KERJASAMA DAN TOLERANSI DENGAN NON MUSLIM

HUBUNGAN KERJASAMA MUSLIM DENGAN NON MUSLIM

DALAM PERSPEKTIF TAFSIR ALQUR’AN

Oleh : Abdur Rokhim

 

  1. A.      Pendahuluan

       Hubungan muslim dengan non muslim sering diwarnai dengan ketegangan dan kekerasan bahkan menjurus kepada radikalisme. Hal ini bisa disebabkan karena masalah keagamaan (da’wah), sosial kemasyarakatan, atau politik.

      Bangsa Indoneseia memiliki budaya  yang relatif unig, banyak terjalin kerjasama antara Umat muslim dengan umat kristiani dalam event-event keagamaan, seperti dalam penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), baik tingkat daerah maupun nasional. Kerjasama ini dalam berbagai hal, dalam kepanitiaan, bantuan tenaga, dan finansial. Demikian pula ketika umat Kristiani melaksanakan perayaan natal, maka banyak umat muslim yang bekerjasama dan membantu mereka dalam kesuksesan perayaan natal tersebut. Ormas NU (GP ANSOR), misalnya, mengerahkan Banser-nya untuk menjaga dan mngamankan gereja dalam perayaan natal. Demikian halnya dengan umat buda dan hindu di Bali dan daerah-daerah lain.

         Dalam wilayah politik umat Islam juga bekerjasama dengan non muslim, sebagaimana dalam kepengurusan organisasi politik, baik yang bernuansa kebangsaan seperti partai Golkar, PDIP, Demokrat, dan lain-lain, maupun yang bernuansa keagamaan seperti PKS, PKB, PAN, PDS, dan lain-lainnya.

       Maka dalam makalah ini penulis akan membahas tentang “Hubungan Kerjasama Muslim dengan Non Muslim dalam perspektif tafsir al-Qur’an” dengan sistematika penulisan sebagai berikut :

       Tulisan ini akan penulis bagi menjadi beberapa pembahasan, dalam sub tema berikut ini, yang menjadi satu kesatuan pembahasan secara utuh sehingga akan dapan disimpulkan berdasarkan permasalahan yang penulis kemukakan :

  1. Pendahuluan
  2. Non Muslim
  3. Hubungan Muslim dengan non muslim
  4. Kesimpulan
    1. B.      Non Muslim

       Kata Non Muslim mancakup seluruh komunitas umat di luar umat Islam, baik kaum agamawan maupun non agamawan, termasuk di antaranya adalah : Yahudi, Nashrani, Hindu, Budha, dan orang kafir.

       Al-Qur’an menyebutkan beberpa komunitas agama, antara lain adalah : Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani),  al-shabi’un, al-majus, komunitas agama lain, Musyrik, dan Kafir. Agar dapat gambaran secara lengkap, maka Penulis akan membahas komunitas agama dan kelompok lainnya yang terkait dengan masalah agama.

  1. Ahlul Kitab

      Term Ahlul Kitab disebutkan secara langsung di dalam al-Qur’an sebanyak 31 kali dan tersebar pada 9 surat yang berbeda. Kesembilan surat tersebut adalah al-Baqarah, Ali ‘Imran, al-Nisa’, al-Maidah, al-Ankabut, al-Ahzab, al-Hadid, al-Hasyr, dan al-Bayyinah. Dari kesembilan surat tersebut hanya al-Ankabut lah satu-satunya yang termasuk dalam surat Makkiyah dan selebihnya termasuk dalam surat-surat Madaniyah. 

     Ini mengisyaratkan bahwa interaksi dengan Ahlul Kitab baru berjalan intensif tatkala Nabi Muhammad SAW berada di Madinah. Ini dikarenakan bahwa di Kota Makkah sendiri pada waktu itu (periode Makkah) penganut agama Yahudi sangat sedikit. Adapun yang dihadapi Nabi SAW dalam dakwahnya adalah kaum musyrik penyembah berhala.[1] 

       Istilah Ahlul Kitab pada surat al-Ankabut ayat 46 sendiri, menurut al-Thaba’thaba’i ialah umat Yahudi dan Nasrani.[2] Pada ayat itu, dijelaskan bahwa umat Islam dilarang berdebat dengan Ahlul Kitab kecuali dengan cara yang lebih baik. Ini adalah tuntunan agar umat Islam melakukan interaksi sosial dengan Ahlul Kitab  dengan cara yang baik. Artinya, perbedaan pandangan dan keyakinan antara umat Islam dan Ahli Kitab tidak menjadi penghalang untuk saling membantu dan bersosialisasi. Menurut Yusuf Qaradhawi, hal ini dikarenakan Islam sangat menghormati semua manusia apapun agama, ras dan sukunya.[3]

        Istilah Ahlul Kitab sendiri ditemukan lebih bervariasi pada ayat-ayat Madaniyah. Meski demikian, semuanya tetap ditujukan kepada Yahudi dan Nasrani atau salah satu dari mereka. Senada dengan itu, Abdul Mun’im al-Hafni juga membatasi bahwa yang dimaksud Ahli Kitab adalah Yahudi dan Nasrani.[4]

            Kedudukan Ahlul Kitab

       Dalam pandangan Islam, status Ahlul Kitab jelas termasuk kategori kufur. Menurut Imam al-Ghazali (w. 505 H) kufur berarti pendustaan terhadap Rasulullah saw dan ajaran yang dibawanya.[5] Abu Zahrah mengatakan bahwa mengingkari (kufur) Muhammad berarti mengingkari syariat Allah secara keseluruhan. Ini karena, syariat yang dibawa Nabi Muhammad merupakan pelengkap dan penutup syariat Allah.[6]  

       Inilah yang dimaksud oleh al-Thabary sebagai ukuran keimanan bagi Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Yakni, pembenaran mereka terhadap kenabian Muhammad saw dan ajaran yang dibawanya.[7].   Bahkan Ibn Katsir lebih menekankan bahwa kedua kelompok tersebut jika tidak mengikuti Muhammad saw, dan tidak meninggalkan sunnah Nabi Isa dan Kitab Injil, maka akan binasa. 

        Lebih jauh dikatakan Ibn Katsir: “(Ukuran) keimanan orang-orang Yahudi adalah jika mereka berpegang kepada Taurat dan sunnah Nabi Musa hingga datang periode Nabi Isa. Pada periode Nabi Isa, orang-orang yang berpegang pada Taurat dan sunnah Nabi Musa dan tak mengikuti Nabi Isa, maka mereka akan binasa. Sementara (ukuran) keimanan orang-orang Nasrani adalah jika berpegang kepada Injil dan syari’at Nabi Isa.       Keimanan orang tersebut dapat diterima hingga datang periode Nabi Muhammad saw. Pada periode Nabi Muhammad saw ini, orang yang tidak mengikutinya dan tidak meninggalkan sunnah Nabi Isa dan Kitab Injil, maka binasa.[8] 

        Ini menunjukkan bahwa memang keadaan manusia pada waktu itu, baik dari segi sosialnya bahkan akidahnya, benar-benar mengkhawatirkan. Masyarakat Musyrik ‘Arab, golongan Yahudi dan Nasrani menjadikan patung-patung,  para rahib dan pendeta sebagai tuhan-tuhan. Maka, amat sangat perlu diutus seorang Rasul untuk memurnikan akidah mereka, yakni Muhammad SAW. Dan mereka wajib mempercayainya dan ajaran yang dibawanya.   

        Ini menunjukkan relevansi pernyataan kedua ulama (al-Thabary dan Ibn Katsir) sebelumnya, bahwa ukuran keimanan Yahudi dan Nasrani adalah dengan memeluk Islam. Perintah ini sejatinya sudah dikabarkan oleh Kitab Suci mereka sendiri. Namun seakan mereka tidak mendengar dan malah menyembunyikan kabar tersebut. Al-Qur’an mengabarkan pembangkangan mereka dalam surat Ali ‘Imran: 71: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?”

    Menanggapi ayat tersebut, para Mufassir menjelaskan bahwa Ahli Kitab menyembunyikan kabar tentang kenabian Muhammad di dalam Kitab Suci mereka, Taurat dan Injil.[9]

        Menyembunyikan kenabian Muhammad berarti menyembunyikan datangnya agama Islam. Menurut al-Thabary, inilah yang menyebabkan mereka disebut kafir. Secara eksplisit, Ahli Kitab diidentifikasi sebagai orang-orang kafir sebagaimana halnya orang-orang musyrik. Dalam surat al-Bayyinah: 1 Allah berfirman, “Orang-orang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” 

      Istilah kufr dalam ayat tersebut, menurut Ibn ‘Asyur, ialah orang-orang yang menentang dan menolak kerasulan Muhammad.[10] Kekafiran Ahli Kitab dalam ayat ini sangat jelas, sama halnya dengan kekafiran orang musyrik, yakni sama-sama menentang dan menolak ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. 

       Inilah perspektif Islam dalam perspektif teologis dalam memandang Ahlul Kitab. Keyakinan ini tentu wajib dihormati, sebagaimana kaum Muslim juga menghormati keyakinan-keyakinan lain. Konsep ideal adalah: keyakinan terjamin, kerukunan terjalin.  

  1. C.      Hubungan Kerjasama Muslim dengan Non Muslim

          Hubungan muslim dengan non muslim telah dijelaskan dalam syari’at Islam, baik dalam masalah ibadah maupun muamalah.

  1. Dalam masalah ibadah, hubungan muslim dengan non muslim telah diatur dengan jelas dan tegas, bahwa kaum muslim harus menghormati ibadah mereka, dan tempat-tempat idabah mereka (toleran dalam beribadah), dengan tetap menjaga kemurnian ibadah, ya’ni tidak mengikuti kegiatan mereka dalam beribadah. Hal ini telah dijelaskan dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah ; 139, al-Qashash : 55, al-Syura : 15, al-Kafirun : 1-6 (tantang toleransi dalam ibadah) dan al-HaJJ : 40 tentang melindungi tempat ibadah).
  2. Dalam masalah muamalah, al-Qur’an banyak menjelaskan tentang hubungan muslim dangan non muslim dalam masalah muamalah.

Dalam makalah ini penulis mencoba membahas hubungan muslim dengan non muslim dalam maaslah sosial (mu’amalah).

Untuk mendapatkan uraian dan informasi yang lengkap , maka penulis akan mengkaji ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi yang terkait dengan tema serta bagaimana para ulama menafsrikan ayat-ayat tersebut.

  Pada Surah Ali Imran : 28  Allah swt. Berfirman : 

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً

وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (ال عمران : 28)

 

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)”.(Q.S. Ali Imran : 28)

         Ada ayat-ayat lain yang terkait dengan penafsiran ayat tersebut, antara lain Surah Ali Imran : 118, An-Nisa’ : 114, al-Maidah : 51, 57 dan al-Mumtahanah : 1.  Ayat-ayat tersebut kandungan ma’nanya sebagian besar sama dengan kandungan ma’na Surah Ali Imran : 28, ya’ni larangan menjadikan orang-orang kafir atau Yahudi dan Nashrani sebagai teman kepercayaan (teman dekat).

         Pada ayat-ayat tersebut digunakan kata auliya’ , hanya pada satu ayat yang menggunakan kata bithanah, yaitu pada surah Ali Imran 118.  Kata auliya’  berasal dari kata wali (bentuk mufrad/tunggal) kemudian dirubah bentuk jam’ menjadi auliya’ wali memilikima’na beragam, antara lain : orang yang menguasai sesuatu, melaksanakan sesuatu, orang yang menolong, orang yang menyintai, dan teman akrab.[11]       Al-Thabari menafsirkan kata auliya pada Surah Ali Imran : 28 dengan anshar dan akhilla’ [12]

      Pada Surah Ali Imran : 118,  Allah swt. Menjelaskan larangannya terhadap orang mu’min untuk menjadikan orang-orang non muslim sebagai bithanah. Kata bithanah menurut Ibn Katsir adalah keluarga khusus bagi seseorang sehingga mengetahui rahasianya.[13] Al-Qurthubi mendefinisakan bithanah hampir sama dengan Ibn Katsir, yaitu orang-orang yang memiliki hubungan khusus sehingga mengatahui rahasinya.[14] Di dalam hadits Rasulullah saw. menjelaskan bithanah :

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِىٍّ وَلاَ اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ ، إِلاَّ كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ ، بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ ، فَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى »  ( رواه البخاري)

 

“Dari Abu Sa’id al-Khudri, dari Rasulullah saw. Berkata : Allah swt. Tidak mengutus Nabi dan tidak mengangkat khalifah kecuali baginya dua bithanah(teman kepercayaan) :1. Bithanah yang memerintahkan kebaikan dan menganjurkannya, dan 2. Bithanah yang memerintahkan keburukan dan menganjurkannya. Maka orang yang ma’shum (terpelihara) adalah orang yang dipelihara oleh Allah swt”.(H.R. Bukhari)

 

       Dengan penjelasan tersebut di atas dan didukung dengan hadits Nabi, maka jelas bahwa yang dimaksud bithanah adalah teman kepercayaan atau teman khusus.                                      

       Al-Thabari menafsirkan ayat tersebut, bahwa Allah swt. Melarang orang-orang mu’min menjadikan orang non muslim sebagai “bithanah”(teman)   yang dengan jelas mereka dikenal sebagai orang yang menipu terhadap Islam dan Umat Islam, dengan bukti yang nyata atau dengan tanda-tanda meupun isyart akan permusuhan. Adapun orang yang tidak dapat dipastikan bahwa mereka akan menipu umat Islam, maka tidak boleh bagi umat Islam untuk menghalang-halangi berteman dengan mereka[15]

          Dalam menafsrikan ayat ini al-Thabari mengaitkan penafsirannya dengan ayat 118 surat Ali Imran, bahwa yang dimaksud bithanah yang dilarang oleh Allah swt. adalah orang munafik yang tanpak tanda-tanda kemunafikannya, jika mereka datang kepada sahabat-sahabat Rasulullah, maka mereka menyatakan iman, tetapi sesungguhnya mereka bohong.[16]

          Al-Thabari juga melengkapi penafsiran ayat ini dengan ayat 23 Surat al-Taubah.         Ayat ini menurutnya ; menjelaskan  dan mengingatkan kepada orang-orang mu’min agar mereka tidak menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudara mereka sebagai bithanah (teman kepercayaan) yang dapat menyebarkan rahasia dan kejelekan umat Islam, apabila mereka kafir. [17]

        Sedangkan Ibn Katsir menafsirkan ayat ini; bahwa Allah swt. Melarang orang mukmin menjadikan orang munafik sebagai bithanah yang akan dapat mengetahui rahasia untuk disebarkan kepada musuh-musuh Islam.

       Kalau kita melihat sejarah pada masa Rasulullah saw. , maka sesungguhnya hubungan muslim dengan non muslim sudah terjalin dengan baik, misalnya, Rasulullah saw. Menyewa Abdullah ibn Uraiqith al-Laitsi untuk menjadi petunjuk jalan ketika Rasulullah saw. hijrah ke Madinah. Abdullah ibn Uraiqith al-Laitsi adalah orang kafir Quraisy, teman akrabnya al-‘Ash ibn Wail al-Sahmi, ayahnya ‘Amr Ibn al-‘Ash.[18]   Rasulullah saw. juga mengambil pembantu dari orang yahudi sebagaimana diriwayatkan dalam Hadits Imam Bukhari berikut ini :

  عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِىٌّ يَخْدُمُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ « أَسْلِمْ » . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهْوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ – صلى الله عليه وسلم – . فَأَسْلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ يَقُولُ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ »[19]    (رواه البخاري)

”Dari Anas r.a. berkata : Ada seorang yahudi menjadi pembantu Rasulullah saw. kemudian sakit , lalu Rasulullah saw. menjenguknya, dan duduk di samping kepalanya, kemudian Rasulullah berkata : masuklah Islam kamu !, kemudian ia memandangi wajah ayahnya yang duduk disampingnya. Kemudian ayahnya berkata : ikuti Abu al-Qasim (Rasulullah saw), maka ia masuk Islam . kemudian Rasulullah pergi sambil berkata : Segala puji bagi Allah yang telah menyelematkannya dari neraka .(H.R. Bukhari)  

       Rasulullah saw. juga bekerja sama dengan orang yahudi dalam menggarap kebun, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits berikut ini :

عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ – رضى الله عنه – قَالَ أَعْطَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَيْبَرَ الْيَهُودَ أَنْ يَعْمَلُوهَا

وَيَزْرَعُوهَا وَلَهُمْ شَطْرُ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا[20]  (رواه البخاري )

“Dari Nafi’ dari Abdullah r.a. berkata : Rasulullah saw. memberikan tanah Khaibar kepada Orang yahudi untuk digarap dan ditanami, dan bagi mereka separuh dari hasilnya”(H.R. Bukhari)

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِىٍّ إِلَى أَجَلٍ ،

 وَرَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيدٍ .[21] (رواه البخاري ومسلم)

“Dari Aisyah r.a. berkata : bahwa Rasulullah saw. membeli makanan dari seorang yahudi dengan menggadaikan baju perangnya yang tebuat dari besi. (H.R. Bukhari dan Muslim)

        Dari rekaman sejarah tersebut nampaknya tidak pernah terjadi ketegangan dan konflik yang berbau agama antara kaum muslim dengan kaum non muslim, bahkan Rasulullah saw. benar-benar melindungi mereka. Hal ini dinyatakan dalam sabdanya :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ رِيحَهَا يُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا » (رواه البخاري)[22]

 

                                       

.”Dari Abdullah Ibn Amr, dari Rasulullah saw. bekata : barangsiapa membunuh seseorang yang ada ikatan perjanjian dengan kaum muslimin (kafir dzimmi)[23] maka tidak akan dapat mencium bau surga, dan bau surga dapat ditemukan dari jarak tempuh perjalanan 40 (empat puluh) tahun (H.R. Bukhari)

 

 

 

Kesimpulan

 

Dari uraian tafsir tersebut di atas dapat penulis simpulkan sebagai berikut :

  1. 1.      Hubungan kerjasama dengan orang non muslim dibenarkan selama non muslim tersebut tidak jelas-jelas memiliki niat jahat terhadap umat Islam
  2. 2.       Hubungan kerjasama dengan orang non muslim dibenarkan selama tidak membahayakan bagi kaum muslimin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 Muhammad Galib Mattola, Ahl al-Kitab: Makna dan Cakupannya, (Jakarta: Paramadina, cet. I, 1998),

 Muhammad Izzah Daruzah, al-Yahud fi al-Qur’an al-Karim, (Al-Maktab al-Islami, tanpa tempat dan tahun), lihat : M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2007)). 

Muhammad Husayn al-Thabathaba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, (Beirut: Mu’assasah al-‘Alami al-    Mathbu’ah, 1983)

Yusuf Qaradhawi, Mauqif al-Islam al-‘Aqady min Kufr al-Yahud wa al-Nashara, (Kairo: Maktabah Wahbiyah, 1999)). 

Abdul Mun’im al-Hafni, Mausu’ah al-Harakat wal Mazahib al-Islamiyah fil ‘Alam, dalam Muhtarom (penj), Ensiklopedia Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2006)), cet. I

Abu Hamid al-Ghazali, Fayshol al-Tafriqoh Baina al-Islam wa al-Zindiqoh, (Tanpa tempat dan penerbit, 1992), cet. I

Muhammad Abu Zahrah, Zuhrotu al-Tafasir, (Kairo: Daar al-Fikr al-‘Araby, t.thn)

Al-Thabary, Tafsir al-Thabari, Jil. V, Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Jil. III.;

Ibn ‘Athiyyah, al-Muharrar       al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz, (Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. 1, 2001)

Ibn ‘Asyur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir

Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, ( Dar al-Thaibah, 1999)

Muhammad Ibn Jarir al-Qurthubi, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, ( Muassasah al-Risalah, 2000)

Ali Ibn Ahmad al-Andalusi, Jawami’ al-Sirah, (Mesir, Dar al-Ma’arif, 1900)

Shafiyyurrahman al-Mubarakafuri, al-Rahiq al-Makhtum, (al-Maktabah al-Syamilah edisi ke-2)

Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar ibn Katsir, 1407)

Muslim Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim,  (Beirut, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, tth)


[1]. Muhammad Galib Mattola, Ahl al-Kitab: Makna dan Cakupannya, (Jakarta: Paramadina, cet. I, 1998), lihat : Muhammad Izzah Daruzah, al-Yahud fi al-Qur’an al-Karim, (Al-Maktab al-Islami, tanpa tempat dan tahun), lihat : M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2007)). 

 

[2] Muhammad Husayn al-Thabathaba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, (Beirut: Mu’assasah al-‘Alami al-Mathbu’ah, 1983), juz. 16,

[3] Yusuf Qaradhawi, Mauqif al-Islam al-‘Aqady min Kufr al-Yahud wa al-Nashara, (Kairo: Maktabah Wahbiyah, 1999)). 

[4] Abdul Mun’im al-Hafni, Mausu’ah al-Harakat wal Mazahib al-Islamiyah fil ‘Alam, dalam Muhtarom (penj), Ensiklopedia Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2006)), cet. I

[5] Abu Hamid al-Ghazali, Fayshol al-Tafriqoh Baina al-Islam wa al-Zindiqoh, (Tanpa tempat dan penerbit, 1992), cet. I

 

[6] Muhammad Abu Zahrah, Zuhrotu al-Tafasir, (Kairo: Daar al-Fikr al-‘Araby, t.thn), jil. II,

[7] Ibn Jarir al-Thabary, Tafsir al-Thabari, Juz. 2

[8] Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, jil. I).

            

[9] Al-Thabary, Tafsir al-Thabari, Jil. V, Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Jil. III.; Ibn ‘Athiyyah, al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz, (Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. 1, 2001), jil. I

[10] Ibn ‘Asyur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, jil. XXX.

[11] Ibrahim Mushtafa Ahmad al-Zayyat, al-Mu’jam al-Washith, (Dar al-Da’wah, tth), Juz 2, h. 1040.

[12] Muhammad Ibn Jarir al-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, (Beirut, Muassasah al-Risalah, 2000 M), Juz. 9 h. 319     

[13] Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, ( Dar al-Thaibah, 1999), Juz 2, h. 106.

[14] Muhammad Ibn Ahmad al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Juz 4, h. 178

[15]. Muhammad Ibn Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, ( Muassasah al-Risalah, 2000), Juz 7, h. 146.

[16] Muhammad Ibn Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Juz 7, h. 151.

[17] Muhammad Ibn Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Juz 14, h. 175.

[17]

 

[18] Ali Ibn Ahmad al-Andalusi, Jawami’ al-Sirah, (Mesir, Dar al-Ma’arif, 1900), Juz 1, h. 91. Lihat , Shafiyyurrahman al-Mubarakafuri, al-Rahiq al-Makhtum, (al-Maktabah al-Syamilah edisi ke-2), Juz 1, h. 132.

[19] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar ibn Katsir, 1407), Juz 1, h. 455.

[20] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz 2, h. 884.

[21] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz 2, h. 729. Lihat : Muslim Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim,  (Beirut, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, tth), Juz 3, h. 1226

 

[22] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz 4, h. 253.

[23] Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al’Bari Syarh Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar al-Ma’rifah, 1379), Juz 12, h. 259.

 

Tentang FORUM STUDY ISLAM

kasih sayang
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s