiap bulannya dan setelah itu barulah dikatakan bulan (tidak dikatakan lagi hilal, pent).[22] Dalam bahasa Indonesia hilal dikenal sebagai bulan sabit.

 

Ada yang berpendapat sampai 3 (tiga) malam, bahkan ada yang mengatakan sampai 7 (tujuh) malam pertama dari setiap bulan.Menurut Abi Ishaq dan banyak pendapat yang lain, bahwa yang disebut hilal itu adalah tanpaknya bulan pada malam pertama dan kedua dari setiap bulan, karena pada malam ketiga cahaya bulan sudah terang.[23]

 

Allah swt. menjelaskan fungsi hilal dalam al-Qur’an :

 

 

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ …..

“mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji(Q.S al-Baqarah : 189)

 

Hilal adalah keadaan bulan pada waktu muncul pertama di awal bulan. Bulan disebut hilal pada kemunculannya malam pertama dan kedua di awal bulan dan dua malam terakhir di akhir bulan. Hilal merupakan batas waktu bulan, maka disebut mawaqit, adalah bentuk jama’ dari miqat.   

 

Rasulullah saw. Menjelaskan hilal sebagai pedoman dalam melaksanakan ibadah puasa dengan langsung malihatnya atau ‘ru’yah’

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ « لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ ، وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ » (رواه الشيخان )[24]

maka hendaklah Dari Abdullah Ibn Umar r.a. Rasulullah saw. Menjelaskan Ramadhan,maka ia  berkata :“Kalau kalian melihat hilaal (awal Ramadhan, -pent) maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal tanda masuk bulan Syawwal) maka berbukalah (idul fitri). Dan jika (pandangan) kalian terhalangi oleh awan,kalian menghitungnya!” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Muslim dan An-Nasa’i)

 

Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw. Bersabda :

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ تُوَاصِلُوا » . قَالُوا إِنَّكَ تُوَاصِلُ . قَالَ « إِنِّى لَسْتُ مِثْلَكُمْ ، إِنِّى أَبِيتُ يُطْعِمُنِى رَبِّى وَيَسْقِينِى » . فَلَمْ يَنْتَهُوا عَنِ الْوِصَالِ – قَالَ – فَوَاصَلَ بِهِمُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَيْنِ أَوْ لَيْلَتَيْنِ ، ثُمَّ رَأَوُا الْهِلاَلَ فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لَوْ تَأَخَّرَ الْهِلاَلُ لَزِدْتُكُمْ » (رواه البخاري )[25]

 

“Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. Bersabda “jangan kamu melaksanakan puasa wishal (menyambung puasa). Sahabat berkata : engkau melakukan wishal. Rasulullah besabda : Saya tidak sama dengan kamu. Saya selalu diberi makan dan minum oleh Allah swt.   maka mereka tidak sampai wishal. Abu Hurairah mengatakan : maka Rasulullah saw. Melaksanakan puasa wishal 2 hari atau 2 malam. Kemudian mereka melihat hilal, lalu Rasulullah saw. Besabda : seandainya kemunculan hilal mundur, maka saya akan tambahkan kepadamu  (H.R. Bukhari)

 

 

 

 

 

 

E. Ilmu Falak adalah Sains

 

 

 

Untuk mengetahui perhitungan bulan dengan menggunakan bulan atau matahari dapat diketahui dengan ilmu falak, hisab atau astronomi.

 

Falak [n] (1) lengkung langit; lingkaran langit; cakrawala; (2) pengetahuan mengenai keadaan (peredaran, perhitungan, dsb) bintang-bintang; ilmu perbintangan ; astronomi[26].

Pengertian falak secara populer adalah lintasan benda-benda angkasa (langit), dalam bahasa Inggris disebut ORBIT.

Pengertian Ilmu Falak berarti sama dengan astronimi

 علم الفلك علم يبحث فيه عن الأجرام العلوية وأحوالها[27]

Ilmu falak adalah ilmu yang membahas tentang benda-benda luar angkasa dan pergerakannya.

 

Ilmu Falak adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari lintasan benda-benda langit, seperti Matahari, Bulan, Bintang-bintang, dan benda-benda langit lainnya, dengan tujuan untuk mengetahui posisis dari benda-benda langit itu sendiri serta kedudukannya dari benda-benda langit lainnya, agar dapat diambil manfaatnya bagi manusia, khsususnya umat islam dalam menentukan waktu untuk beribadah.

Secara umum Ilmu Falak mempelajari 4 hal, yaitu:
1. penentuan Arah Qiblat dalam Sholat
2. Penentuan Waktu-waktu Sholat
3. Penentuan Awal bulan kalender Hijriyah
4. Penentuan terjadinya Gerhana Matahari dan Bulan.

Hisab artinya perhitungan. Ilmu Hisab ialah ilmu yang mempelajarai perhitungan posisi benda-benda langit secara matematis dan astronomis khususnya untuk keperluan Ibadah.

Astronomi berasal dari bahasa Yunani yaitu “astro” dan “nomos”. Astro artinya bintang dan nomos artinya hukum. Astronomi ialah ilmu yang mempelajari benda-benda antariksa secara umum dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya.

Bulan merupakan satelit atau benda angkasa yang mengelilingi bumi. Jaraknya dengan bumi adalah 240.000 mil = 384.000 km. Bulan mempunyai garis tengah 2.160 mil = 3.456 km. Pada permukaan bulan tedapat gunung-gunung dan dataran rendah seperti bumi. Lubang kpundannya tampak besaar-besar sampai ada yang bergaris tengah 8 km. Berat jenis bulan kira-kira ½ berat jenis bumi. Berat jenis bumi  -+ 5,52. Besarnya bulan hanya 1/82 bumi dan mempunyai gravitasi 1/6 dari gravitasi bumi dan tidak ada atmosfir.

Sinar bulan adalah pantulan dari cahaya matahari. Bentuk dan ukuran bulan tidak berubah, yang berubah hanya penampakannya sesuai dengan bertambah dan bekurangnya permukaan yang tidak disinari matahari. Perubahan dalam penampakan bulan disebut FASA. Oleh karena itu, kita dapati istilah bulan sabit dan bulan purnama. Sebenarnya bulan bergerak dari barat ke timur mengelilingi bumi. Akan tetapi, sewaktu terbit dan tenggelam gerakannya seolah-olah dari timur ke barat. Ini disebabkan oleh putaran bumi lebih cepat daripada peredaran bulan mengelilingi bumi[28].

 

Dibandingkan dengan satelit-satelit lain pada sistem tata surya, bulan kita termasuk yang berukuran besar. Berbagai teori tlah dikembangkan berkenaan dengan terbentuknya bulan. Berdasarkan teori yang diterima paling luas, bumi bertabrakan dengan bnda angkasa, yang mengakibatkan terlemparnya sebuah massa besar yang berasal dari lempeng bumi dan kemudian berubah menjadi bulan. Walaupun ini mungkin saja bukan cerita yang sesungguhnya, data yang baru-baru ini diperoleh- dengan bantuan Lunar Prospector, satelit milik Amerika – sepertinya menguatkan teori ini.

      Di dalam al-Qur’an, bulan dan pergrakannya banyak disebut. Data yang didapatkan dari penelitian ilmiah modern memperlihatkan betapa pentingnya bulan untuk kehidupan di bumi. Bulan dengan  volumenya yang besar, dengan jarak yang tepat untuk fungsinya sebagai satgelit, serasi dengan pusat pergerakan bumi. Hal ini memungkinkan kondisi iklim yang sejuk di planet kita, menciptakan media yang ideal untuk hidup. Situasi ini sudah berlangsung selama jutaan tahun. Sebagian ilmuan berpendapat bahwa inti bumi masih berbentuk cair akibat gaya gravitasi yang dihasilkan bulan. Bulan juga melindungi medan magnet planet kita. Jika tidak ada medan magnet, radiasi kosmis akan menghancurkan kehidupan di bumi. Jika bukan karena bulan, diperkirakan bumi akan berputar pada porosnya dalam waktu 10 jam, yang berdampat serius terhadap kehidupan di bumi. Bulan menggunakan gaya tarikanya trhadap lautan untuk mempelambat rotasi bumi.

      Semua ini, termasuk massa dan kecepatan bulan berputar, adalah hasil perhitungan yang sangat mendetail yang dibuat Allah pada saat menciptakannya. Allah menggunakan kata “qadar” (terukur) terhadap perhitungan yang telah dilakukan-Nya. Kita tidak akan terpaku pada kesalahan interpretasi terhadap konsep ini yang disusun secara sembarangan dan mengatasnamakan agama. Dalam Surah Yasin ayat 39, pengaturan sistematis dijelaskan dengan kata “qadar” . Jarak bulan terhadap buni, massa dan kecepatannya selama berputar, posisinya terhadap matahari, serta gaya gravitasinya telah diperhitungkan secara tepat. “Qadar”-Nya telah ditetapkan. Sedikit saja perubahan dari perhitungan ini akan mengakhiri kehidupan di muka bumi. Bulan bukan saja aktor bagi malam nan romantis, objek inspirasi puisi, melainkan juga merupakan teman sine qua non bagi bumi[29].

 

 

F. Perhitungan Bulan dengan menggunakan Bulan (Rembulan)

 

      Bulan mengorbit bumi selama 27 hari, 7 jam, 43 menit, dan 11 detik. Kata “qamar” dalam bahasa arab, berarti “bulan”, digunakan sebanyak 27 kali oleh al-Qur’an. Orbit bulan yang mengelilingi bumi membentuk gris yang berliku-liku. Sementara bumi bergerak mengelilingi matahari, bulan beredar mengelilingi bumi dalam orbit yang berbeda-beda, membentuk garis yang melengkung, berkelok-kelok, berbentuk spiral. Permukaan bulan yang menghadap ke bumi selalu sama. Garis melengkung yang dibentuknya mengingatkan kita pada tandan yang melengkung. Kata dalam bahasa arab yang digunakan untuk menunjukkan orbit bulan adalah “urjun”, yaitu tandan kurma yang melengkung. Tandan ini ditambahkan dengan kata tua yang menggambarkan tandan yang lebih tipis dan melengkung. Kiasan yang indah ini menggambarkan orbit yang dilalui bulan dalam mengelilingi bumi.

 

 

ħ÷K¤±9$#ur $yg8ptéÏur ÇÊÈ   ̍yJs)ø9$#ur #sŒÎ) $yg9n=s? ÇËÈ  

1. demi matahari dan cahayanya di pagi hari,

2. dan bulan apabila mengiringinya,

 

       Pada ayat di atas terlihat gambaran hubungan bulan dengan matahari. Kata “tala”  dalam bahasa arab berarti “pengikut”, “yang bergantung”. Sebagai satelit bumi, bulan beredar menglilingi matahari bersama-sama dengan bumi, mereka mengikuti jejak matahari. Baik bulan maupun bumi bergantung pada pergerakan matahari.

      Pada ayat lain Allah swt. menjelaskan perjalan planet matahari :

 

ߧôJ¤±9$#ur “̍øgrB 9hs)tGó¡ßJÏ9 $yg©9 4 y7Ï9ºsŒ ㍃ωø)s? ͓ƒÍ•yèø9$# ÉOŠÎ=yèø9$#   (يس :38 (

 

        “Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi    Maha Mengetahui.” (Q.S. Yasin : 38)

 

 

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ (القمر : 49)

            “Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”(Q.S. al-Qamar : 49)

 

 

 

 

F. Sebab Perbedaan Penentuan Awal Bulan Hijriah

 

Sudah puluhan bahkan ratusan tahun lamanyaperdebatan mengenai perhitungan penentuan awal bulan pada bulan hijriyah. Terlebih pada penentuan awal bulan syawal (idul fitri) atau idul adha yang berkaitan dengan hari raya umat islam. Khususnya bagi umat islam, setidaknya harus paham mengenai kenapa perbedaan ini harus terjadi..?. karena nikmat dari perbedaan bukan pada pertenkaran tapi keberagaman.

Perbedaan yang tejadi di antara para ulama pada umumnya mengerucut pada dua hal, yaitu : hisab dan ru’yah.

 

 

Perbedaan pendapat dalam memahami kata “ru’yah” di dalam hadis ” … shumu li ru’yatihi wa althiru li ru’yatihi …” (Berpuasalah kamu ketika melihat hilal (awal bulan Ramadan). Berbukalah kamu ketika melihat hilal (awal bulan Syawal).
Pendapat pertama, (kelompok rukyah) berpendapat yang dimaksud dengan kata “ru’yah” adalah melihat hilal secara fisik (ru’yah bil fi’li).

Pendapat ini didasarkan kepada dua alasan. Pertama, Rasulullah dan para sahabat selalu melihat hilal untuk menentukan awal dan akhir Ramadan. Kedua, adanya indikasi bahwa jika hilal tidak terlihat – karena mendung – maka hitungan bulan Sya’ban dan Ramadan harus disempurnakan (30 hari), sebagaimana hadist yang disebutkan di atas.

Sedangkan Pendapat kedua, yaitu kelompok hisab menafsirkan “ru’yah” dengan ru’yah bil ‘ilmi (melihat dengan ilmu). Pendapat kelompok ini didasarkan atas tiga hal.

 

Pertama, ayat Alquran surat Yunus (10:5)

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui.” (Yunus, 10:5)

Dalam ayat tersebut menganjurkan kepada umat Islam mempelajari peredaran matahari dan bulan sebagai dasar penghitungan waktu dan tahun (li’ta’lamu ‘adad al sinina wa al hisab). Ayat inilah yang menjadi pijakan lahirnya Ilmu Hisab (Falaq). Ilmu ini digunakan secara sangat luas untuk menentukan waktu salat dan kalender Hijriyah, awal akhir bulan, hari raya (Idul Fitri – Idul Adha), wukuf di Arafah dan ibadah lainnya.

Kedua, tradisi melihat hilal yang dilakukan oleh Rasulullah dan sahabat hanyalah merupakan “cara” yang dilakukan karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, umat Islam bisa menggunakan “cara” lain yang diisyaratkan oleh Alquran. Di antaranya dengan cara ilmiah melalui penghitungan Falaq/ Hisab/Perhitungan. Ilmu ini baru berkembang pada masa Bani Abbasiyah (abad ke-8 M). Pada masa Rasulullah belum ditemukan alat teropong bintang dan belum berkembang ilmu falaq/ astronomi (Armahedi Mahzar dan Yuliani Liputo, 2002: 249).

Ketiga, kelompok hisab berpendapat awal dan akhir bulan tidak ditentukan oleh beberapa derajat ketinggian hilal. Jika berdasarkan penghitungan hisab hilal sudah nampak, berapa pun ketinggiannya, maka hitungan bulan baru sudah masuk.

Karena itu, jika hilal bulan Syawal sudah masuk maka sudah saatnya Idul Fitri. Sedangkan kelompok rukyah berkeyakinan jika posisi hilal sangat rendah, dia tidak bisa di-ru’yah atau terlihat dengan mata telanjang. Karena itu hitungan Ramadan harus disempurnakan (istikmal) 30 hari. Di sinilah sumber perbedaan penentuan Idul Fitri.

 

 

 

Perbedaan penentuan awal bulan hijriah disebabkan dua hal pokok : Pertama : perbedaan penafsiran teks-teks al-Qur’an maupun Hadits yang terkait dengan Hisab dan Ru’yah. Sebagian menafsirkannya secara tekstual. Sedang sebagian yang lain menafsirkannya secara kontekstual. Kedua : Metode yang digunakan dalam penetuan awal bulan.

 

 

1. Penafsiran terhadap Ayat dan Hadits

 

 

Di dalam menafsirkan ayat dan hadits tersebut di atas, yang terkait dengan ru’yah dan hisab, dapat penulis jelaskan sebagai berikut :

1. Tafssir Tekstual

    a. Al-ru’yah

Ulama pada umumnya atau sebagian besar, terutama ulama salaf, menafsirkan ru’yah yang terdapat dalam beberapa hadits nabi dengan penafsiran tekstual. Ibnu Hajar al-‘Asqalani misalnya, menjelaskan ru’yah dalam hadits nabi “janganlah kamu berpuasa sebelum melihat hilal”

Para ahli tafsir dari kalangan fuqaha seperti imam madzhab yang empat Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali berpendapat bahwa ru’yah yang dimaksudkan adalah ru’yah bilbashar (dengan penglihatan mata), bahkan mereka tidak membenarkan penetapan hilal dengan menggunakan ilmu nujum atau hisab. dengan alasan bahwa hisab Imam Hanafi , misalnya, berpendapat bahwa ilmu miqat, hisab, dan nujum itu ketiga-tiganya sama tidak dapat dijadikan pedoman dalam menetapkan ru’yah hilal, dengan alasan bhwa hal itu betentangan dengan syari’at Nabi[30]

    b. faqduru lah

Telah terjadi perdebatan dalam masalah penetapan hilal ini sejak akhir abad pertama hijriyah, ya’ni pada masa tabi’in . kajian ini muncul disebabkan adanya lafazh yang musykil dalam hadits Nabi,yaitu lafazh faqduru lah

 

Di dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslimberikut ini trdapat katafaqduru lah

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ « لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ ، وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ » (رواه الشيخان )[31]

maka hendaklah Dari Abdullah Ibn Umar r.a. Rasulullah saw. Menjelaskan Ramadhan,maka ia  berkata :“Kalau kalian melihat hilaal (awal Ramadhan, -pent) maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal tanda masuk bulan Syawwal) maka berbukalah (idul fitri). Dan jika (pandangan) kalian terhalangi oleh awan,kalian menghitungnya!” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Muslim dan An-Nasa’i)

 


[1] Muhammad Ibn Abdurrahman al-Sakhawi, al-Maqashid al-Hasanah fi Bayan Katsir mi al-Ahadits al-Musytahirah ‘ala al-Alsinah, (Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi ) Juz I, h. 69.

[2] Abu Zakaria Yahya Ibn Syaraf al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, (Beirut, dar Ihya’ al-Turats al-Arabi, 1392 H), Juz 5, h. 27.

[3] Wuzarah al-Auqaf wa al-Syu’un al-Islamiah bi-alKuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiah. Al-Kuwaitiyah, Juz 2 h. 673.

[4] .Abul Salam Nawawi, Mengapa slam Memakai Kalender Bulan, http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/14/11427/, diakses pada tanggal 29-09-2011

 

[5] Abu Muhammad Al-Husain Ibn Mas’ud Al-Baghawi, Ma’alim al-Tanzil, (Beirut, Dar Tahayyibah, 1997 M),  Juz 4, h. 44.

[6] . Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 4, h. 1712. dan Muslim Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, (Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tth), Juz 3, h. 13.5.

 

[7] .Ibn Hajar Al-Asqalani, Ftah al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar al-Ma’rifah, 1379), Juz 8, h. 324.

 

[8] Rinto Anugraha, Pengantar Ilmu Hisab, http://rukyatulhilal.org/artikel/rinto-pengantar-ilmu-hisab.html diakses tgl 23-09-2011

[9] Fakhruddin Al-Razi, Mafatih Al-Ghaib,  Juz 6, h. 932.

[10] Al-Kholil Ibn Ahmad, Al-Ain Juz 1, h. 200

[11] .Ibn Jarir Al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, (  Muassasah al-Risalah, 1420), Juz 15, h. 23.

[12] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 2, h. 675.

[13] . Ibn Hajar Al-Asqalani, Ftah al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar al-Ma’rifah, 1379), Juz 4, h. 127.

 

[14] . Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, tahqiq Musthafa Dib al-Bigha, (Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 2, h. 675.

 

[15] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 2, h. 674. Muslim Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, (Beirut, Dar Ihya’ al-Turats al-Arabi, 1392 H), Juz 2, h. 762.

 

 

 

[16] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 2, h. 674.

[17] . Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 2, h. 675.

[18] . Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz4, h. 203.

[19] .Sulaiman Ibn Al-Asy’ats Abu Daud, Sunan Abu Daud, (Beirut, Darul Fikr, tth), Juz 1, h. 710.

[20] Muslim Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, (Beirut, Dar Ihya’ al-Turats al-Arabi, 1392 H), Juz 5, h. 759.

 

[21] Muslim Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, (Beirut, Dar Ihya’ al-Turats al-Arabi, 1392 H), Juz 2, h. 765.

 

[22]  Al-Razi, Mukhta al-Shihah, (Beirut, Maktabah Lubnan Nasyirun, 1415), juz I, h. 705.

[23] Murtadha Al-Zabidi, Taj al-Arus min Jawahir al-Qamus, (Darul Hidayah, tth), Juz 31 h. 144.

[24] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 2, h. 674.

 

[25] .Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, tahqiq Musthafa Dib al-Bigha, (Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 4, h. 2661.

 

[26] Kamus Besar Bahasa Indonesia,

[27] Ibrahim Mushthafa dkk, al-Mu’jam al-Wasith, al-Maktabah al-Syamilah, Juz 2 h. 317

[28] Hariwijaya Soewandi dan Estu Sinduningrum, Ilmu Kealaman Dasar, (Bogor, Ghalia Indonesia, 2011) h. 106

[29] . Caner Taslaman, Miraccle of The Qur’an, terj. Ary Nilandari, (Bandung, Mican Pustaka, 2010), h. 90-95

[30]. Wahbah Al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa adillatuh, (Damaskus, Dar al-Fikr, tth), Juz 3, h. 33

[31] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 2, h. 674.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

DEKLARASI FORUM KOMUNIKASI HAKIM MHQ

DEKLARASI BERDIRINYA ORGANISASI

 FORUM KOMUNIKASI HAKIM MHQ NASIONAL

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

بسم الله الرحمن الرحيم

 Pada hari ini, Kamis tanggal 19 bulan April tahun Dua ribu duabelas, bertempat di Hotel Harris Bandung Jawa Barat, telah dilaksanakan musyawarah pembentukan FORUM KOMUNIKASI HAKIM MUSABAQAH HIFZHIL QUR’AN

Peserta musyawarah sekaligus peserta orientasi Peningkatan Kualitas Dewan Hakim Bidan Tahfizh yang diselenggarakan oleh Direktur Penais Kemenag RI, telah sepakat membentuk FORUM KOMUNIKASI HAKIM MUSABAQAH HIFZHIL QUR’AN yang diberi nama FORUM KOMUNIKASI HAKIM MUSABAQAH HIFZHIL QUR’AN dengan sekretariat beralamat di Jakarta. Adapun susunan kepengurusan dan daftar anggota  sebagaimana daftar hadir terlampir.Demikian Deklarasi ini laksanakan dengan sebenar-benarnya dan penuh tanggung jawab serta untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.Pengurus FORUM KOMUNIKASI HAKIM MUSABAQAH HIFZHIL QUR’AN terpilih, Ketua Umum : Drs. H. Abdur Rokhim Hasan,M.A.Sekretaris Umum : H. Ahmad Farizi. BendaharaUmum : H. Abdul Basith.

Semoga Allah swt. memberikan taufiq dan hidayh-Nya kepada kita semua, sehingga dapat melaksanakan dan menjalankan roda oraganisasi ini dengan sebaik-baiknya. .amin ya Rabbal ‘alamin

Terima kasih disampaikan kepada peserta musyawarah dan semua pihak yang mendukung dan mensukseskan acara dimaksud.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bandung, 19 Maret 2012

DEKLARATOR

  1. H. Rahmad Beleng  dari NTT
  2. Drs. K.H. Rizali M. Noor dari SULUT
  3. Drs. H. Sualip Khamsin    dari NAD
  4. H. Mar’ie Muhammad, S.Hi dari SUMUT
  5. H. Rusdi Kinan, Lc dari SUMBAR
  6.  H. Murtadha Habibie, Lc  dari Riau
  7. H.  Qomaruddin  dari KEPRI
  8. Bukhari, S.Ag     dari Jambi
  9. Hj. Lailatul Mu’jizat  dari SUMSEL
  10. Ahmad Hijazi   dari BABEL
  11. Iwan Ramadhan Sitorus, M.Hi    dari Bengkulu
  12. H. Arimbi Kusairi, S.Ag  dari Lampung
  13. K.H. Abdul Basith dari Banten
  14. H. Ahmad Farizi dari JABAR
  15. K.H. Ulil Abshor, AH        dari  Jawa Tengah
  16. Zuban, S.Hi    dari Yogyakarta
  17. H. Fathoni Dimyati, Lc     dari Jawa Timur
  18. Dra. Hj. Nurul Huda, MA  dari Kalimantan Barat
  19. H.M. Yusi Abdhian, S.Hi dari KALTENG
  20. Drs.H. M. Abduh Amrie, MA dari KALSEL
  21. H.M. Ramli M. S.Ag   dari  KALTIM
  22. H. Alwin Rans Toma, S.Ag, M.Si   dari Gorontalo
  23. Drs. H. Muh Jabir, M.Pd.I   dari SULTENG
  24. Drs. H. M. Sabir      dari   SULTRA
  25. H. Syam Amir Yunus, S.Sos.I   dari SULSEL
  26. Namru Asdar, S.Ag       dari SULBAR
  27. Ahmad Muhidin, S.Ag, SQ      dari  Bali
  28. Hj. Fuziati Musthofa        dari  NTB
  29. Drs. H. Hadi Basalamah, M.Fil    dari Maluku
  30. Drs. Mujais Walanda, M.M. MALUT
  31. H. Miftahul Huda, S.Hi, MH  dari  PAPU
  32. H. Muchsin Bin Thahir, BA  dari PAPUA BARAT
  33. H. Ahmad Farizi  dari JABAR
  34. Ibadillah Zaruqi                 dari JABAR
  35. Drs. Nurofiq, M.Pd.I   dari JABAR
  36. Didin Saifudin Ibad dari   JABAR
  37. H. Muhammad Zakaria,  dari  JABAR
  38. H. Hasan Arsyad   dari   Pusat
  39. Hj. Isma Sumaryani  dari Pusat
  40. Abdullah Kamil, S.Pd.I dari Pusat

SUSUNAN PENGURUS

DEWAN PIMPINAN PUSAT

FORUM KOMUNIKASI HAKIM MUSABAQAH HIFZHIL QUR’AN

DEWAN PEMBINA

Ketua            : H. Rahmad Beleng     dari    NTT

Anggota        : 1.  Drs. K.H. Rizali M. Noor     dari SULUT

2.  H. Rusdi Kinan, Lc   dari    SUMBAR

  1. H. Muchsin Bin Thahir, BA   dari   PAPUA BARAT
  2. Drs. H. Hadi Basalamah, M.Fil    dari Maluku
  3. K.H. Ulil Abshor, AH        dari  Jawa Tengah
  4. H.M. Thohir, S.Pd

DEWAN PENGURUS

Ketua Umum         : Drs. H. Abdur Rokhim Hasan, M.A.

Ketua                      : Hj. Lailatul Mu’jizat  dari SUMSEL

Ketua                      : Drs.H. M. Abduh Amrie, MA dari KALSEL

Sekretaris Umum  : H. Ahmad Farizi, M.Pd.I

Sekretaris                : Didin Saifudin Ibad dari   JABAR

Sekretaris                : Ahmad Muhidin, S.Ag, SQ      dari  Bali

Bendahara Umum : H. Abdul Basith

Bendahara              : H. Arimbi Kusairi, S.Ag  dari Lampung

DEPARTEMEN-DEPARTEMEN

Departemen Pendidikan dan Pembinaan  :

  1. Drs. H. Sualip Khamsin    dari NAD
  2. H. Mar’ie Muhammad, S.Hi dari SUMUT
  3. H. Murtadha Habibie, Lc  dari Riau
  4. H.  Qomaruddin  dari KEPRI
  5. Bukhari, S.Ag     dari Jambi
  6. Ahmad Hijazi   dari BABEL
  7. Iwan Ramadhan Sitorus, M.Hi    dari Bengkulu

Departemen Humas dan Komunikasi :

  1. H. Arimbi Kusairi, S.Ag  dari Lampung
  2. H. Ahmad Farizi dari JABAR
  3. Zuban, S.Hi    dari Yogyakarta
  4. H. Fathoni Dimyati, Lc     dari Jawa Timur
  5. Dra. Hj. Nurul Huda, MA  dari Kalimantan Barat
  6. H.M. Yusi Abdhian, S.Hi dari KALTENG

Departemen Kaderisasi        :

  1. Drs.H. M. Abduh Amrie, MA dari KALSEL
  2. H.M. Ramli M. S.Ag   dari  KALTIM
  3. H. Alwin Rans Toma, S.Ag, M.Si   dari Gorontalo
  4. Drs. H. Muh Jabir, M.Pd.I   dari SULTENG
  5. Drs. H. M. Sabir      dari   SULTRA
  6. H. Syam Amir Yunus, S.Sos.I   dari SULSEL
  7. Namru Asdar, S.Ag       dari SULBAR

Departemen Hubungan Antar Lembaga :

  1. Hj. Fuziati Musthofa        dari  NTB
  2. Drs. Mujais Walanda, M.M. MALUT
  3. H. Miftahul Huda, S.Hi, MH  dari  PAPU
  4. Ibadillah Zaruqi                 dari JABAR
  5. Nurofiq   dari JABAR
  6. H. Muhammad Zakaria,  dari  JABAR

ANGGARAN DASAR

FORUM KOMUNIKASI HAKIM MUSABAQAH HIFZHIL QUR’AN

 

MUKADIMAH

Bismillahirrahmanirrahim
Sesungguhnya, AL-Qur’an adalah nikmat Allah subhanahu wata’ala yang tertinggi dan termulia yang dikaruniakan kepada hamba-Nya yang beriman, bertaqwa, berilmu, dan beramal. Oleh karena itu
penerima al-Qur’an wajib bersyukur dengan mengmalkannya sebagai wujud pengabdian kepada Allah subhanahu wata’ala melalui pengajaran dan pembinaan kepada umat.

Hakim Musbaqah Hifzhil Qur’an dalam kedudukannya sebagai hamba Allah subhanahu wata’ala, perlu mengembangkan peluang dan merumuskan pemikiran dan konsep strategis, sekaligus mengupayakan pemecahan konkrit
permasalahan strategis menuju pemahaman dan pengamalan al-Qur’an.

Berdasarkan keyakinan dan kenyataan tersebut dan dengan memohon taufiq dan hidayah Allah subhanahu wata’ala, maka para Hakim Musbaqah Hifzhil Qur’an bersepakat untuk bersatu
dalam suatu wadah pengabdian dengan membentuk Forum Komunikasi Hakim Musbaqah Hifzhil Qur’an se-Indonesia.

BAB I
NAMA,WAKTU DAN KEDUDUKAN

Pasal 1
N am a
Organisasi ini bernama Forum Komunikasi Hakim Musbaqah Hifzhil Qur’an.

(FKHMHQ)

Pasal 2
Tempat danWaktu Didirikan
FKHMHQ didirikan di Bandung, pada hari Kamis tanggal 27 Jumadil Ula 1433 H, bertepatan dengan tanggal 19 April 2012 M, untuk jangka waktu yang tidak ditentukan

Pasal 3
Kedudukan
FKHMHQ berpusat dan berkedudukan hukum di Ibu Kota Negara Republik Indonesia.

BAB II
ASAS DAN TUJUAN
Pasal 4
Asas
FKHMHQ berasaskan Islam dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Pasal 5
Tujuan
FKHMHQ bertujuan mewujudkan generasi Qur’ani dalam tata kehidupan masyarakat madani yang diridhoi Allah subhanahu wata’ala dengan meningkatkan mutu bacaan, pemahaman dan pengamalan al-Qur’an

BAB III
SIFAT ORGANISASI DAN KEGIATAN

Pasal 6
Sifat Organisasi
FKHMHQ adalah organisasi kemasyarakatan yang bersifat :
a. Ke-Al-Qur’an-an dan Ke-Indonesiaan
b. Keilmuan
c. Keterbukaan dan Kekeluargaan

Pasal 7
Kegiatan
Untuk mencapai tujuan, FKHMHQ menyeleng-garakan kegiatan-kegiatan berikut :

1. Meningkatkan kemampuan al-Qur’an dan pengamalannya, melalui peningkatan pembelajaran.
2. Mengembangkan pemikiran, menyelenggarakan penelitian dan pengkajian yang inovatif, strategis, dan antisipatif dalam rangka menjaga kemurnian al-Qur’an
3. Berperan aktif mengembangkan sistem pendidikan al-Qur’an guna meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dalam rangka mencerdaskan kehidupan masyarakat dan bangsa, khususnya umat Islam Indonesia
4. Menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan martabat rakyat guna mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
5. Mempublikasikan dan mengkomunikasikan hasil-hasil pemikiran, penelitian, kajian, dan inovasi bekerjasama dengan berbagai kalangan, baik perorangan, lembaga, perhimpunan, pemerintah maupun swasta.

BAB IV
KEANGGOTAAN

Pasal 8
Anggota
Anggota FKHMHQ terdiri atas anggota biasa dan anggota luar biasa.

Pasal 9
Kewajiban dan Hak Anggota
1) Setiap anggota berkewajiban mematuhi Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, ketetapan dan keputusan organisasi lainnya
2) Setiap anggota dapat menyatakan pendapat, usulan, dan saran kepada Pengurus FKHMHQ.
3) Setiap anggota biasa mempunyai hak memilih dan dipilih untuk memangku jabatan kepengurusan organisasi

BAB V
KEORGANISASIAN DAN PERMUSYAWARATAN
Pasal 10
Struktur Organisasi
1) Struktur organisasi FKHMHQ terdiri atas Pimpinan Cabang yang disingkat PC dengan lingkup kawasan setempat/ Kecamatan, Pimpinan Daerah disingkat PD dengan lingkup Kabupaten/Kota, Pimpinan Wilayah yang disingkat PW dengan lingkup Propinsi dan Pimpinan Pusat yang disingkat PP dengan lingkup Indonesia.
2) Apabila di suatu daerah tertentu terdapat kekhususan, baik dalam maupun luar negeri, maka guna memudahkan pengaturan administrasi dan koordinasi dengan instansi pemerintah, dan Organisasi Pusat bila dipandang perlu dapat dibentuk DPW.
3) Apabila diperlukan di setiap jenjang organisasi dapat dibentuk Badan Otonom disingkat Banom sesuai dengan kebutuhan yang berfungsi turut mewujudkan pencapaian
tujuan FKHMHQ dalam bidang tertentu dan bertanggung jawab kepada Pengurus sesuai dengan jenjang organisasinya.

Pasal 11
Fungsi Organisasi
1) FKHMHQ adalah wadah atau organisasi Hakim MHQ yang menghimpun para pembina huffazh

2) FKHMHQ senantiasa memelihara dan melestarikan persatuan dan kesatuan bangsa melalui kerjasama kemitraan dengan pemerintah, organisasi pembina al-Qur’an.
3) Setiap jenjang organisasi FKHMHQ (DPC, DPD, DPW, DPP) berfungsi menyiapkan dan melaksanakan program jangka pendek, menengah dan panjang untuk mewujudkan
pemahaman dan pengamalan al-Qur’an di daerah masing masing.
3) Setiap jenjang organisasi FKHMHQ berfungsi mendorong dan memotivasi anggotanya untuk meningkatkan kreativitas dan pembelajaran diri sendiri dalam rangka mencapai tujuan FKHMHQ.

Pasal 12
Permusyawaratan
1) Permusyawaratan dalam FKHMHQ meliputi: Muktamar, Musyawarah, Silaturahmi, Muzakarah serta bentuk-bentuk pertemuan komunikasi lainnya yang dianggap perlu.
2) Status, fungsi dan mekanisme permusyawaratan yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB VI
KEBERSAMAAN DAN JARINGAN

Pasal 13
Kebersamaan
Setiap anggota FKHMHQ dapat mengembangkan kegiatan kebersamaan dan kegiatan melalui kelompok dan jaringan antar sesama anggota setempat, antar tempat, sewilayah atau lintas wilayah, melalui koordinasi organisasi anak cabang, cabang, wilayah atau pusat, sesuai dengan ketentuan organisasi.

Pasal 14
Jaringan Kerjasama
Jaringan kerjasama pada setiap jenjang kepengurusan perlu dikembangkan dengan lembaga, kelompok, jaringan atau himpunan lain yang sesuai dengan tujuan dan kegiatan FKHMHQ.

BAB VII
KEPENGURUSAN

Pasal 15
Jenjang Kepengurusan
1) Kepengurusan FKHMHQ terdiri atas Dewan Pimpinan Cabang, Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Pimpinan Wilayah, dan Dewan Pimpinan Pusat.
2) Dewan Pimpinan Pusat FKHMHQ diwakili oleh Ketua Umum, atau Ketua I, Ketua II, atau Sekretaris Umum, S ekretas I, Sekretaris II atau Bendahara Umum atau Bendahara.
3) Dewan Pimpinan Wilayah, Daerah atau Cabang diwakili oleh Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris atau Wakil Sekretaris, Bendahara atau Wakil Bendahara sesuai dengan jenjang organisasinya.

Pasal 16
Pimpinan Jenjang Kepengurusan
1) Dewan Pimpinan Cabang disingkat DPC dipimpin oleh Ketua Organisasi Cabang.
2) Dewan Pimpinan Daerah disingkat DPD dipimpin oleh Ketua Organisasi Daerah.
3) Dewan Pimpinan Wilayah disingkat DPW dipimpin oleh Ketua OrganisasiWilayah.
4) Dewan Pimpinan Pusat disingkat DPP dipimpin oleh Ketua Umum.

BAB VIII
KEKAYAAN, KEUANGAN DAN BADAN USAHA

Pasal 17
Sumber Kekayaan dan Keuangan
Kekayaan dan keuangan FKHMHQ diperoleh dari:
1) Uang pangkal dan iuran anggota.
2) Zakat, infaq, sadaqah, hibah, dan wakaf.
3) Usaha-usaha yang dikelola FKHMHQ serta sumbangan lain yang halal, tidak mengikat dan tidak melanggar hukum.

Pasal 18
Badan Usaha
Dalam rangka mencapai tujuan organisasi, FKHMHQ membentuk badan-badan usaha baik yang dikelola oleh Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Wilayah, Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Pimpinan Cabang maupun oleh Badan-Badan Otonom, yang dimandatkan secara organisatoris dan notarial.

BAB IX
PENETAPAN DAN PERUBAHAN

Pasal 19
Penetapan dan Perubahan
Penetapan dan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga FKHMHQ dilakukan melalui Muktamar dan disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 (dua per tiga) anggota yang hadir.

BAB X
PEMBUBARAN

Pasal 20
Pembubaran
1) Pembubaran FKHMHQ dilakukan melalui Muktamar yang diadakan khusus untuk keperluan itu.
2) Keputusan pembubaran hanya dapat dilakukan apabila Muktamar tersebut dalam ayat 1) dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 (dua per tiga) jumlah anggota.
3) Keputusan pembubaran diambil jika disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 (dua per tiga) jumlah anggota yang hadir.
4) Apabila FKHMHQ dibubarkan, maka seluruh harta kekayaan organisasi dapat diserahkan kepada badan-badan, lembaga ilmiah atau pendidikan Islam atau lembaga sosial yang ada di Indonesia.

BAB XI
ATURAN TAMBAHAN
Pasal 21
Aturan Tambahan
Hal-hal yang belum ditetapkan atau dirinci dalam Anggran Dasar ini akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB XII
P E N U T U P

Pasal 22
P e n u t u p

……………………………………………..

VISI FKHMHQ :

Menjadi Organisasi Kebanggaan para ahli al-Qur’an dalam menjaga kemurnian al-Qur’an dari kesalahan bacaan, pemahaman, dan pengamalannya dengan dikelola secara profesional dan tranparan sehingga dapat memberikan banyak manfaat kepada umat

MISI FKHMHQ :

  1. Menjaga kesucian dan kemurnian al-Qur’an dari kesalahan bacaan, penafsiran dan pengamalan.
  2. Meningkatkan kualitas tahfizh al-Qur’an.
  3. Mendorong lahirnya ahli al-Qur’an.
    1. Mendorong terselenggaranya Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) yang jujur dan adil.
    2. Memulyakan dan mensejahterakan para ahli al-Qur’an.

TUJUAN FKHMHQ  :

  1. Jangka Panjang : Terwujudnya ahli al-Qur’an yang dapat menjaga dan mengawasi kemurnian al-Qur’an.
  2. Jangka Menengah : Mendorong terselenggaranya Musabaqah Hifzhil Qur’an yang jujur dan adil.
  3. Jangka pendek : Memulyakan ahli al-Qur’an dengan meningkatkan kesejahteraan.

PROGRAM FKHMHQ  :

  1. Meningkatkan kualitas tahfizh al-Qur’an melalui pembinaan terpusat (Trining Centre).
  2.  Melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap penyelenggaraan MHQ.
  3. Memberikan masukan kepada pemerintah, baik pusat meupun daerah untuk membenahi sistem MHQ yang jujur dan adil.
  4. Melakukan kerjasama kepada lembaga-lembaga penyelenggara Musabaqah Hifzhil Qur’an.
  5. Memberikan masukan, usulan dan kritikan terhadap Dewan Hakim Musabaqah Hifzhil Qur’an.
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar