PENENTUAN AWAL BULAN HIJRIYAH DALAM PERSPEKTIF TAFSIR DAN SAINS (suatu kajian solusi penyatuan)

PENENTUAN AWAL BULAN HIJRIYAH

DALAM PERSPEKTIF TAFSIR DAN SAINS

(suatu kajian solusi penyatuan)

                                                                                            

 

 

A. Pendahuluan

 

 

Umat Islam di Indonesia selalu dihadapkan pada perbedaan pendapat dalam penentuan awal Ramadhan 1 syawal (idul fitri) dan ‘idul adhha. Perbedaan pendapat pada umumnya dapat dinilai sebagai rahmat, namun ada juga perbedaan yang dinilai sebagai adzab. Ada hadits yang menjelaskan tentang perbedaan, yaitu : اختلاف أمتي رحمة .  (perbedaan ummatku adalah rahmat) dan hadits lain : اختلاف أصحابي رحمة لأمتي  (perbedaan sahabat-sahabatku adalah rahmat bagi ummatku) kedua hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitabnya al-Madkhal lalu al-Thabarani dan al-Dailami juga iktu meriwatkan hadits ini. Hadits ini statusnya adalah dhaif sebagaimana dijelaskan oleh al-Sakhawi dalam kitabnya al-maqashid al-hasanah[1].  Walaupun kedua hadits itu dhaif tetapi al-Qur’an menunjukkan, bahwa perbedaan umat manusia dan perbedaan pendapat di kalangan ulama merupakan keniscayaan dan sunnatullah. Al-Qur’an menunjukkan akan hal itu, terbukti dengan adanya lafazh-lafazh mutasyabihat dalam al-Qu’an  (lafazh-lfazh yang srupa lafazhnya atau samar ma’nanya) dan banyak lafazh-lafazh yang memiliki ma’na zhanni ad-dalalah (tidak pasti ma’nanya).

 

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa perbedaan pendapat dalam agama (Islam) itu tebagi menjadi tiga macam :

  1. Dalam hal eksistensi Tuhan (Allah) dan mentauhidkan-Nya, mengungkari akan hal ini dan perbedaan dalam hal ini bisa menjadikan kafir.
  2. Dalam hal sifat-sifat Allah dan kehendaknya, mengingkarinya adalah bid’ah.
  3. Perbedaan dalam hukum-hukum far’I (cabang) yang mengandung banyak interpretasi, maka dalam hal ini Allah menjadikannya sebagai rahmat dan kemulyaan bagi para ulama, itulah yang dimaksud dengan

Hadits     لأمتي  اختلاف أصحابي رحمة  [2]

 

Perbedaan pendapat tidaklah harus mengarah kepada perpecahan, perselisihan dan pertentangan, bahkan permusuhan. Selama perbedaan pendapat itu disertai dengan sikap toleransi, karena dilandasi kesadaran bahwa perbedaan pendapat itu merupakan keniscayaan sebagai al-Qur’an membeikan peluang akan hal tersebut. Sedangkan yang dikecam oleh al-Qur’an adalah pertentangan dan perselisihan yang mengarah kepada permusuhan. Tidak mungkin al-Qur’an melarang perbedaan pendapat, karena itu akan melanggar kudrat al-Qur’an itu sendiri.

Penulis sependapat dengan Ibnu Taimiyah, bahwa perbedaan tekadang dapat mendatangkan rahmat dan terkadang mendatangkan adzab. Perbedaan hukum bisa jadi rahmat apabila tidak mendatangkan keburukan besar seperti samanya hukum[3].

 

Sejalan dengan pendapat itu maka dapat juga simpulkan bahwa perbedaan yang tidak membawa dampak negatif terhadap sosial budaya maka berarti perbedaan yang baik, akan tetapi perbedaan yang membawa danpak negatis terhadap sosial yang luas maka ini bisa merupakan perbedaan yang negatif pula atau azab.

 

Penetapan Awal bulan Ramadhan,  Syawal dan Dzaulhijjah memiliki dampak sosial yang sangat besar. Oleh karena itu perbedaan dalam hal ini bisa jadi merupakan azab bukan rahmat. Dalam menyikapi hal hal ini, maka semestinya seluruh umat Islam, paling tidak dalam sebuah negara hendaknya dapat disatukan.

Pertanyaannya adalah :  Benarkah bahwa perbedaan penentuan awal bulan sangat era kaitannya dengan penafsiran dalil-dalil dalam al-Qur’an maupun Hadits ? mungkinkah umat Islam disatukan dalam penentuan awal bulan, mengingat bahwa permasalahan penentuan awal buan juga sangat terkait dengan sains, ya’ni ilmu hisab (ilmu falak), astronomi dan fisika. Ilmu ini dapat dikategorikan ilmu yang pasti  ? permasalahan inilah yang akan dibahas 

 

 

 

 

  1. SEJARAH PERHITUNGAN BULAN

 

Mengapa Islam Memakai Kalender Bulan? Sejak awal peradaban, manusia sudah merasakan perlunya sistem pembagian waktu menjadi satuan-satuan periode “bulan” dan “tahun” yang lazim disebut Kalender atau Taqwim (Arab). Kebutuhan manusia akan sistem kalender itu bertemali dengan kepentingan kehidupan sehari-hari mereka dan atau kepentingan kehidupan keagamaan mereka.

Acuan yang digunakan untuk menyusun kalender atau taqwim tersebut adalah siklus pergerakan dua benda langit yang sangat besar pengaruhnya pada kehidupan manusia di Bumi, yakni Bulan dan Matahari. Kalender yang disusun berdasarkan siklus sinodik Bulan dinamakan Kalender Bulan (Qamariyah, Lunar). Kalender yang disusun berdasarkan siklus tropik Matahari dinamakan Kalender Matahari (Syamsiyah, Solar). Sedangkan kalender yang disusun dengan mengacu kepada keduanya dinamakan Kalender Bulan-Matahari (Qamariyah-Syamsiyah, Luni-Solar).

Sekitar empat ribu tahun lebih sebelum masehi, bangsa Arab telah membuat Kalender Matahari atau Syamsiyah. Pada waktu itu tahun Syamsiyah terdiri dari 365 hari dengan rincian 360 hari dibagi menjadi 12 bulan dengan umur masing-masing 30 hari, dan 5 hari untuk pesta perayaan tahunan bangsa Arab. Belakangan Kalender Syamsiyah itu digunakan juga oleh masyarakat Romawi. Bangsa Arab sendiri kemudian beralih pada Kalender Bulan atau Qamariyah yang digunakan juga oleh masyarakat Mesir kuno dan Babilonia. Kalender Qamariyah¬Syamsiyah digunakan oleh orang-orang Cina dan India.

Islam yang datang untuk pertama kalinya kepada masyarakat Arab mengukuhkan penggunaan kalender qamariyah yang telah berlaku di kalangan mereka itu dengan cara mengaitkan waktu pelaksanaan beberapa ketentuan syari’ahnya kepada kalender tersebut serta membuat sistemnya menjadi mapan. Islam -misalnya- memapankan konsep ”bulan” (syahr, month) dalam kalender tersebut sebagai periode waktu yang membentang di antara dua penampakan hilal berurutan, dan “tahun” (sanah) sebagai periode waktu yang terdiri dari dua belas “bulan”. Ketika orang-orang kafir menyisipkan tambahan bulan untuk menunda masuknya bulan Muharram, al-Qur’an (at-Taubah: 37) mengecamnya dengan menegaskan bahwa perbuatan mereka itu hanyalah menambah kekafiran belaka.

Jatuhnya pilihan Islam terhadap sistem qamariyah sebagai kalender formal syar’inya agaknya bukan semata karena kebetulan ia turun untuk pertama kalinya kepada masyarakat pengguna kalender itu, tetapi sistem kalender qamariyah itu -dibandingkan dengan syamsiyah- adalah lebih sejalan dengan karakter Islam sendiri sebagai agama yang mudah.

Dalam kalender qamariyah, umur bulan (syahr) bisa diketahui dengan mudah melalui pengamatan yang sederhana terhadap Bulan. Hal itu terkait dengan sunnatullah tentang siklus pergerakan Bulan yang membuat Bulan hadir dalam pengamatan manusia di Bumi dalam posisi dan bentuk penampakan yang selalu berubah setiap hari secara signifikan. Perubahan itu berupa pergeseran posisinya ke arah Timur sejauh rata-rata 13° setiap hari atau setara dengan 26 kali garis tengah piringannya, dan pergeseran itu sekaligus mengakibatkan perubahan bentuk penampakannya. Mengenai fenomena ini Al-Qur’ an (Yasin: 39) menyatakan: “Kami tetapkan bagi Bulan manzilah-manzilah, sehingga kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.”

Keadaan seperti itu tidak terjadi pada Matahari yang hadir dengan bentuk penampakan yang relatif sama setiap hari. Meskipun sebenarnya posisi Matahari itu juga bergeser, yakni ke Utara atau ke Selatan, tetapi pergeserannya itu terjadi tidak secara mencolok karena per hari rata-rata hanya sebesar 0° 15′ 24,54″, atau hanya setengah kali garis tengah piringannya. Karena itu -tidak seperti dalam kalender qamariyah- umur bulan dalam kalender syamsiyah tidak bisa dengan mudah diketahui lewat pengamatan yang sederhana terhadap Matahari.

Dengan penghampiran ini dapatlah dipahami kalau Nabi SAW memberi petuniuk kepada kaum muslimin generasi awal-yang masih Ummi untuk memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan berdasarkan rukyat atau pengamatan terhadap penampakan Hilal. Dengan gambaran sebagaimana telah dikemukakan, perintah rukyat tersebut tentu menjadi tidak relevan seandainya Islam menjatuhkan pilihannya pada kalender “syamsiyah”.[4]

 

 

D. Perhitungan Tahun dan Bulan Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah

 

 

 

 

 

Al-Qur’an menjelaskan bilangan bulan.

 

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ ( التوبة : 36)

 “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas (12) bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram[640]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri[641] kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”(Q.S. Al-Taubah : 36)

 

Para mufassir menjalaskan, di antaranya Al-Baghawi, bahwa hitungan bulan dalam setahun, menurut perhitungan hilaliyah atau qamariyah, itu ada 12 (dua belas) bulan. Nama-nama bulan itu adalah : muharram, shafar, rabi’ al-awwal, Rabi’ al-akhir, jumda al-ula, jumada al-tsaniyah, rajab, sya’ban, ramadhan, syawwal, dzulqa’dah, dan dzulhijjah. Lebih lanjut Al-Baghawi  menjelaskan bahwa yang dimaksud فِي كِتَابِ اللَّهِ   adalah  “pada al-lauh al-mahfuzh” , dengan demikian Allah swt. Menetapkan bilangan bulan dan nama-namanya dalam al-lauh al-mahfuzh semenjak Allah swt. Menciptakan langit dan bumi. Di antara 12 bulan itu terdapat 4 bulan yang dimulyakan, yaitu : Muharram, Rajab, Dzul Qa’dah, dan Dzul Hijjah. Ia juga menjelaskan bahwa yang dimaksud  ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ “Itulah (ketetapan) agama yang lurus” adalah al-hisab al-mustaqim “perhitungan yang lurus”.[5]

 

 

 

 

 

Rasulullah saw. Menjelaskan

 

 

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا ، أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ، ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ »(رواه البخاري ومسلم)[6]

 

“Dari Abu Bakrah, dari Rasulullah saw. Berkata : sesungguhnya  zaman (tahun) beredar sebagaimana keadaanya (mestinya) sama seperti pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Tahun terdiri dari dua  belas (12) bulan. Di antaranya tedapat empat (4) bulan yang dimulyakan :  tiga bulan berturut-turut, yaitu : Dzulqa’dah, Dzulhijjah, al-Muharram, dan Rajab Mudhar yang terdapat diantara bulan Jumada (al-Tsaniyah) dan Sya’ban.(H.R. Bukhari dan Muslim)

 

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan Hadits tersebut dalam kitabnya Fath al-Bari, kaitannya dengan ayat 36 Surat al-Taubah, bahwa ketika Allah swt. Menciptakan langit dan bumi, maka pada saat itu pula Allah menetapakan bilangan bulan dalam satu tahun adalah 12 bulan. Maka tahun terus berputar dan perputarannya pada saat ini sama dengan pada hari diciptakan langit dan bumi.[7]

 

 

 

 

C. Hisab, Ru’yah, dan Hilal Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah

 

 

  1. Hisab

 

 

Salah satu ilmu pengetahuan yang sangat penting bagi ummat Islam adalah ilmu hisab atau ilmu falak. Ilmu hisab ini sangat berkaitan dengan ibadah penting yaitu shalat, puasa dan haji. Dengan ilmu hisab, waktu shalat fardhu dapat ditentukan dengan tepat dan pasti melalui pergerakan matahari. Sementara pergerakan matahari itu sendiri telah ditentukan posisinya. Allah SWT berfirman

 

….. إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا )النساء : 103)

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa: 103)

Penentuan masuknya bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah sebagai patokan untuk ibadah puasa dan haji dapat diprediksi dengan memahami pergerakan matahari dan bulan. Selain itu, dengan sedikit memahami ilmu matematika bola, arah Ka’bah yang menjadi qiblat shalat dapat pula diketahui dari segala posisi di bumi. Mengingat pentingnya ilmu hisab, maka ilmu ini sangat perlu dipelajari oleh ummat Islam.

Secara bahasa, kata “hisab” berasal dari haasabayuhaasibumuhaasabatanhisaaban. Kata hisab berarti perhitungan. Ilmu hisab memang bermakna ilmu untuk menghitung posisi benda langit (matahari, bulan, planet-planet dan lain-lain). Yang memiliki akar kata yang sama dengan kata “hisab” adalah kata “husban” yang berarti perhitungan. Kata “husban” disebutkan dalam Al Qur’an untuk menyatakan bahwa pergerakan matahari dan bulan itu dapat dihitung dengan ketelitian sangat tinggi.

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ  (الرحمن : 5)

Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” (Ar-Rahman:5)

 

Ilmu ini memiliki kaitan erat dengan astronomi. Namun secara umum ilmu hisab hanya mengambil bagian kecil dari astronomi yaitu mempelajari pergerakan matahari, bulan, bumi serta planet-planet lain di tata surya (solar system). Dengan mempelajari ilmu hisab, kita akan dapat menentukan arah qiblat, waktu sholat, serta posisi matahari dan bulan setiap saat. Selain itu, kalender Islam dapat pula dihitung, sehingga masuknya bulan-bulan penting dalam Islam seperti Muharram, Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dapat diperkirakan. Dengan ilmu hisab, berbagai peristiwa alam yang menakjubkan seperti gerhana matahari, gerhana bulan, transit Merkurius dan Venus di matahari dapat pula dihitung dengan akurasi tinggi. Dan masih banyak lagi fenomena yang dapat ditelusuri melalui ilmu hisab[8].

     Kata hisab yang mengandung arti perhitungan (matahari dan bulan) atau terkait dengan ilmu hisab terdapat pada empat (4) Surah, yaitu : kata husban terdapat pada Surah al-An’am : 96  dan Surah Al-Qamar : 5. Kata hisab terdapat pada Surah Yunus : 5 dan Al-Isra’ : 12.

 

 

فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (الأنعام :96)

 

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui(Q.S. Al-Anam : 96).

 

Ayat ini ditafsirkan oleh al-Razi [9] bahwa Allah swt. Telah menetapkan ukuran gerakan matahari dan bulan dengan perhitungan tertentu sebagaimana dijelaskan pada Surah Yunus : 5 dan Surah al-Rahman : 5 . Allah swt. Telah menetapkan ukuran pergerakan matahari pada kecepatan tertentu sehingga sempurna perputaran dalam setahun. Dan juga menetapkan ukuran pergerakan bulan dengan kecepatannya sehingga menjadi sempurna dalam perputarannya dalam sebulan. Dengan ukuran pergerakan dan kecepatannya yang telah ditentukan oleh Allah swt. Maka akan berpengaruh kepada kebaikan alam.  

Al-Kholil Ibn Ahmad  [10] menjelaskan mana husban  yang ada pada Surah al-Rahman : 5 dalam  kitabnya al-Ain :

وقوله – عز وجل – : ” الشَّمْسُ والقَمَرُ بحُسْبانٍ ” ، أي قُدِّرَ لهما حِسابٌ معلوم في مواقيتِهما لا يَعدُوانِه ولا يُجاوزانِه.

yani ditetapkan bagi kedua matahari dan bulan suatu perhitungan yang pasti dalam waktu-waktu yang keduanya tidak akan melampaunya.

 

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ ( القمر : 5)

 

matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan(Q.S. Al-Qamar : 5).

 

 

Sedangkan kata hisab digunakan pada 2 ayat berikut :

 

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.(Q.S. Yunus : 5)

 

 

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آَيَتَيْنِ فَمَحَوْنَا آَيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آَيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا  (الإسراء :  12)

“dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.”(Q.S al-Isra’ : 12)

 

Dua ayat tersebut menjelaskan, bahwa Allah swt menciptakan orbit-orbit yang dilalui matahari dan bulan, begitu pula diciptakannya malam dan siang secara silih berganti, maka dapat diketahui bilangan tahun dan perhitungan waktu, ya’ni perhitungan waktu dalam setahun, bilangan hari dan jam.[11]

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”(Q.S. al-Baqarah : 185)

 

 

 

 

Tentang hisab, Rasulullah saw. Menjelaskan dalam sebuah perkataannya

 

عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّهُ قَالَ « إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا »[12] . يَعْنِى مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ ، وَمَرَّةً ثَلاَثِينَ (رواه البخاري ومسلم)

 

“Dari Nabi Muhammad saw. Berkata : sesungguhnya kami adalah ummat yang ummi, tidak bisa menulis dan menghitung,  bulan itu bilangannya begini, begini (dengan isyarat tangan) , ya’ni sekali waktu 29 hari dan sekali temo 30 hari (H.R. Bukhari)

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan, bahwa yang dimaksud al-hisab (terambil dari kata wa la nahsuba) pada hadits tersebut di atas adalah perhitungan bintang dan perjalananya. Bangsa arab atau sahabat Nabi saat itu tidak mengasainya kecuali sebagian sedikit di antara mereka,  maka hukum berpuasa dan lainnya digantungkan atas ru’yah untuk meringankan mereka dan menjauhkan dari kesulitan perhitungan perjalanan atau pergrakan bintang. Hukum ru’ah menjadi pedomanseperti itu terus berjalan, walaupun sesudah itu ada di antara umat Islam yang menguasai ilmu hisab, bahkan menurut zahir redaksi hadits memberikan pengertian tidak menggantungkan hukum puasa dan lainnya kepada ilmu hisab. Hal ini sebagaimana dijelaskan pada hadits yang lainmaka apabila dalam keadaan mendung maka sempurnakanlah hitungan bulan 30 hari  dan Rasulullah saw. Tidak mengatakan ‘bertanyalah kamu kepada ahli hisab’. Hikmah yang dapat diambil dari hal tesebut adalah, bahwa hitungan bulan ketika dalam keadaan mendung maka menjadi sama bagi seluruh mukallaf, maka hilanglah perbedaan dan pertentangan. Sebagian ulama dari rafidhah berpendapat , agar tetap kembali kepada ahli hisab.[13]

 

Mustafa Dib al-Bigha menjelaskan hadits tersebut, sama dengan penjelasan Ibn Hajab al-‘Asqalani, bahwa yang dimaksud wa la nahsubu adalah : kami tidak mengethui perhitungan nujum, maka umat Islam dalam menetapkan waktu-waktu ibadah tidak dibebani untuk mengetahui ilmu hisab dan tulis.[14]

 

قال النبي صلى الله عليه و سلم ” من اقتبس علما من النجوم اقتبس شعبة من السحر زاد مازاد ” .

قال الشيخ الألباني : حسن

 

 

 

  1. Ru’yah

Makna ru’yah secara bahasa adalah melihat dengan mata kepala. Ru’yah yang dimaksud di sini adalah ru’yatul hilal, ya’ni melihat hilal secara langsung.  Al-Qur’an tidak banyak  menjelaskan ru’yatul hilal, tetapi hadits banyak menjelaskan.

 

Hadits-hadits Nabi yang menjelaskan ru’yah, antara lain sebagai brikut :

 

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم « صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُمِّىَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ » (رواه البخاري  ومسلم )[15]

 

“Jika kalian melihatnya (hilal) maka berpuasalah dan jika kalian melihatnya (lagi) maka berbukalah(laksanakanlah idul fitri). Dan jika (pandangan) kalian terhalangi oleh awan maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban genap 30 hari.” (H.R.Bukhari dan Muslim).

 

 

 

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً ، فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِينَ » (رواه البخاري)[16]

 

“Jika kalian melihatnya (hilal) maka berpuasalah dan jika kalian melihatnya (lagi) maka berbukalah(laksanakanlah idul fitri). Dan jika (pandangan) kalian terhalangi oleh awan maka genapkanlah.” (oleh Imam Bukagri dan Muslim. Dalam lafazh Imam Muslim: “Jika (pandangan) kalian terhalangi oleh awan maka genapkanlah (puasa kalian) tiga puluh (hari).”

 

عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه – قَالَ آلَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مِنْ نِسَائِهِ ، وَكَانَتِ انْفَكَّتْ رِجْلُهُ ، فَأَقَامَ فِى مَشْرُبَةٍ تِسْعًا وَعِشْرِينَ لَيْلَةً ، ثُمَّ نَزَلَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلَيْتَ شَهْرًا . فَقَالَ « إِنَّ الشَّهْرَ يَكُونُ تِسْعًا وَعِشْرِينَ »[17]  (رواه البخاري)

جزء 2   ص  675

 

“Dari Anas r.a berkata : Rasulullah saw. Bersumpah untuk tidak menggauli istri-istrinya. Kakinya terpecah-pecah. Kemudian ia berdiam di kamarnya selama 29 malam. Kamudian ia keluar. Lalu  para sahabat bertanya : wahai Rasulullah : bukankah engakau bersumpah ‘Ila (tidak melakukan pya ersetubuhan dengan istri) selama satu bulan ?. kemudian Rasulullah saw berkata : sesungguhnnya bulan ini terdiri dari 29 hari.(H.R. Bukhari)

 

 

 

 

 

قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا » . يَعْنِى ثَلاَثِينَ ، ثُمَّ قَالَ « وَهَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا » . يَعْنِى تِسْعًا وَعِشْرِينَ يَقُولُ ، مَرَّةً ثَلاَثِينَ وَمَرَّةً تِسْعًا وَعِشْرِينَ . (رواه البخاري)[18]

“Rasulullah saw. Bersabda : bulan itu begini, begini, dan begini. Ya’ni 30 hari. Kemudian bersabda : dan begini, begini, dan begini, ya’ni 29 hari”(H.R. Bukhari)

 

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لَمَا صُمْنَا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تِسْعًا وَعِشْرِينَ أَكْثَرُ مِمَّا صُمْنَا مَعَهُ ثَلاَثِينَ.[19]  (رواه أبوداود)

 

Ibnu Mas’u berkata : ketika saya berpuasa besama Nabu Muhammad saw. Maka jumlah bulan terdiri dari 29 hari itu lebih banyak daripada 30 hari.”(H.R. Abu Daud) 

 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّمَا الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ » (رواه مسلم )[20]

 

“Dari Ibn Umar r.a. berkata, Rasulullah saw. Bersabda : Sesungguhnya bulan itu 29 hari, maka janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat hilal dan jangan kamu merayakan ‘idul fitri sehingga kamu melihat hilal, apabila tertutup mendung maka sempurnakan bulan (menjadi 30 hari)”(H.R. Muslim)

 

 

عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا الْبَخْتَرِىِّ قَالَ أَهْلَلْنَا رَمَضَانَ وَنَحْنُ بِذَاتِ عِرْقٍ فَأَرْسَلْنَا رَجُلاً إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – يَسْأَلُهُ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَمَدَّهُ لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ أُغْمِىَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ »[21]  (رواه مسلم)

 

 

Dari Amr Ibn Murrah berkata, saya mendengar Abu al-Bukhtari berkata ; telah hilal bulan ramadhan sedang kami berada di dzat Irq, maka kami mengutus seseorang untuk datang kepada Ibnu Abbas r.a. menenyakan hal tersebut, maka Ibnu Abbas r.a.  berkata : Rasulullah saw. Bersabda : “sesungguhnya Allah swt. telah memberikan kemudahan untuk melihat hilal, apabila tertutup awan, maka sempurnakanlah bilangan bulan (30 hari)” (H.R. Muslim) 

 

 

 

 

 

 

  1. Hilal

 

Hilal secara bahasa adalah bulan yang nampak pada malam pertama sampai malam ketiga di setiap bulannya dan setelah itu barulah dikatakan bulan (tidak dikatakan lagi hilal, pent).[22] Dalam bahasa Indonesia hilal dikenal sebagai bulan sabit.

 

Ada yang berpendapat sampai 3 (tiga) malam, bahkan ada yang mengatakan sampai 7 (tujuh) malam pertama dari setiap bulan.Menurut Abi Ishaq dan banyak pendapat yang lain, bahwa yang disebut hilal itu adalah tanpaknya bulan pada malam pertama dan kedua dari setiap bulan, karena pada malam ketiga cahaya bulan sudah terang.[23]

 

Allah swt. menjelaskan fungsi hilal dalam al-Qur’an :

 

 

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ …..

“mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji(Q.S al-Baqarah : 189)

 

Hilal adalah keadaan bulan pada waktu muncul pertama di awal bulan. Bulan disebut hilal pada kemunculannya malam pertama dan kedua di awal bulan dan dua malam terakhir di akhir bulan. Hilal merupakan batas waktu bulan, maka disebut mawaqit, adalah bentuk jama’ dari miqat.   

 

Rasulullah saw. Menjelaskan hilal sebagai pedoman dalam melaksanakan ibadah puasa dengan langsung malihatnya atau ‘ru’yah’

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ « لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ ، وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ » (رواه الشيخان )[24]

maka hendaklah Dari Abdullah Ibn Umar r.a. Rasulullah saw. Menjelaskan Ramadhan,maka ia  berkata :“Kalau kalian melihat hilaal (awal Ramadhan, -pent) maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal tanda masuk bulan Syawwal) maka berbukalah (idul fitri). Dan jika (pandangan) kalian terhalangi oleh awan,kalian menghitungnya!” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Muslim dan An-Nasa’i)

 

Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw. Bersabda :

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ تُوَاصِلُوا » . قَالُوا إِنَّكَ تُوَاصِلُ . قَالَ « إِنِّى لَسْتُ مِثْلَكُمْ ، إِنِّى أَبِيتُ يُطْعِمُنِى رَبِّى وَيَسْقِينِى » . فَلَمْ يَنْتَهُوا عَنِ الْوِصَالِ – قَالَ – فَوَاصَلَ بِهِمُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَيْنِ أَوْ لَيْلَتَيْنِ ، ثُمَّ رَأَوُا الْهِلاَلَ فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لَوْ تَأَخَّرَ الْهِلاَلُ لَزِدْتُكُمْ » (رواه البخاري )[25]

 

“Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. Bersabda “jangan kamu melaksanakan puasa wishal (menyambung puasa). Sahabat berkata : engkau melakukan wishal. Rasulullah besabda : Saya tidak sama dengan kamu. Saya selalu diberi makan dan minum oleh Allah swt.   maka mereka tidak sampai wishal. Abu Hurairah mengatakan : maka Rasulullah saw. Melaksanakan puasa wishal 2 hari atau 2 malam. Kemudian mereka melihat hilal, lalu Rasulullah saw. Besabda : seandainya kemunculan hilal mundur, maka saya akan tambahkan kepadamu  (H.R. Bukhari)

 

 

 

 

 

 

E. Ilmu Falak adalah Sains

 

 

 

Untuk mengetahui perhitungan bulan dengan menggunakan bulan atau matahari dapat diketahui dengan ilmu falak, hisab atau astronomi.

 

Falak [n] (1) lengkung langit; lingkaran langit; cakrawala; (2) pengetahuan mengenai keadaan (peredaran, perhitungan, dsb) bintang-bintang; ilmu perbintangan ; astronomi[26].

Pengertian falak secara populer adalah lintasan benda-benda angkasa (langit), dalam bahasa Inggris disebut ORBIT.

Pengertian Ilmu Falak berarti sama dengan astronimi

 علم الفلك علم يبحث فيه عن الأجرام العلوية وأحوالها[27]

Ilmu falak adalah ilmu yang membahas tentang benda-benda luar angkasa dan pergerakannya.

 

Ilmu Falak adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari lintasan benda-benda langit, seperti Matahari, Bulan, Bintang-bintang, dan benda-benda langit lainnya, dengan tujuan untuk mengetahui posisis dari benda-benda langit itu sendiri serta kedudukannya dari benda-benda langit lainnya, agar dapat diambil manfaatnya bagi manusia, khsususnya umat islam dalam menentukan waktu untuk beribadah.

Secara umum Ilmu Falak mempelajari 4 hal, yaitu:
1. penentuan Arah Qiblat dalam Sholat
2. Penentuan Waktu-waktu Sholat
3. Penentuan Awal bulan kalender Hijriyah
4. Penentuan terjadinya Gerhana Matahari dan Bulan.

Hisab artinya perhitungan. Ilmu Hisab ialah ilmu yang mempelajarai perhitungan posisi benda-benda langit secara matematis dan astronomis khususnya untuk keperluan Ibadah.

Astronomi berasal dari bahasa Yunani yaitu “astro” dan “nomos”. Astro artinya bintang dan nomos artinya hukum. Astronomi ialah ilmu yang mempelajari benda-benda antariksa secara umum dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya.

Bulan merupakan satelit atau benda angkasa yang mengelilingi bumi. Jaraknya dengan bumi adalah 240.000 mil = 384.000 km. Bulan mempunyai garis tengah 2.160 mil = 3.456 km. Pada permukaan bulan tedapat gunung-gunung dan dataran rendah seperti bumi. Lubang kpundannya tampak besaar-besar sampai ada yang bergaris tengah 8 km. Berat jenis bulan kira-kira ½ berat jenis bumi. Berat jenis bumi  -+ 5,52. Besarnya bulan hanya 1/82 bumi dan mempunyai gravitasi 1/6 dari gravitasi bumi dan tidak ada atmosfir.

Sinar bulan adalah pantulan dari cahaya matahari. Bentuk dan ukuran bulan tidak berubah, yang berubah hanya penampakannya sesuai dengan bertambah dan bekurangnya permukaan yang tidak disinari matahari. Perubahan dalam penampakan bulan disebut FASA. Oleh karena itu, kita dapati istilah bulan sabit dan bulan purnama. Sebenarnya bulan bergerak dari barat ke timur mengelilingi bumi. Akan tetapi, sewaktu terbit dan tenggelam gerakannya seolah-olah dari timur ke barat. Ini disebabkan oleh putaran bumi lebih cepat daripada peredaran bulan mengelilingi bumi[28].

 

Dibandingkan dengan satelit-satelit lain pada sistem tata surya, bulan kita termasuk yang berukuran besar. Berbagai teori tlah dikembangkan berkenaan dengan terbentuknya bulan. Berdasarkan teori yang diterima paling luas, bumi bertabrakan dengan bnda angkasa, yang mengakibatkan terlemparnya sebuah massa besar yang berasal dari lempeng bumi dan kemudian berubah menjadi bulan. Walaupun ini mungkin saja bukan cerita yang sesungguhnya, data yang baru-baru ini diperoleh- dengan bantuan Lunar Prospector, satelit milik Amerika – sepertinya menguatkan teori ini.

      Di dalam al-Qur’an, bulan dan pergrakannya banyak disebut. Data yang didapatkan dari penelitian ilmiah modern memperlihatkan betapa pentingnya bulan untuk kehidupan di bumi. Bulan dengan  volumenya yang besar, dengan jarak yang tepat untuk fungsinya sebagai satgelit, serasi dengan pusat pergerakan bumi. Hal ini memungkinkan kondisi iklim yang sejuk di planet kita, menciptakan media yang ideal untuk hidup. Situasi ini sudah berlangsung selama jutaan tahun. Sebagian ilmuan berpendapat bahwa inti bumi masih berbentuk cair akibat gaya gravitasi yang dihasilkan bulan. Bulan juga melindungi medan magnet planet kita. Jika tidak ada medan magnet, radiasi kosmis akan menghancurkan kehidupan di bumi. Jika bukan karena bulan, diperkirakan bumi akan berputar pada porosnya dalam waktu 10 jam, yang berdampat serius terhadap kehidupan di bumi. Bulan menggunakan gaya tarikanya trhadap lautan untuk mempelambat rotasi bumi.

      Semua ini, termasuk massa dan kecepatan bulan berputar, adalah hasil perhitungan yang sangat mendetail yang dibuat Allah pada saat menciptakannya. Allah menggunakan kata “qadar” (terukur) terhadap perhitungan yang telah dilakukan-Nya. Kita tidak akan terpaku pada kesalahan interpretasi terhadap konsep ini yang disusun secara sembarangan dan mengatasnamakan agama. Dalam Surah Yasin ayat 39, pengaturan sistematis dijelaskan dengan kata “qadar” . Jarak bulan terhadap buni, massa dan kecepatannya selama berputar, posisinya terhadap matahari, serta gaya gravitasinya telah diperhitungkan secara tepat. “Qadar”-Nya telah ditetapkan. Sedikit saja perubahan dari perhitungan ini akan mengakhiri kehidupan di muka bumi. Bulan bukan saja aktor bagi malam nan romantis, objek inspirasi puisi, melainkan juga merupakan teman sine qua non bagi bumi[29].

 

 

F. Perhitungan Bulan dengan menggunakan Bulan (Rembulan)

 

      Bulan mengorbit bumi selama 27 hari, 7 jam, 43 menit, dan 11 detik. Kata “qamar” dalam bahasa arab, berarti “bulan”, digunakan sebanyak 27 kali oleh al-Qur’an. Orbit bulan yang mengelilingi bumi membentuk gris yang berliku-liku. Sementara bumi bergerak mengelilingi matahari, bulan beredar mengelilingi bumi dalam orbit yang berbeda-beda, membentuk garis yang melengkung, berkelok-kelok, berbentuk spiral. Permukaan bulan yang menghadap ke bumi selalu sama. Garis melengkung yang dibentuknya mengingatkan kita pada tandan yang melengkung. Kata dalam bahasa arab yang digunakan untuk menunjukkan orbit bulan adalah “urjun”, yaitu tandan kurma yang melengkung. Tandan ini ditambahkan dengan kata tua yang menggambarkan tandan yang lebih tipis dan melengkung. Kiasan yang indah ini menggambarkan orbit yang dilalui bulan dalam mengelilingi bumi.

 

 

ħ÷K¤±9$#ur $yg8ptéÏur ÇÊÈ   ̍yJs)ø9$#ur #sŒÎ) $yg9n=s? ÇËÈ  

1. demi matahari dan cahayanya di pagi hari,

2. dan bulan apabila mengiringinya,

 

       Pada ayat di atas terlihat gambaran hubungan bulan dengan matahari. Kata “tala”  dalam bahasa arab berarti “pengikut”, “yang bergantung”. Sebagai satelit bumi, bulan beredar menglilingi matahari bersama-sama dengan bumi, mereka mengikuti jejak matahari. Baik bulan maupun bumi bergantung pada pergerakan matahari.

      Pada ayat lain Allah swt. menjelaskan perjalan planet matahari :

 

ߧôJ¤±9$#ur “̍øgrB 9hs)tGó¡ßJÏ9 $yg©9 4 y7Ï9ºsŒ ㍃ωø)s? ͓ƒÍ•yèø9$# ÉOŠÎ=yèø9$#   (يس :38 (

 

        “Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi    Maha Mengetahui.” (Q.S. Yasin : 38)

 

 

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ (القمر : 49)

            “Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”(Q.S. al-Qamar : 49)

 

 

 

 

F. Sebab Perbedaan Penentuan Awal Bulan Hijriah

 

Sudah puluhan bahkan ratusan tahun lamanyaperdebatan mengenai perhitungan penentuan awal bulan pada bulan hijriyah. Terlebih pada penentuan awal bulan syawal (idul fitri) atau idul adha yang berkaitan dengan hari raya umat islam. Khususnya bagi umat islam, setidaknya harus paham mengenai kenapa perbedaan ini harus terjadi..?. karena nikmat dari perbedaan bukan pada pertenkaran tapi keberagaman.

Perbedaan yang tejadi di antara para ulama pada umumnya mengerucut pada dua hal, yaitu : hisab dan ru’yah.

 

 

Perbedaan pendapat dalam memahami kata “ru’yah” di dalam hadis ” … shumu li ru’yatihi wa althiru li ru’yatihi …” (Berpuasalah kamu ketika melihat hilal (awal bulan Ramadan). Berbukalah kamu ketika melihat hilal (awal bulan Syawal).
Pendapat pertama, (kelompok rukyah) berpendapat yang dimaksud dengan kata “ru’yah” adalah melihat hilal secara fisik (ru’yah bil fi’li).

Pendapat ini didasarkan kepada dua alasan. Pertama, Rasulullah dan para sahabat selalu melihat hilal untuk menentukan awal dan akhir Ramadan. Kedua, adanya indikasi bahwa jika hilal tidak terlihat – karena mendung – maka hitungan bulan Sya’ban dan Ramadan harus disempurnakan (30 hari), sebagaimana hadist yang disebutkan di atas.

Sedangkan Pendapat kedua, yaitu kelompok hisab menafsirkan “ru’yah” dengan ru’yah bil ‘ilmi (melihat dengan ilmu). Pendapat kelompok ini didasarkan atas tiga hal.

 

Pertama, ayat Alquran surat Yunus (10:5)

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui.” (Yunus, 10:5)

Dalam ayat tersebut menganjurkan kepada umat Islam mempelajari peredaran matahari dan bulan sebagai dasar penghitungan waktu dan tahun (li’ta’lamu ‘adad al sinina wa al hisab). Ayat inilah yang menjadi pijakan lahirnya Ilmu Hisab (Falaq). Ilmu ini digunakan secara sangat luas untuk menentukan waktu salat dan kalender Hijriyah, awal akhir bulan, hari raya (Idul Fitri – Idul Adha), wukuf di Arafah dan ibadah lainnya.

Kedua, tradisi melihat hilal yang dilakukan oleh Rasulullah dan sahabat hanyalah merupakan “cara” yang dilakukan karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, umat Islam bisa menggunakan “cara” lain yang diisyaratkan oleh Alquran. Di antaranya dengan cara ilmiah melalui penghitungan Falaq/ Hisab/Perhitungan. Ilmu ini baru berkembang pada masa Bani Abbasiyah (abad ke-8 M). Pada masa Rasulullah belum ditemukan alat teropong bintang dan belum berkembang ilmu falaq/ astronomi (Armahedi Mahzar dan Yuliani Liputo, 2002: 249).

Ketiga, kelompok hisab berpendapat awal dan akhir bulan tidak ditentukan oleh beberapa derajat ketinggian hilal. Jika berdasarkan penghitungan hisab hilal sudah nampak, berapa pun ketinggiannya, maka hitungan bulan baru sudah masuk.

Karena itu, jika hilal bulan Syawal sudah masuk maka sudah saatnya Idul Fitri. Sedangkan kelompok rukyah berkeyakinan jika posisi hilal sangat rendah, dia tidak bisa di-ru’yah atau terlihat dengan mata telanjang. Karena itu hitungan Ramadan harus disempurnakan (istikmal) 30 hari. Di sinilah sumber perbedaan penentuan Idul Fitri.

 

 

 

Perbedaan penentuan awal bulan hijriah disebabkan dua hal pokok : Pertama : perbedaan penafsiran teks-teks al-Qur’an maupun Hadits yang terkait dengan Hisab dan Ru’yah. Sebagian menafsirkannya secara tekstual. Sedang sebagian yang lain menafsirkannya secara kontekstual. Kedua : Metode yang digunakan dalam penetuan awal bulan.

 

 

1. Penafsiran terhadap Ayat dan Hadits

 

 

Di dalam menafsirkan ayat dan hadits tersebut di atas, yang terkait dengan ru’yah dan hisab, dapat penulis jelaskan sebagai berikut :

1. Tafssir Tekstual

    a. Al-ru’yah

Ulama pada umumnya atau sebagian besar, terutama ulama salaf, menafsirkan ru’yah yang terdapat dalam beberapa hadits nabi dengan penafsiran tekstual. Ibnu Hajar al-‘Asqalani misalnya, menjelaskan ru’yah dalam hadits nabi “janganlah kamu berpuasa sebelum melihat hilal”

Para ahli tafsir dari kalangan fuqaha seperti imam madzhab yang empat Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali berpendapat bahwa ru’yah yang dimaksudkan adalah ru’yah bilbashar (dengan penglihatan mata), bahkan mereka tidak membenarkan penetapan hilal dengan menggunakan ilmu nujum atau hisab. dengan alasan bahwa hisab Imam Hanafi , misalnya, berpendapat bahwa ilmu miqat, hisab, dan nujum itu ketiga-tiganya sama tidak dapat dijadikan pedoman dalam menetapkan ru’yah hilal, dengan alasan bhwa hal itu betentangan dengan syari’at Nabi[30]

    b. faqduru lah

Telah terjadi perdebatan dalam masalah penetapan hilal ini sejak akhir abad pertama hijriyah, ya’ni pada masa tabi’in . kajian ini muncul disebabkan adanya lafazh yang musykil dalam hadits Nabi,yaitu lafazh faqduru lah

 

Di dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslimberikut ini trdapat katafaqduru lah

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ « لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ ، وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ » (رواه الشيخان )[31]

maka hendaklah Dari Abdullah Ibn Umar r.a. Rasulullah saw. Menjelaskan Ramadhan,maka ia  berkata :“Kalau kalian melihat hilaal (awal Ramadhan, -pent) maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal tanda masuk bulan Syawwal) maka berbukalah (idul fitri). Dan jika (pandangan) kalian terhalangi oleh awan,kalian menghitungnya!” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Muslim dan An-Nasa’i)

 


[1] Muhammad Ibn Abdurrahman al-Sakhawi, al-Maqashid al-Hasanah fi Bayan Katsir mi al-Ahadits al-Musytahirah ‘ala al-Alsinah, (Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi ) Juz I, h. 69.

[2] Abu Zakaria Yahya Ibn Syaraf al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, (Beirut, dar Ihya’ al-Turats al-Arabi, 1392 H), Juz 5, h. 27.

[3] Wuzarah al-Auqaf wa al-Syu’un al-Islamiah bi-alKuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiah. Al-Kuwaitiyah, Juz 2 h. 673.

[4] .Abul Salam Nawawi, Mengapa slam Memakai Kalender Bulan, http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/14/11427/, diakses pada tanggal 29-09-2011

 

[5] Abu Muhammad Al-Husain Ibn Mas’ud Al-Baghawi, Ma’alim al-Tanzil, (Beirut, Dar Tahayyibah, 1997 M),  Juz 4, h. 44.

[6] . Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 4, h. 1712. dan Muslim Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, (Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tth), Juz 3, h. 13.5.

 

[7] .Ibn Hajar Al-Asqalani, Ftah al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar al-Ma’rifah, 1379), Juz 8, h. 324.

 

[8] Rinto Anugraha, Pengantar Ilmu Hisab, http://rukyatulhilal.org/artikel/rinto-pengantar-ilmu-hisab.html diakses tgl 23-09-2011

[9] Fakhruddin Al-Razi, Mafatih Al-Ghaib,  Juz 6, h. 932.

[10] Al-Kholil Ibn Ahmad, Al-Ain Juz 1, h. 200

[11] .Ibn Jarir Al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, (  Muassasah al-Risalah, 1420), Juz 15, h. 23.

[12] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 2, h. 675.

[13] . Ibn Hajar Al-Asqalani, Ftah al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar al-Ma’rifah, 1379), Juz 4, h. 127.

 

[14] . Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, tahqiq Musthafa Dib al-Bigha, (Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 2, h. 675.

 

[15] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 2, h. 674. Muslim Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, (Beirut, Dar Ihya’ al-Turats al-Arabi, 1392 H), Juz 2, h. 762.

 

 

 

[16] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 2, h. 674.

[17] . Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 2, h. 675.

[18] . Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz4, h. 203.

[19] .Sulaiman Ibn Al-Asy’ats Abu Daud, Sunan Abu Daud, (Beirut, Darul Fikr, tth), Juz 1, h. 710.

[20] Muslim Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, (Beirut, Dar Ihya’ al-Turats al-Arabi, 1392 H), Juz 5, h. 759.

 

[21] Muslim Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, (Beirut, Dar Ihya’ al-Turats al-Arabi, 1392 H), Juz 2, h. 765.

 

[22]  Al-Razi, Mukhta al-Shihah, (Beirut, Maktabah Lubnan Nasyirun, 1415), juz I, h. 705.

[23] Murtadha Al-Zabidi, Taj al-Arus min Jawahir al-Qamus, (Darul Hidayah, tth), Juz 31 h. 144.

[24] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 2, h. 674.

 

[25] .Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, tahqiq Musthafa Dib al-Bigha, (Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 4, h. 2661.

 

[26] Kamus Besar Bahasa Indonesia,

[27] Ibrahim Mushthafa dkk, al-Mu’jam al-Wasith, al-Maktabah al-Syamilah, Juz 2 h. 317

[28] Hariwijaya Soewandi dan Estu Sinduningrum, Ilmu Kealaman Dasar, (Bogor, Ghalia Indonesia, 2011) h. 106

[29] . Caner Taslaman, Miraccle of The Qur’an, terj. Ary Nilandari, (Bandung, Mican Pustaka, 2010), h. 90-95

[30]. Wahbah Al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa adillatuh, (Damaskus, Dar al-Fikr, tth), Juz 3, h. 33

[31] Muhammad Ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut, Dar Ibn Katsir,  1987 M), Juz 2, h. 674.

 

Tentang FORUM STUDY ISLAM

kasih sayang
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s