bukti adanya BID’AH HASANAH dalam ibadah

BUKTI ADANYA BID’AH HASANAH DALAM IBADAH

             Bid’ah adalah melaksanakan amalan (ibadah) yang tidak pernah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad saw.

Ada beberapa Hadits  yang menjelaskan bid’ah, yaitu :

 عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ » (متفق عليه)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ » (رواه مسلم )

 

 عن الْعِرْبَاضِ بْنَ سَارِيَةَ َقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ».(رواه أبو داود)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ (رواه النسائي)

عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لِبِلاَلِ بْنِ الْحَارِثِ « اعْلَمْ ». « أَنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِى فَإِنَّ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلاَلَةٍ لاَ يَرْضَاهَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا (رواه الترمذي وقال هذا جديث حسن)

 Penulis tidak menjelaskan dan menafsirkan hadits-hadits tersebut. Sebab apapun penjelasan dan penafsiran penulis pasti kurang (tidak) dipercaya, karena kedangkalan ilmu penulis. Penulis ingin menjelaskan pendapat ulama besar. Ulama yang diakui ke-ulama-annya oleh banyak ulama.

* Bid’ah terbagi menjadi dua : 1. Bid’ah Hasanah (bid’ah baik). 2. Bid’ah Sayyiah (bid’ah buruk).

*Bukti adanya bid’ah hasanah sebagai berikut :

A. Di dalam kitab hadits Shahih Bukhari diriwayatkan perkataan Umar Ibn Al-Khatthab “ni’mal bid’atu hadzih”(sebaik-baik bid’ah adalah ini).[1] Ini menunjukkan dengan jelas adanya Bid’ah Hasanah.

B. Realita : Di Masjidil Haram terjadi Bid’ah Hasanah, contohnya :

a. Shalat tarawih (qiyamullail Ramadhan) 20 rak’at adalah Bid’ah Hasanah, karena tidak ada hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw. melakukan itu. Shalat tarawih dengan jumlah 20 raka’at ini berlangsung samapai sekarang di Masjidil Haram, padahal di sana banyak ulama.

b. Penggunaan pengeras suara dalam melaksanakan shalat, dan ini terkait dengan ibadah.

C. Pendapat para ulama :

1 & 2. Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani meriwayatkan pendapat Imam Al-Syafi’i :

“Al-Imam Al-Syafi’i berkata : bid’ah terbagi dua : terpuji dan tercela, bid’ah yang sesuai dengan Al-Sunnah adalah terpuji sedangkan yang bertentangan dengan al-Sunnah adalah tercela. Sebagian ulama membagi bid’ah menjadi lima (wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah) dan itu jelas. (lihat Ibn Hajar al-Asqalani,Fath al-Bari Shahih al-Bukhar, Bab al-iqtida’ bi sunan rasulillah saw. )

3. Ibnu Rajab Al-Hanbali (seorang tokoh ulama pengikut Imam Hanbali, menyatakan “sesuatu  yang diperbaharui memiliki dasar syari’ah, maka tidak temasuk bid’ah menurut syari’ah, walaupun itu termasuk bid’ah menurut bahasa”.(lihat Ibn Rajab al-Hanbali, Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam)

4. Badruddin Al-Aini Al-Hanafi (tokoh ulama ahli hadits, menulis 25 kitab, antara lain yang monumental adalah Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari) menyatakan “bid’ah itu ada dua; apabila masih dalam kategeri sesuatu yang dianggap baik oleh syara’ maka tergolong bid’ah hasanah, dan bila masuk dalam kategori sesuatu yang dianggap buruk oleh syara’ maka bid’ah mustaqbahah (buruk)”  (lihat Badruddin Al-Aini Al-Hanafi, Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari)

5. Abu Zakariya Yahya Ibn Syaraf Al-Nawawi, atau yang terkenal dengan Imam Nawawi menyatakan “para ulama mengatakan : Bid’ah ada lima macam ; wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah” (lihat Abu Zakariya Yahya Ibn Syaraf Al-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim Ibn al-Hajjaj, Juz 4 h. 155)

Dan banyak lagi pendapat ulama-ulama lain tentang adanya bidah hasanah.

 

Penulis

 

Abdur Rohim Hasmi

 


[1] .Al-Bukhari, Shahih Bukhari, Juz 2, h. 707 (al-maktabah al-syamilah)

Tentang FORUM STUDY ISLAM

kasih sayang
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s