DOSA SOSIAL DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN

DOSA SOSIAL DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN

Abdur Rokhim Hasan

 

 

Pengantar

 

       Manusia terlahir suci dari dosa, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi “ setiap anak dilahirkan dalam keaadaan suci, kemudian kedua orang tuanya menjadikannya yahudi, nashrani atau majusi (H.R. Bukhari dan Muslim).

      Manusia pada umumnya tidak mau menyandang dosa (di mata manusia), karena seseorang yang menyandang dosa berarti ia dalam posisi salah, kotor, dicap manusia tidak baik. Maka banyak manusia secara tidak langsung mengklim bahwa dirinya bersih dari dosa. Manusia berdosa berarti manusia melakukan kesalahan. Kesalahan yang ia lekukan bisa berhubungan dengan Allah swt. bisa juga behubungan dengan manusia atau makhluk lainnya. Walaupun kesalahan yang dilakukan tehadap makhluk Allah berarti juga melakukan kesalahan kepada Allah swt. Bila dibedakan sesuai dengan jenisnya, ada  haq Allah dan ada haq adami, maka adakesalahan yang langsung berhubungan dengan Allah swt.dan ada kesalahan yang terkait dengan manusia atau makhluk lainnya.

        Pada umumnya, kesalahan (dosa) yang langsung berhubungan dengan Allah swt.  tidak diketahui oleh manusia. Tetapi anehnya, kesalahan seperti ini pada umumnya banyak yang lebih takut. Sementara yang berhubungan dengan manusia atau makhluk lainnya, manusia lebih berani melakukannya. Banyak diantara manusia melanggar hak-hak orang lain, kemudian ia enggan untuk minta maaf kepadanya.  Karena dengan meminta maaf akan diketahui oleh orang lain kesalahan dan dosanya  itu, minimal oleh orang yang diminta maaf. Mereka tidak mau menyandang dosa, Sebagian ada yang melakukannya tetapi ia tidak merasa berdosa, mungkin karena tidak disengaja. Sedang sebagaian yang lain, dengan beraninya,  melakukannya karena berkeyakinan bahwa segala dosa mudah dihapus atau mendapatkan ampunan dari Allah swt.

        Banyak orang yang beranggapan, bahwa membersihkan dirinya dari dosa melalui taubat “mohon ampun kepada Allah swt.” atau dengan melaksanakan ibadah, lebih-lebih ibadah yang berskala besar, seperti haji dan sedekah dalam jumlah yang banyak, dianggap dapat menghapus dosa, baik itu dosa besar atau kecil, dosa hubungannya dengan Allah secara langsung maupun dosa yang ada hubungannya dengan manusia. Mereka beranggapan, bahkan mungkin sampai berkeyakinan, bahwa Allah swt. adalah Maha Penerima Taubat (al-Tawwab), Maha Pengampun (al-Ghafur, al-Ghaffar ). Dengan keyakinan itu maka seluruh dosa manusia, sebesar apapun akan diampuni oleh Allah swt.

       Di masyarakat pada umumnya, seseorang mudah sekali melakukan dosa, karena memiliki anggapan atau bahkan keyakinan, bahwa dosa apapun akan mudah dihapuskan, melalui taubat kepada Allah swt.  bahkan dosa mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak halal sekalipun, seperti mencuri, manipulasi dan korupsi,  mereka beranggapan bahwa harta haram itu bisa disucikan dengan menginfakkan sebagian harta hasil curiannya tersebut, teutama kepada anak-anak yatim, sekaligus dapat membersihkan dirinya dari dosa dan menyelamatkannya dari sial. Maraknya tindak pidana korupsi bukanlah dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan agama, tetapi banyak dilakukan oleh orang-orang yang pandai. Apakah faktor yang menyebabkan mereka berani melakukan tindak pidana dan dosa itu ? Mungkin ada banyak faktor, antara lain ; tuntutan kebutuhan ekonomi, ingin hidup mewah demi gengsi, tuntutan lingkungan kerja, yang ia tidak bisa menghindar darinya, karena laksana lingkaran syetan, atau karena ia berkeyakinan mudahnya mengahapuskan dosa-dosa, apapun bentuk dosa, karena Allah swt. Maha pengampun dan maha pemurah.

      Persepsi tentang pengahapusan dosa seperti ini, perlu dikaji dan dipahami secara benar sehingga manusia tidak mudah melakukakan dosa. Di sisi lain juga tidak mudah berputus asa, karena sulitnya mendapatkan ampunan. Dengan mengkaji macam-macam dosa dan bagaimana cara menghapuskannya atau bertaubat dari dosa tersebut, maka akan memberikan gambaran yang jelas sekaligus memberikan pencerahan kepada umat. Pertanyaannya adalah, Mudahkah manusia bartaubat dari semua dosa, baik itu dosa besar maupun dosa kecil, Bagaimanakah bartaubat dari dosa, terutama dosa yang terkait dengan manusia (haq adami), apakah sama dengan bertaubat dari dosa yang terkait dengan Allah (haqqullah). Apa dampak negatif dan bahayanya kedua dosa itu bagi manusia di dunia maupun di akhirat.

Dari permasalahan-permaslahan dosa tersebut, Penulis akan mencoba mengkajinya, terutama dosa sosial yang dijelaskan dalam al-Qur’an.

 

Pengertian Dosa   

 

       Kata dosa tejemahan dari kata al-dzanb, al-itsm,al-jurm,dan al-wizr. Sedangkan kata al-dzanb di dalam beberapa kamus bahasa arab dijelaskan; memiliki makna yang sama dengan al-itsm, al-jurm, dan al-ma’shiyah, ya’ni perbuatan yang tidak halal[1][1]. Dalam Ensiklopedi Iswlam disebutkan : Dosa adalah perbuatan yang melanggar hukum, baik hukum Tuhan (agama), hukum adat atau hukum negara. Secara istilah dosa dipahami sebagai pelanggaran terhadap hukum agama. Dalam istilah fiqih, dosa berkaitan dengan siksa (penderitaan sebagai hukuman)[2]. Ibn Manzhur mendefinisikan, dosa adalah melakukan sesuatu yang tidak halal[3].  Al-Jurjani menjelaskan dalam kitabnya al-Ta’rifat, : al-itsm adalah sesuatu yang harus dijauhi menurut syari’at maupun naluri manusia[4]. Pengertian yang disampaikan oleh Al-Jurjani ini berdekatan dengan pengertian al-itsm yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. bahwa al-itsm (dosa) adalah sesuatu kebimbangan di dalam hati dan tidak mau dilihat orang lain, sebagaimana Hadits berikut ini :

 .

عن النواس بن سمعان الأنصاري قال : سألت النبي صلى الله عليه و سلم عن البر و الإثم قال : البر حسن الخلق و الإثم ما حاك في صدرك و كرهت أن يطلع عليه الناس[5]    (رواه الحاكم )

“Diriwayatkan dari Al-Nawwas Ibn Sam’an al-Anshari, berkata ; Saya bertanya kepada Rasulullah saw. Tentang kebaikan dan dosa. Lalu Rasulullah saw. Menjawab : kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa yang bergetar  (bimbang) di dalam dadamu dan kamu tidak suka orang lain melihat perbuatan itu (H.R. Al-Hakim).

 

Dari kata-kata yang memiliki arti dosa tersebut, yang banyak digunakan di dalam al-Qur’an, penulis akan menjelaskannya, untuk mendapatkan gambaran tentang arti dosa :

 

  1. Al-Itsm

 

     Kata al-Itsm disebut dalam al-Qur’an sebanyak 45 kali, dan yang terbanyak di surat al-Baqarah, disebut sebanyak 12 kali. Yaitu al-Baqarah : 85, 173, 181, 182, 182, 188, 203, 206, 219, 219, 276, dan 283.  Kata al-itsm adalah satu-satunya kata yang memiliki ma’na dosa, yang di dalam al-Qur’an menguraikan jenis-jenis kesalahan dan kejahatan yang berbuah dosa yang kemudian disebut dengan al-itsm. Kata al-itsm baik yang terdapat di dalam surat al-Baqarah maupun lainnya, memiliki ma’na dosa yang dikaitkan dengan sosial (dosa sosial).

b. Al-Dzanb.

     Kata al-dzanb disebut di dalam al-Qur’an sebanyak 38 kali. Kata ini tidak terdapat di dalam surat al-Baqarah, yang paling banyak disebutkan di surat Ali Imran sebanyak 7 kali, di Surat Ghafir atau al-Mu’min sebanyak 4 kali, yang menggunakan kata mufrad (single) sebanyak 11 kali sedang yang berbentuk jam’ sebanyak 25 kali. Kata al-dzanb digunakan oleh al-Qur’an untuk menjelaskan dosa kaitannya dengan siksaan dan ampunan, yang terkait dengan siksaan seperti dalam surat Ali Imran : 11:

 

É>ù&y‰Ÿ2 ÉA#uä tböqtãóÏù tûïÏ%©!$#ur `ÏB óOÎgÎ=ö6s% 4 (#qç/¤‹x. $uZÏG»tƒ$t«Î/ ãNèdx‹s{r’sù ª!$# öNÍkÍ5qçRä‹Î/ 3

ª!$#ur ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$#

“(keadaan mereka) adalah sebagai Keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. dan Allah sangat keras siksa-Nya (Q.S.Ali Imran : 11).

 

Penyebutan 6 kali yang lain di dalam surat Ali Imran terkait dengan ampunan, seperti pada Ali Imran  : 16 :

 

 

šúïÏ%©!$# tbqä9qà)tƒ !$oY­/u‘ !$oY¯RÎ) $¨YtB#uä öÏÿøî$$sù $uZs9 $oYt/qçRèŒ $uZÏ%ur z>#x‹tã ͑$¨Z9$#  

“(yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah beriman, Maka ampunilah segala dosa Kami dan peliharalah Kami dari siksa neraka,” (Q.S.Ali Imran : 16).

 

c. Al-Jurm

 

 Kata al-jurm disebut sebanyak 65 kali. Banyak yang berbentuk jama’ mudzakkar salim ( مجرمون ) berjumlah 49 kata. Banyaknya bentuk kata ini menggambarkan bahwa kata al-jurm dipakai di dalam al-Qur’an untuk menggambarkan para pelaku dosa, bukan jenis-jenis dosa sebagaimana diungkapkan kata al-itsm. Kata al-jurm  juga digunakan untuk menjelaskan ancaman siksa yang diterima, seperti dalam Surat Maryam ayat 86  :

ä-qÝ¡nSur tûüÏB̍ôfßJø9$# 4’n<Î) tL©èygy_ #YŠö‘Ír  ( مريم : 86 )  

“dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam Keadaan dahaga”(Q.S. Maryam : 86).

 

d. Al-Wizr

 

     Kata  Al-wizr yang memiliki ma’na dosa disebut sebanyak 11 kali. Dalam al-Qur’an ada ungkapan dalam al-Qur’an yang menggunakan kata al-wizr, ya’ni   لا تزر وازرة وزر أخرى   diulang sebanyak 5 kali. Pada Al-An’am 164, 

Ÿwur â‘Ì“s? ×ou‘Η#ur u‘ø—Ír 3“t÷zé& 4

“dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”(Q.S.al-An’am : 164)

 

Al-Isra’ : 15, Fathir : 18, Al-Zumar : 7,  dan Al-Najm : 38.

 

 

        Dengan diulang-ulangnya kata  al-wizr tersebut memberikan pemahaman bahwa kata al-wizr, disamping memiliki ma’na dosa, juga memiliki ma’na beban. Maka kedua ma’na itu bisa disatukan, bahwa penjelasan dosa yang menggunakan kata al-wizr di dalam al-Qur’an lebih dekat kepada ma’na beban dosa yang ditanggung oleh seseorang dan tidak bisa dibebankan atau dialihkan bebannya kepada orang lain.

Perbedaan antara kata al-itsm, al-dzanb, dan al-jurm dalam al-Quran :.

  1. Kata al-itsm banyak digunakan di dalam al-Qur’an, yang memiliki ma’na dosa, yang diuraikan kesalahannya di dalam ayat tersebut dan paling banyak terkait dengan dosa sosial.
  2. Kata al-dzanb banyak digunakan di dalam al-Qur’an dengan menggunakan bentuk jam’ (   ذنوب)  sementara kata alitsm banyak mnggunakan kata mufrad (   إثم  )
  3. Kata al-dzanb banyak digunakan di dalam al-Qur’an terkait dengan siksaan dan ampunan Allah swt. kepada pelakunya.
  4. Kata al-itsm sebagian besar tedapat dalam surat al-Baqarah, surat yang banyak berbicara mengenai hukum dan sosial, sementara kata al-dzanb banyak terdapat pada surat ghafir (Pengampun) sesuai dengan kandungannya dan relevansinya, ya’ni berbicara mengenai siksaan dan ampunan.

Perbedaan ma’na antara beberapa kata tersebut :

  1. Perbedaan kata al-dzanb  dan al-jurm  menurut Abu Hilal Al-Askari adalah bahwa kata al-dzanb memiliki arti al-ittiba’ (mengikuti) maka berarti sesuatu kejelekan perbuatan seseorang yang mengikutinya, sedangkan kata al-jurm memiliki arti putus, dengan demikian maka berarti keburukan yang dengannya terputus suatu kewajiban[6].
  2. Perbedaan antara al-itsm dengan al-dzanb adalah bahwa al-itsm memiliki ma’na kurang, oleh karena itu di dalam al-Qur’an al-khamr disebut dengan itsm, karena al-khamr (perasan anggur) yang memabukkan itu dapat mengurangi akal.[7]

 

Macam-macam Dosa

 

  1. Dosa Besar dan Dosa Kecil

 

Apabila dilihat dari segi besar kecilnya, maka dosa terbagi menjadi dua, ada dosa besar dan ada dosa kecil. Al-Qur’an menjelaskan adanya dosa besar, pada surat an-Nisa’ 31 dengan kalimat  كبائر ما تنهون عنه , as-Syura 37 dan an-Najm 32 dengan kalimat كَبَائِرَ الْإِثْمِ , tetapi al-Qur’an tidak mendefinisikan dan merinci dosa-dosa besar. Al-Qurthubi mengutip pendapat Ibnu Abbas yang mendefinisikan dosa besar adalah setiap dosa yang diancam dengan neraka, murka, la’nat atau siksaan.[8] Al-Qurthubi juga menyimpulkan;

كل ذنب عظم الشرع التوعد عليه بالعقاب وشدده، أو عظم ضرره في الوجود كما ذكرنا فهو كبيرة وما عداه صغيرة.[9]

 

“dosa besar adalah setiap dosa yang diancam oleh syara’ dengan siksa atau besar bahayanya bagi kehidupan”.

       Al-Dzahabi mendefinisikan dosa besar, dalam bagian awal kitabnya al-Kabair ; Dosa besar adalah apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Namun kemudian ia menyimpulkan dan mendefinisikan ulang, bahwa dosa besar yaitu dosa yang diancam dengan hukuman di dunia, seperti pembunuhan, zina dan pencurian, atau ancaman di akhirat dengan siksa, atau murka, atau pelakunya dila’nat melalui hadits Nabi [10].

        Kalau dilihat dari segi jumlahnya, maka Ibnu Abbas mengatakan ; jumlah dosa besar kurang lebih 70 macam. Dosa-dosa yang yang tidak memenuhi kriteria di atas maka disebut dosa kecil.

  1. Dosa Sosial dan dosa ritual

      Dosa yang dilakukan seseorang terhadap orang lain, atau dosa yang terkait dengan haq adami  (hak antar sesama manusia) penulis sebut dengan Dosa Sosial. Disebut dosa sosial karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan seseorang baik secara individu maupun kelompok berhubungan dengan orang lain baik secara individu meupun kelompok. Sedangkan dosa ritual adalah dosa yang dilakukan manusia yang terkait dengan haqqullah  seperti meninggalkan shalat, puasa, haji dan sebagainya. Al-Qur’an banyak menjelaskan macam-macam dosa sosial, sedikit menjelaskan dosa ritual. Dari 70 macam dosa besar, sebagaimana yang diuraikan oleh Al-Dzahabi dalam kitabnya al-Kabair, ternyata dosa sosial jauh lebih banyak dibandingkan dosa ritual. Dosa sosial berjumalah 59 macam, sedang dosa ritual berjumlah 11 macam [11].

 

Macam-macam Dosa Sosial

       Dosa-dosa sosial yang yang dijelaskan oleh al-Qur’an jumlahnya sangat banyak, namun yang paling menonjol diungkap oleh al-Qur’an secara garis besarnya sebagai berikut :

a. Pembunuhan

       Orang yang membunuh orang lain adalah merupakan kejahatan yang sangat besar. Oleh karena itu al-Qur’an menjelaskan hukuman yang sangat berat bagi pelaku kejahatan kemanusiaan ini, ayang harus diterima di dunia, yaitu dengan qishash (pembalasan yang sama) berarti dengan dibunuh, sebagaimana dijelaskan pada surat al- Baqarah ayat 178-179

       Pelaku pembunuhan dan perusakan di muka  bumi ini juga mendapat dosa yang sangat besar, sebagaimana dijelaskan pada surat Al-Maidah ayat 32 :

 

“oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya [12]. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi”(Q.S. Al-Maidah : 32)

 

       Surat al-Baqarah ayat 85 , berbicara tentang pembunuhan dan kekerasan yang dilakukan oleh kaum yahudi sebelum Islam datang,

§NèO öNçFRr& ÏäIwàs¯»yd šcqè=çGø)s? öNä3|¡àÿRr& tbqã_̍øƒéBur $Z)ƒÌsù Nä3ZÏiB `ÏiB öNÏd̍»tƒÏŠ

tbrãyg»sàs? NÎgøŠn=tæ ÄNøOM}$$Î/ Èbºurô‰ãèø9$#ur

“kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan”

 

    Ayat ini berkenaan dengan cerita orang Yahudi di Madinah pada permulaan Hijrah. Yahudi Bani Quraizhah bersekutu dengan suku Aus, dan Yahudi dari Bani Nadhir bersekutu dengan orang-orang Khazraj. antara suku Aus dan suku Khazraj sebelum Islam selalu terjadi persengketaan dan peperangan yang menyebabkan Bani Quraizhah membantu Aus dan Bani Nadhir membantu orang-orang Khazraj. sampai antara kedua suku Yahudi itupun terjadi peperangan dan tawan menawan, karena membantu sekutunya. tapi jika kemudian ada orang-orang Yahudi tertawan, Maka kedua suku Yahudi itu bersepakat untuk menebusnya Kendatipun mereka tadinya berperang-perangan.

        Banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan tentang dosa pembunuhan, di antaranya Ali Imran : 21, An-Nisa’ : 92 – 93, al-An’am : 151, al-Isra’ : 33,  al-Furqan : 68.

 

b. Berbuat Kerusakan di Bumi

      Berbuat kerusakan di muka bumi adalah merupakan dosa sosial  yang mendapat ancaman dosa yang sangat berat. Banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang dosa sosial ini.  Paling sedikit ada 39 ayat yang menjelaskan tentang dosa dan larangan berbuat kerusakan di muka bumi.   Sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-Maidah ayat 33,  sebagai berikut :

 

$yJ¯RÎ) (#ätÂt“y_ tûïÏ%©!$# tbqç/͑$ptä† ©!$# ¼ã&s!qߙu‘ur tböqyèó¡tƒur ’Îû ÇÚö‘F{$# #·Š$|¡sù br& (#þqè=­Gs)ム÷rr& (#þqç6¯=|Áム÷rr& yì©Üs)è? óOÎgƒÏ‰÷ƒr& Nßgè=ã_ö‘r&ur ô`ÏiB A#»n=Åz ÷rr& (#öqxÿYムšÆÏB ÇÚö‘F{$# 4 šÏ9ºsŒ óOßgs9 ӓ÷“Åz ’Îû $u‹÷R‘‰9$# ( óOßgs9ur ’Îû ÍotÅzFy$# ë>#x‹tã íOŠÏàtã

 

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar(Q.S. Al-Maidah : 33)

 

        Larangan berbuat kerusakan di muka bumi juga dijelaskan pada ayat-ayat berikut :Al-Baqarah : 11, 12, 27, 30, 60, 205, 220, 251. Ali Imran : 63,  Al-Maidah : 64, Al-a’raf : 56, 74, 85, 86, 103, 127, 142. Yunus : 40, 81, 91.  Hud : 85 dan 116, Yusuf : 73, Al-Ra’d : 25. Al-Nahl : 88. Al-Isra’ : 4. Al-Kahf : 94. Al-anbiya’ : 22. Al-Mu’minun : 71, Al-Syu’ara’ : 152, 183. Al-Naml : 14, 34, 48, 4, Al-Qashash, 77, al-‘ankabut : 30, 36.  Shad : 28.  dan Surat Muhammad : 22.

 

c. Mengambil dan Memakan harta orang lain dengan cara yang bathil

 

        Mengambil  harta orang lain dengan cara yang batil (tidak benar), seperti mencuri, merampok, korupsi, dan sebagainya adalah merupakan kejahatan kemanusiaan, yang pelakunya mendapat hukuman yang sangat berat, yaitu dengan dipotong tangannya. sebagaimana dijelaskan di dalam Surat Al-Maidah ayat 38 :

 

ä-͑$¡¡9$#ur èps%͑$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym  

 

“laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(Q.S. Al-Maidah : 38).

 

       Pencurian yang disebutkan pada ayat tersebut mencakup segala jenisnya, termasuk menodong, merampok, dan korupsi. Hukuman yang begitu berat bagi pelaku pencurian sebagaimana dijelaskan pada ayat tersebut, bukan memberikan contoh kekerasan, akan tetapi hukuman potong tangan dipastikan oleh al-Qur’an sebagai cara yang efektif untuk melindungi manusia dari pelaku kejahatan harta ini.

 

        Ada beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan larangan memakan harta orang lain dengan cara yang bathil sepeti Surat al-Baqarah 188

 

Ÿwur (#þqè=ä.ù’s? Nä3s9ºuqøBr& Nä3oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ (#qä9ô‰è?ur !$ygÎ/ ’n<Î) ÏQ$¤6çtø:$# (#qè=à2ù’tGÏ9 $Z)ƒÌsù ô`ÏiB ÉAºuqøBr& Ĩ$¨Y9$# ÉOøOM}$$Î/ óOçFRr&ur tbqßJn=÷ès? ÇÊÑÑÈ  

“dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.”(Q.S. Al-Baqarah : 188)

 

     Lebih keras lagi dan secara tegas al-Qur’an menyatakan sebagai dosa besar adalah memakan harta anak yatim dengan cara bathil, sebagaimana dijelaskan dalam Surat An-Nisa ayat 2, 6 dan 10. Hal demikian sama dengan mengambil harta orang-orang yang lemah, seperti fakir miskin, orang yang terlantar, orang yang kena mushibah dan sebagainya. Al-Qur’an juga melarang memakan harta orang lain dengan cara batil di dalam perdagangan, sebagaimana dijelaskan dalam Surat An-Nisa’ ayat 29.  Ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang larangan dan dosa mengambil atau memakan harta orang lain dengan cara bathil adalah : Surat  An-Nisa’ :  161.  Al-Taubah : 34.

 

Termasuk dalam kategori mengambil atau memakan harta orang lain dengan cara bathil adalah riba. Riba sangat dilarang dalam al-Qur’an, sehingga pelaku riba disamakan dengan orang yang kesurupan :

“orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”(Q.S. Al-Baqarah : 275)

 

 

Riba termasuk mengembangkan harta dengan cara yang tidak halal, sehingga termasuk dalam katergori mengambil harta orang lain dengan cara bathil. Al-Qur’an menjelaskan dosa riba pada ayat-ayat berikut : Al-baqarah 276,  278.  Ali Imran : `130. An-Nisa’ :  161

 

  1. Menyakiti Orang Lain

 

       Al-Qur’an memberikan ajaran yang sangat mulia, sampai kepada menjaga hubungan yang baik dengan orang lain, dengan tidak menyakiti orang lain dengan cara apapun, baik dengan lisan, tangan, dan sebagainya. Salah satu ayat yang menjelaskan hal tersebut adalah  Surat al-Ahzab ayat 58 :

 

tûïÏ%©!$#ur šcrèŒ÷sムšúüÏZÏB÷sßJø9$# ÏM»oYÏB÷sßJø9$#ur ΎötóÎ/ $tB (#qç6|¡oKò2$# ωs)sù (#qè=yJtFôm$# $YZ»tFôgç/ $VJøOÎ)ur $YYÎ6•B

  

“dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.(Q.S. Al-Ahzab : 58)

 

       Al-Qur’an juga mengingatkan kepada orang-orang yang mampu memberi dan menolong kepada orang lain, baik dengan harta, tenaga, pikiran dan lainnya, agar tidak menyakiti orang yang diberi sadaqah atau bantuan, dan juga tidak mengungkit-ungkit pemberiannya itu.  Hal tersebut dijelaskan dalam ayat-ayat berikut ini :

 

tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZムöNßgs9ºuqøBr& ’Îû È@‹Î6y™ «!$# §NèO Ÿw tbqãèÎ7÷Gム!$tB (#qà)xÿRr& $xYtB Iwur “]Œr&   öNçl°; öNèdãô_r& y‰YÏã öNÎgÎn/u‘ Ÿwur ì$öqyz óOÎgøŠn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRt“óstƒ ÇËÏËÈ   ×Aöqs% Ô$rã÷è¨B îotÏÿøótBur ׎öyz `ÏiB 7ps%y‰|¹ !$ygãèt7÷Ktƒ “]Œr& 3 ª!$#ur ;ÓÍ_xî ÒOŠÎ=ym ÇËÏÌÈ   $yg•ƒr’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw (#qè=ÏÜö7è? Nä3ÏG»s%y‰|¹ Çd`yJø9$$Î/ 3“sŒF{$#ur “É‹©9$%x. ß,ÏÿYム¼ã&s!$tB uä!$sÍ‘ Ĩ$¨Z9$# Ÿwur ß`ÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# ( ¼ã&é#sVyJsù È@sVyJx. Ab#uqøÿ|¹ Ïmø‹n=tã Ò>#tè? ¼çmt/$|¹r’sù ×@Î/#ur ¼çmŸ2uŽtIsù #V$ù#|¹ ( žw šcrâ‘ωø)tƒ 4’n?tã &äóÓx« $£JÏiB (#qç7|¡Ÿ2 3 ª!$#ur Ÿw “ωôgtƒ tPöqs)ø9$# tûï͍Ïÿ»s3ø9$# ÇËÏÍÈ  

 

 

“orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”(Q.S. Al-Baqarah : 262-264)

 

Di dalam haditsnya, Rasulullah saw. Menegaskan

 

 

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ[13]  (رواه أحمدوابن ماجه)

 

“Jangan kamu menyengsarakan orang lain”(H.R. Ahmad dan Ibn Majah)

 

 

 

  1. Memutus Hubungan Silaturrahim

 

         Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam menjaga hubungan silaturrahim dengan anggota keluarga. Oleh karena itu memutus tali silaturrahim adalah merupakan dosa besar , sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat  berikut :

 

tûïÏ%©!$#ur tbqàÒà)Ztƒ y‰ôgtã «!$# .`ÏB ω÷èt/ ¾ÏmÉ)»sV‹ÏB šcqãèsÜø)tƒur !$tB ttBr& ª!$# ÿ¾ÏmÎ/ br& Ÿ@|¹qãƒ

 tbr߉šøÿãƒur ’Îû ÇÚö‘F{$#   y7Í´¯»s9’ré& ãNßgs9 èpoY÷è¯=9$# öNçlm;ur âäþqߙ ͑#¤$!$#  

 

“orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan Mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang Itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).”(Q.S. Ar-Ra’d : 25)

 

 

 

tûïÏ%©!$# tbqàÒà)Ztƒ y‰ôgtã «!$# .`ÏB ω÷èt/ ¾ÏmÉ)»sWŠÏB tbqãèsÜø)tƒur !$tB ttBr& ª!$# ÿ¾ÏmÎ/ br& Ÿ@|¹qムšcr߉šøÿãƒur ’Îû ÇÚö‘F{$# 4 šÍ´¯»s9’ré& ãNèd šcrçŽÅ£»y‚ø9$#  

“(yaitu) orang-orang yang melanggar Perjanjian Allah sesudah Perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. mereka Itulah orang-orang yang rugi.”(Q.S Al-Baqarah : 27)

 

tûïÏ%©!$#ur tbqè=ÅÁtƒ !$tB ttBr& ª!$# ÿ¾ÏmÎ/ br& Ÿ@|¹qムšcöqt±øƒs†ur öNåk®5u‘ tbqèù$sƒs†ur uäþqߙ É>$|¡Ïtø:$#

  

“dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan[771], dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk”(Q.S. Al-Ra’d : 21).

 

 

ö@ygsù óOçFøŠ|¡tã bÎ) ÷LäêøŠ©9uqs? br& (#r߉šøÿè? ’Îû ÇÚö‘F{$# (#þqãèÏeÜs)è?ur öNä3tB$ymö‘r&  

 

“Maka Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”(Q.S. Muhammad : 22)

 

 

Menjaga hubungan silaturrahim dengan anggota keluarga juga dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 181 dan 182.

 

  1. Kesombongan

        Kesombongan merupakan dosa besar yang menjadi pangkal dari berbagai macam dosa, sehingga banyak ayat-ayat al-Qur’an menjelaskan bahaya dosa kesombongan ini, baik secara langsung maupun melalui kisah (cerita). Al-Qur’an mengkisahkan kesombongan Iblis yang tidak mau sujud kepada Nabi Adam a.s., juga Fir’aun dengan kesombongannya ia mengaku Tuhan. Dengan hartanya Qarun menjadi sombong. Dosa kesombongan itu antara lain dijelaskan pada ayat-ayat berikut ini :

 

#sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% ã&s! È,¨?$# ©!$# çmø?x‹s{r& äo¨“Ïèø9$# ÉOøOM}$$Î/ 4 ¼çmç7ó¡yssù æL©èygy_ 4 }§ø¤Î6s9ur ߊ$ygÏJø9$#  

“dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.”(Q.S. Al-Baqarah : 206)

 

       Dosa kesombongan dan sekaligus balasan siksa diungkap pada ayat-ayat berikut, : An-Nisa’ : 172-173,  al-A’raf : 36, 40,dan 133. Al-Qashash : 39-40, dan Q.S. Luqman : 7

 

Aallah swt. Menceritakan dalam al-Qur’an orang-orang yang sombong dan ancaman serta siksa yang ditimpakan kepada mereka, pada ayat berikut ini :

 “dan (juga) Karun, Fir’aun dan Haman. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. akan tetapi mereka Berlaku sombong di (muka) bumi, dan Tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu).  Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri.”(Q.S. Al-‘Ankabut : 39-40)

 

     Ayat-ayat tersebut cukup menjadi bukti, betapa bahayanya dosa sosial kesombongan. Anehnya, biasanya pelakunya sering tidak merasa atau tidak sadar bahwa ia melakukakan kesombongan itu, tetapi orang lain menerima akibat dosa tersebut.

 

g. Meminum Khamr (Minuman Keras)

 

          Meminum khamr dan sejenisnya, yakni minuman dan barang konsumsi lain yang dapat memabukkan, termasuk NARKOBA, adalah merupakan biang dari banyak bentuk kejahatan, seperti pencurian, perzinahan dan pembunuhan. Karena begitu akrabnya dan sudah menjadi kebiasaan bangsa arab mengkonsumsi khamr saat diturunkannya al-Qur’an, maka al-Qur’an menjelaskan status hukumnya secara gradual (bertahap), ayat pertama yang menjelaskan tentang khamr adalah Al-Baqarah : 219 yang masih bersifat umum, ya’ni terdapat bahaya dan manfaat, akan tetapi bahayanya lebih besar. Kemudian tahap kedua al-Qur’an menjelaskan khamr pada Surat An-Nisa’ : 43. Kemudian tahap ketiga al-Qur’an lebih tegas menjelaskan status hukum khamr dalam surat al-Maidah : 90 – 91. dengan menyatakan bahwa khamr adalah termasuk perbuatan syaitan, maka berhentilah kamu dari meminum khamr.

 

  1. Kebohongan publik

 

  Dosa kebohongan publik adalah termasuk dosa sosial yang sangat berbahaya

 

¨bÎ) tûïÏ%©!$# râä!%y` Å7øùM}$$Î/ ×pt6óÁãã ö/ä3YÏiB 4 Ÿw çnqç7|¡øtrB #uŽŸ° Nä3©9 ( ö@t/ uqèd ׎öyz ö/ä3©9 4

 Èe@ä3Ï9 <›ÍöD$# Nåk÷]ÏiB $¨B |=|¡tFø.$# z`ÏB ÉOøOM}$# 4 “Ï%©!$#ur 4†¯<uqs? ¼çnuŽö9Ï. öNåk÷]ÏB ¼çms9 ë>#x‹tã ×LìÏàtã

 

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (Q.S. An-Nur : 11).

 

 

        Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah s.a.w. ‘Aisyah r.a. Ummul Mu’minin, sehabis perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya’ban 5 H. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula ‘Aisyah dengan Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. ‘Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. tiba-tiba Dia merasa kalungnya hilang, lalu Dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa ‘Aisyah masih ada dalam sekedup. setelah ‘Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat Dia duduk di tempatnya dan mengaharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya. Kebetulan, lewat ditempat itu seorang sahabat Nabi, Shafwan Ibnu Mu’aththal, diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan Dia terkejut seraya mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, isteri Rasul!” ‘Aisyah terbangun. lalu Dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut Pendapat masing-masing. mulailah timbul desas-desus. kemudian kaum munafik membesar- besarkannya, Maka fitnahan atas ‘Aisyah r.a. itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.

 

`tBur ó=Å¡õ3tƒ ºpt«ÿ‹ÏÜyz ÷rr& $\ÿùSÎ) ¢OèO ÏQötƒ ¾ÏmÎ/ $\«ÿƒÌt/ ωs)sù Ÿ@yJtGôm$# $YY»tFökæ5 $VJøOÎ)ur $YYÎ6•B

“dan Barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, Maka Sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.”(Q.S. An-Nisa’ : 112)

 

Ayat lain yang menjelaskan dosa kebohongan publik adalah : An-Nisa’ : 156, An-Nur : 16, dan  Al-Mumtahanah : 12,

 

  1. Prasangka buruk dan ghibah

        Al-Qur’an menjelaskan dosa ghibah  (menggunjing) dan hukumannya yang sangat berat, sebagaimana digambarkan pada ayat berikut ini :

 

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qç7Ï^tGô_$# #ZŽÏWx. z`ÏiB Çd`©à9$# žcÎ) uÙ÷èt/ Çd`©à9$# ÒOøOÎ) ( Ÿwur (#qÝ¡¡¡pgrB Ÿwur =tGøótƒ Nä3àÒ÷è­/ $³Ò÷èt/ 4 =Ïtä†r& óOà2߉tnr& br& Ÿ@à2ù’tƒ zNóss9 ÏmŠÅzr& $\GøŠtB çnqßJçF÷d̍s3sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# Ò>#§qs? ×LìÏm§‘

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (Q.S. al-Hujurat : 12).

 

      Hukuman yang begitu berat tergambar dengan jelas pada ayat tersebut bagi orang-orang yang melakukan ghibah dan tajassus (mencari-cari keburukan orang) dan prasangka buruk. Perbuatannya disamakan dengan memakan bangaki saudaranya.

 

Taubat Dari Dosa Sosial

 

 

        Untuk membersihkan diri dari dosa, maka manusia harus bertaubat, karena dengan bertaubat maka dosa-dosa akan dihapus dan diampuni oleh Allah swt. Sebagaimana Rasulullah saw. berkata :

 

« التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ »[14].

 

“Rasulullah saw. Bersabda “orang yang brtaubat dari dosa sama seperti orang yang tidak berdosa” (H.R. Ibn Majah)

 

        Pertanyaanya adalah, ketika seseorang berbuat dosa kemudian memohon ampun kepada Allah swt. Apakah kemudian segala macam dosa dapat diampuni, baik yang besar maupun yang kecil, yang terkait dengan haqqullah atau haq adami ? sebagaimana pemahaman sepintas dari hadits berikut :

 

 

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى[15]

 

  “Wahai Ibn Adam (manusia) seandainya dosa-dosamu mencapai mendung di langit, kemudian kamu mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan saya tidak peduli”(H.R. At-Tirmidzi)

 

 ( من قال سبحان الله وبحمده في يوم مائة مرة حطت خطاياه وإن كانت مثل زبد البحر )

 

“Barangsiapa membaca سبحان الله وبحمده 100 x dalam sehari maka kesalahan-kesalahannya (dosanya) dihapus walaupun banyaknya seperti  buih di lautan.(H.R. Bukhari)

Kalau melihat hadits-hadits tersebut di atas nampaknya ampunan Allah swt. Sangat mudah untuk diraih, baik bagi pelaku dosa besar maupun kecil. Mungkin hadits-Hadits tersebut dan hadits serupa yang lain dijadikan dasar dengan pemahaman  yang salah. Nampaknya banyak orang yang memiliki anggapan dan bahkan keyakinan bahwa demikian mudah mendapatkan ampunan Allah swt. ?  Apakah ampunan yang dijanjikan di dalam hadits-hadits tesebut meliputi ampunan semua jenis dosa, besar maupun kecil, dosa sosial maupun dosa ritual ? Ketika kita pahami hadits-hadits tersebut dengan hadits-hadits lain secara menyeluruh, dapat disimpulkan bahwa, dosa sosial tidak semudah itu dalam mendapatkan ampunan. Banyak ulama yang menjelaskan tentang at-taubah an-nashuh.

        Al-Imam al-Qurthubi di dalam menafsirkan ayat 8 Surat Al-Tahrim menjelaskan definisi at-taubah an-nashuh : ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan at-taubah an-nashuh sampai 23 pendapat, di antaranya ada yang mengatakan; at-taubah an-nashuh adalah taubat yang tidak akan mengulangi lagi perbuatan dosa, sebagaimana air susu tidak bisa kembali lagi ke tempatnya semula (buah susu), Al-Qurthubi juga mengutip pendapat Abu Bakar Al-Daqqaq Al-Mashri, bahwa at-taubah an-nashuh adalah mengembalikan kezhaliman, meminta halal dalam pertikaian, dan selalu dalam ketaatan.[16]

        Hafizh Ibn Ahmad Hakami menguraikan syarat at-taubah an-nashuh. Ada 3 syarat; yaitu :Pertama. Berhenti dari perbuatan dosa, Kedua. Menyesali perbuatannya. Ketiga. Tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu lagi. Tetapi apabila dosa terkait dengan haq adami (dosa dan kesalahan yang ada hubungannya dengan manusia) maka ditambah satu(1) syarat lagi, yaitu meminta maaf kepada orang yang bersangkutan [17]. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Sa’id Ibn ‘Ali al-Qahthani  [18], juga An-Nawawi dalam kitabnya riyadh ash-Shalihin [19].

       Apa yang diuraikan oleh Hafizh Ibn Ahmad Hakami dan juga banyak ulama lainnya adalah sesuai dengan kesimpulan dari hadits Nabi tentang kezhaliman berikut ini :

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا ، فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ ، فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ » [20] (رواه البخاري)

 

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW. Bersabda : Barang siapa yang pernah melakukan kezhaliman kepada saudaranya (sesama manusia) maka hendaknya meminta halal kepadanya, karena  sesungguhnya disana (hari kiamat) tidak ada dinar dan dirham sebelum kebaikannya (orang yang melakukan kezhaliman) diberikan kepada orang yang pernah dizhalimi. Apabila ia (orang yang melakukan kezhaliman) tidak memiliki kebaikan, maka kejelekan (dosa) orang yang dizhalimi dibeikan kepadanya  (orang yang melakukan kezhaliman) (H.R. bukhari)

 

Dan juga hadits Nabi berikut ini :

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ».[21] (رواه مسلم )

 

 

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW. Bersabda : tauhakah kamu apakah orang yang bangkrut itu ? para sahabat menjawab : orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya dirham dan harta. Lalu Rasulullah bersabda : orang yang bangkrut dari ummatku adalah orang yang datang di hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, zakat. Tetapi ia mencaci maki ini (orang lain) menuduh itu (orang lain), memakan harta orang lain, membunuh orang lain, memukul orang lain, maka kebaikannya (pahalanya) diberikan kepada orang lain (yang pernah dizhalimi), Apabila kebaikan (pahalanya) sudah habis sementara belum terpenuhi, maka kejelekan (dosa-dosa) orang yang pernah dizhaimi diberikan (ditimpakan) kepadanya, kemudian ia dibuang ke neraka (H.R. Muslim)

 

Dengan demikian, jelas bahwa tidaklah mudah, bertaubat dari dosa sosial, sebab ada jalan berat yang harus dilalui yaitu meminta maaf atau meminta halal kepada orang yang pernah disakiti atau dizhalimi. Apabila orang yang dizhalimi jumlahnya sedikit, satu atau dua orang, berarti meminta maafnya ringan atau lebih mudah, tetapi ketika orang yang disakiti atau dizhalimi jumlahnya cukup banyak, seperti orang yang melakukan korupsi uang rakyat se Indonesia. Maka bagaimana ia akan meminta maaf kepada orang se Indonesia, adalah merupakan hal yang sangat sulit. Oleh karena itu, dosa sosial termasuk dosa korupsi adalah dosa yang sulit untuk mendapatkan ampunan Tuhan.

 

Dampak Perbuatan Dosa

 

  1. Di Dunia

Pelaku dosa tidak langsung mendapatkan balasan siksa di dunia. Berbeda dengan umat tedahulu ketika mereka melakukan ma’shiyat atau dosa, maka langsung mendapat balasan siksaan di dunia sebagaimana banyak diceritakan oleh al-Qur’an. “dan Sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, Padahal Rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.(Q.S. Yunus : 13)  Kaum Nabi Luth,  kaum Nabi Shalih, kaum Nabi Hud dan kaum Nabi-Nabi yang lain sebelum Nabi Muhammad saw. Mendapat siksa dari Allah swt. Sewaktu di dunia dengan berbagai macam siksaan. Walaupun umat sekarang (umat setelah Nabi Muhammad) tidak langsung mendapat balasan siksa, tetapi dosa-dosa yang mereka lakukan bedanpak negatif, baik terhadap dirinya sendiri maupun kepada masyarakt luas

 

  1. Kembali kepada pribadi pelaku

 

Danpak negatif atas perbuatan dosa yang kembali kepada pribadi si pelaku dosa, antara lain :

 

  1. Musibah (bencana).

      Musibah (bencana)  yang menimpa kepada Pelaku dosa, sebagaimana dijelaskan pada hadits berikut :

 

عَنْ أَبِى مُوسَى أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يُصِيبُ عَبْدًا نَكْبَةٌ فَمَا فَوْقَهَا أَوْ دُونَهَا إِلاَّ بِذَنْبٍ وَمَا يَعْفُو اللَّهُ عَنْهُ أَكْثَرُ ». قَالَ وَقَرَأَ ( وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ )[22]. (رواه الترمذي )

“Dari Abu Musa, bahwa Rasulullah saw. Berkata : Tidaklah menimpa musibah kepada seorang hamba, baik besar maupun kecil, kecuali disebabkan dosa, tetapi dosa yang diampuni oelh Allah swt. Lebih banyak.(H.R. Al-Tirmidzi)

 

  1. Hati tertutup noda (berkarat)

        Dosa yang dilakukan seseorang dapat mengakibatkan kotornya hati seseorang, sehingga laksana kaca sebuah lampu, lambat laun akan semakin teban kotoran yang menempel di kaca tersebut, semakin sulit untuk dibersihkan. Hal ini sebagaimana dalam ayat berikut :

žxx. ( 2ö@t/ tb#u‘ 4’n?tã NÍkÍ5qè=è% $¨B (#qçR%x. tbqç6Å¡õ3tƒ ÇÊÍÈ  

“sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”(Q.S. Al-Muthaffifin : 14)

 

       Ayat tersebut ditafsirkan oleh Rasulullah saw. : sesungguhnya seseorang apabila melakukakan kesalahan (dosa), maka menjadi noda hitam di dalam hatinya. Apabila ia menghentikan perbuatannya itu dan bertobat, maka menjadi jernih (putih)  dan apabila ia kembali melakukan dosa, maka semakin bertambah hitam nodanya sehingga menutupi hatinya, itulah ma’na ran   yang disebutkan oleh Allah swt. Dalam ayat 14 Surat al-Muthaffifin)(H.R. Al-Tirmidzi)[23]

 

  1. Doa dan amalnya tidak diterima

 

 

        Di antara balasan dosa adalah tidak dikabulkannya do’a, sebagaimana dijelaskan pada ayat berikut ini

 

¨bÎ) šúïɋ©9$# (#qç/¤‹x. $uZÏG»tƒ$t«Î/ (#rçŽy9õ3tFó™$#ur $pk÷]t㠟w ßx­Gxÿè? öNçlm; Ü>ºuqö/r& Ïä!$uK¡¡9$# Ÿwur tbqè=äzô‰tƒ sp¨Yyfø9$# 4Ó®Lym ykÎ=tƒ ã@yJpgø:$# ’Îû ÉdOy™ ÅÞ$u‹Ïƒø:$# 4 šÏ9ºx‹Ÿ2ur “Ì“øgwU tûüÏB̍ôfßJø9$# ÇÍÉÈ  

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit  dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.(Q.S. Al-A’raf : 40)

 

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa balsan dan hukuman dosa orang-orang yang sombong adalah ditutupnya pintu-pintu langit, ya’ni  : doa dan amal mereka tidak diterima oleh Allah juga mereka tidak mungkin masuk surga sebagaimana tidak mungkin masuknya unta ke lubang jarum.

  1. Terhalang dari Rizki

 

Orang yang melakukan dosa akan terhalang dari rizki,. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi berikut :

« لاَ يَزِيدُ فِى الْعُمْرِ إِلاَّ الْبِرُّ وَلاَ يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلاَّ الدُّعَاءُ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ ».[24]

“Tidak menambah umur kecuali kebaikan, tidak dapat menolak takdir kecuali doa dan sesungguhnya orang terhalang dari rizkinya disebabkan dosa yang ia lakukan(H.R. Ibn Majah)

 

 

 

 

  1. Dampak Negatifnya kepada Masyarakat (orang banyak)

 

 

Dosa juga memberikan danpak negatif kepada masyarakat luas, antara lain :

 

    1. Masyarakat luas mendapat siksa di dunia.

 

         Dosa yang dilakukan seseorang tidak hanya berdampak negatif kepada dirinya sendiri, akan tetapi dapat berdampat negatif kapada orang lain dan masyarakat luas. Sebagaimana dijelaskan pada ayat berikut ini :

 

 

 

عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ أَبِي حَكِيمٍ أَنَّهُ سَمِعَ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ يَقُولُكَانَ يُقَالُ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِذَنْبِ الْخَاصَّةِ وَلَكِنْ إِذَا عُمِلَ الْمُنْكَرُ جِهَارًا اسْتَحَقُّوا الْعُقُوبَةَ كُلُّهُمْ[25]   (رواه مالك)

 

“Umar Ibn Abdul Aziz berkata : Dikatakan bahwa sesungguhnya Allah swt. Tidak menyiksa suatu kaum disebabkan dosa yang dilakukan oleh orang tertentu. Tetapi apabila dilakukan suatu kemungkaran secara terang-terangan, maka mereka semua mendapatkan siksa”(H.R. Malik)

 

Juga hadits berikut :

 

 

عن أبي بكر قال سمعنا رسول الله يقول: ((إن الناس إذا رأوا الظالم فلم يأخذوا على يديه

أوشك أن يعمهم الله بعقاب)) وإني سمعت رسول الله يقول: ((ما من قوم يعمل فيهم بالمعاصي

 ثم يقدرون على أن يغيروا ولا يغيرون إلا يوشك أن يعمهم الله بعقاب))[26] أبو داود وابن ماجه.

“Dari Abu Bakar berkata : kami mendengar Rasulullah saw. Bekata : sesungguhnya apabila orang-orang melihat seseorang yang melakukan kezhaliman dan mereka tidak bertindak kepadanya, maka dikhawatirkan Allah swt. akan menimpakan siksa kepada mereka semua, dan saya mendengar Rasulullah saw. Brkata : Suatu kaum yang di tengah-tengah mereka dilakukan ma’shiat (dosa) kemudian mereka mampu untuk merubahnya tetapi mereka tidak merubahnya maka dikhawatirkan Allah swt. Menimpatkan siksanya kepad mereka semua secara merata.(H.R. Abu Daud dan Ibn Majah)  

 

2. Ditutupnya Keberkahan dari langit dan bumi.

 

      Orang-orang yang melakukan dosa, terutama dosa sosial, akan tertutup dari keberkahan. Mereka tidak mendapat keberkahan dalam segala usahanya. Hal itu sebagaimana diuraikan dalam ayat berikut :

öqs9ur ¨br& Ÿ@÷dr& #“tà)ø9$# (#qãZtB#uä (#öqs)¨?$#ur $uZóstGxÿs9 NÍköŽn=tã ;M»x.tt/ z`ÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur

`Å3»s9ur (#qç/¤‹x. Mßg»tRõ‹s{r’sù $yJÎ/ (#qçR$Ÿ2 tbqç7Å¡õ3tƒ

  

“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya(Q.S. Al-A’raf : 96).

 

 

        Ayat ini dapat disimpulkan bahwa penduduk suatu negeri apabila beriman dan bertakwa, maka pasti akan mendapat keberkahan dari langit dan bumi sebaliknya apabila mereka durhaka dan  mendustakan terhadap apa yang disampaikan oleh para utusan Allah, maka  mereka mendapat hukuman siksaan di dunia berupa kesulitan, sebagai peringatan dan kesenangan sebagai bentuk penghinaan, benyaknya bencana  serta dicabutlah keberkahan tersebut[27].

 

  1. Terjadi kerusakan di Muka Bumi

 

Apabila kemaksiatan dilakukan, maka akan terjadi kerusakan di muka bumi, antara lain rusaknya tanaman, sehingga gagal panen, terjadi banjir dan tanah longsor dan sebagainya, sebagaimana dijelaskan pada ayat berikut ini

 

tygsß ßŠ$|¡xÿø9$# ’Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur $yJÎ/ ôMt6|¡x. “ω÷ƒr& Ĩ$¨Z9$# Nßgs)ƒÉ‹ã‹Ï9 uÙ÷èt/ “Ï%©!$# (#qè=ÏHxå öNßg¯=yès9 tbqãèÅ_ötƒ ÇÍÊÈ  

“telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(Q.S. Ar-Rum : 41)

 

 

Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa terjadinya kerusakan di muka bumi ini disebabkan perbuatan manusia. Menurut Ibn Katsir ; kerusakan di muka bumi antara lain seperti gagal panen dan rusaknya tanaman disebabkan karena kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia. Menurut Abu al-Aliah : orang yang durhaka kepada Allah swt. berarti ia berbuat kerusakan di muka bumi, karena baiknya bumi dan langit (alam) ini adalah dengan taat kepada Allah swt.[28] Oleh karena itu Rasulullah saw. Berkata : hukum yang ditegakkan dengan baik di muka bumi ini lebih dicintai oleh penghuninya daripada mereka diberi hujan selama empat puluh (40) hari (H.R. Al-Nasa’i dan Ibn Majah). Ketika hukum ditegakkan dengan baik, maka akan memberikan efek jera, sehingga dapat mencegah orang untuk berbuat hal-hal yang diharamkan.  

 

 

 

 

  1. Siksa di Akhirat

 

Al-Qur’an banyak menjelaskan bahwa orang-orang yang menyandang dosa, sampai akhir hidupnya ia tidak bertobat, maka pasti di akhirat akan mendapat balasan siksa sesuai perbuatan dosanya. Sebagaimana dijelaskan pada ayat berikut ini dan juga pada ayat-ayat lainnya.

 

(#râ‘sŒur tÎg»sß ÉOøOM}$# ÿ¼çmoYÏÛ$t/ur 4 ¨bÎ) šúïÏ%©!$# tbqç7Å¡õ3tƒ zOøOM}$# tb÷rt“ôfã‹y™ $yJÎ/ (#qçR%x. tbqèùΎtIø)tƒ  

 

“dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan(Q.S. Al-An’am : 120).

 

 

Kesimpulan

 

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa :

2.      Al-Qur’an banyak menjelaskan macam-macam dosa sosial, ya’ni dosa yang dilakukan oleh seseorang terkait dengan orang lain, seperti mencuri dan korupsi, dalam istilah disebut dosa haq adami.

3.      Jika dibandingkan antara dosa sosial (haq adami) dengan dosa ritual (haqqullah), dalam hal pensucian dosa dan pertaubatannya, maka dosa sosial lebih sulit mendapatkan ampunan, karena salah satu persyaratannya atau rukunnya adalah meminta maaf kepada orang yang bersangkutan, bahkan nyaris tak terampuni.

4.      Dosa-dosa yang digolongkan oleh para ulama sebagai dosa besar, dan tidak ada hubungannya dengan orang lain, relatif lebih mudah pertaubatannya, dibandingkan dengan dosa sosial.

 

 

 

 

Catatan Akhir


 

 


[1] . Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur al afriqi al Mashri, Lisan al-Arab, (Berut, Daar shadir, tth), Cet. I Juz I, h. 389.

[2] . Ensiklopedi Islam, Jakarta, P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve,1994, Cet. Ke-3, Jilid 2, h. 318

[3] . Ibn Manzhur, Lisan al-Arab,  Juz I, h. 23.

[4] . Ali Ibn Muhammad Ibn Ali al-Jurjani, al-T’rifat, (Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, 1405)Cet. I, Juz I, h. 23

[5]   Al-Hakim Al-Naisaburi, Al-Mustadrak ala Al-Shahihain, (Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1411)  Juz 2, h. 17.

[6] . Abu Hilal Al-Askari, Al-Furuq Al-Lughawiyyah,  Juz I. H. 244.

[7] . Abu Hilal Al-Askari. Juz I. h. 7

[8] . Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an,  Juz 5, h. 158.

[9] . Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an,  Juz 5, h. 160.

[10] . Al-Imam Syamsuddin al-Dzahabi, al-Kabair, Beirut, Dar al-Fikr, 1994, h. 7

[11] . Ibid.

[12] .Hukum ini bukanlah mengenai Bani Israil saja, tetapi juga mengenai manusia seluruhnya. Allah memandang bahwa membunuh seseorang itu adalah sebagai membunuh manusia seluruhnya, karena orang seorang itu adalah anggota masyarakat dan karena membunuh seseorang berarti juga membunuh keturunannya.

[13] . Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hanbal, Musnad Ahmad Ibn Hanbal, Bairut, ‘Alam al-Kutub, 1998, Cet. I. Juz I, h. 313.

[14] .Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, Beitur, Dar al-Jail, 1418, Juz 2, h. 1419.

[15] .Al-Tirmidzi, Sunan Al-Tirmidzi, (Beirut, Dar Ihya’ al-Turats,  tth), Juz 4 h. 548.

[16] Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Mesir, Dar Al-Kutub al-Mishriyah, 1952, Cet. II, h. 18,

[17] .Hafizh Ibn Ahmad Hakami, Ma’arij al-Qabul bi Syarh Sullam alWushul ila ‘Ilm al-Ushul, Damam, Da Ibn al-Qayyim, 1990, Juz 3, h. 1044.

[18] . Sa’id Ibn ‘Ali Ibn Wahf al-Qahthani, al-Hikamah fi al-Da’wah ila Allah, al-Mamlakah al-Arabiah al-Su’udiyah, Wuzarah al-Syuun al-Islamiah, wa al-Auqaf wa al-Da’wh wa al-Irsyad, 1423, Cet. I, Juz 2, h. 195.

[19] . Al-Nawawi, Riyadh Ash-Shalihin

[20] .Muhammad Ibn Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Beirut, Dar Ibn Katsir, 1407, Cet. Ke-3, juz 2, h. 864.

[21] .Muslim Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, Beirut, Dar Ihya’ al-Turats, tth, Juz 4, h. 1997.

[22] .Al-Tirmidzi, Sunan Al-Tirmidzi, h. 377.

[23]. Al-Tirmidzi, Sunan Al-Tirmidzi, h. 434.

[24] . Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, Juz 1, h. 106.

[25] . Malik Ibn Anas, Al-Muwaththa’ , Muassasah Zaid Ibn Sultan Ali Nahyan, Juz4, h. 143.

[26] .Abu Daud, Sunan Abi Daud, (Beirut, Dar al-Fikr, tth), Juz 4, h. 525.

[27] .Abd. Rahman Ibn Nashir Ibn al-Sa’di, Taisir al-Karim Al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, Muassasah al-Risalah, 1420 H,  Juz I, h, 298.,

[28] .Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Dar Thaibah, 1420, tth, Cet. II, Juz 6, h. 320.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Abu Daud, Sunan Abi Daud, Beirut, Dar al-Fikr, tth.

Al Mashri, Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur al afriqi ,  Lisan al-Arab, Berut, Daar shadir, tth, Cet. I.

Al-Jurjani, Ali Ibn Muhammad Ibn Ali, , al-T’rifat, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, 1405, Cet. I .

Al-Naisaburi, Al-Hakim, Al-Mustadrak ala Al-Shahihain, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1411.

Al-Askari, Abu Hilal , Al-Furuq Al-Lughawiyyah.

Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, .

Al-Dzahabi, Al-Imam Syamsuddin, al-Kabair, Beirut, Dar al-Fikr, 1994.

Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hanbal, Musnad Ahmad Ibn Hanbal, Bairut, ‘Alam al-Kutub, 1998, Cet. I.

Al-Qahthani, Sa’id Ibn ‘Ali Ibn Wahf, al-Hikamah fi al-Dawah ila Allah, al-Mamlakah al-Arabiah al-Su’udiyah, Wuzarah al-Syuun al-Islamiah, wa al-Auqaf wa al-Da’wh wa al-Irsyad, 1423, Cet. I..

Al-Bukhari, Muhammad Ibn Ismail, Shahih al-Bukhari, Beirut, Dar Ibn Katsir, 1407, Cet. Ke-3.

Al-Naisaburi, Muslim Ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim, Beirut, Dar Ihya’ al-Turats, tth..

Al-Tirmidzi, Sunan Al-Tirmidzi, Beirut, Dar Ihya’ al-Turats,  tth.

Ensiklopedi Islam, Jakarta, P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve,1994, Cet. Ke-3.

Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Dar Thaibah, 1420, tth, Cet. II.

Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, Beitur, Dar al-Jail, 1418.

Hakami , Hafizh Ibn Ahmad, Maarij al-Qabul bi Syarh Sullam alWushul ila Ilm al-Ushul, Damam,   Da Ibn al-Qayyim, 1990..

Malik Ibn Anas, Al-Muwaththa’ , Muassasah Zaid Ibn Sultan Ali Nahyan.

Al-Sa’di , Abd. Rahman Ibn Nashir , Taisir al-Karim Al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, Muassasah al-Risalah, 1420 H,

 

 

 

Tentang FORUM STUDY ISLAM

kasih sayang
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s