Adab Imam dan Khatib

ADAB IMAM DAN KHATIB DI DALAM DAN DI LUAR IBADAH
Oleh : Abdur Rokhim Hasan
A. ADAB IMAM
Di bawah ini, akan dijelaskankan tentang siapa yang berhak menjadi imam, dan beberapa adab berkaitan dengannya, sebagaimana point-point berikut ini.

1. Menimbang Diri, Apakah Dirinya Layak Menjadi Imam Untuk Jama’ah, Atau Ada Yang Lebih Afdhal Darinya?

Penilaian ini tentu berdasarkan sudut pandang syari’at. Diantara yang harus menjadi penilaiannya ialah:
a). Jika seseorang sebagai tamu, maka yang berhak menjadi imam ialah tuan rumah, jika tuan rumah layak menjadi imam.

b). Penguasa lebih berhak menjadi imam, atau yang mewakilinya. Maka tidaklah boleh maju menjadi imam, kecuali atas izinnya. Begitu juga orang yang ditunjuk oleh penguasa sebagai imam, yang disebut dengan imam rawatib.

c). Kefasihan dan kealiman dirinya. Maksudnya, jika ada yang lebih fasih dalam membawakan bacaan Al Quran dan lebih ‘alim, sebaiknya dia mendahulukan orang tersebut. Hal ini ditegaskan oleh hadits yang diriwayatkan Abi Mas`ud Al Badri Radhiyallahu ‘anhu , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً، فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً، فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً، فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا، وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ، وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ» قَالَ الْأَشَجُّ فِي رِوَايَتِهِ: مَكَانَ سِلْمًا سِنًّا، (رواه مسلم)

“Yang (berhak) menjadi imam (suatu) kaum, ialah yang paling pandai membaca Kitabullah. Jika mereka dalam bacaan sama, maka yang lebih mengetahui tentang sunnah. Jika mereka dalam sunnah sama, maka yang lebih dahulu hijrah. Jika mereka dalam hijrah sama, maka yang lebih dahulu masuk Islam (dalam riwayat lain: umur). Dan janganlah seseorang menjadi imam terhadap yang lain di tempat kekuasaannya (dalam riwayat lain: di rumahnya). Dan janganlah duduk di tempat duduknya, kecuali seizinnya” (H.R. Muslim)

d). Seseorang tidak dianjurkan menjadi imam, apabila jama’ah tidak menyukainya. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: “ثَلَاثَةٌ لَا يقْبَلُ لَهُمْ صَلَاةٌ: الرَّجُلُ يَؤُمُّ الْقَوْمَ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، وَالرَّجُلُ لَا يَأْتِي الصَّلَاةَ إِلَّا دِبَارًا – يَعْنِي بَعْدَ مَا يَفُوتُهُ الْوَقْتُ – وَمَنْ اعْتَبَدَ مُحَرَّرًا” (رواه أبو داود وابن ماجه )

“Dari Abdullah Ibn Amar berkata, bahwa Raswulullah saw. Berkata : Tiga golongan tidak diterima shalat meraka: (Yaitu) seseorang menjadi imam suatu kaum yang membencinya, orang yang melaksanakan shalat di saat waktu sudah lewat, dan orang yang memperbudak orang merdeka. (H.R. Abu Dawud dan Ibn Majah)
2. Seseorang Yang Menjadi Imam Harus Mengetahui Hukum-Hukum Yang Berkaitan Dengan Shalat.
Seseorang Yang Menjadi Imam Harus Mengetahui Hukum-Hukum Yang Berkaitan Dengan Shalat, seperti bacaan-Bacaan Shalat Yang Shahih, Hukum-Hukum Sujud Sahwi Dan Seterusnya.
Karena seringkali kita mendapatkan seorang imam memiliki bacaan yang salah, sehingga merubah makna ayat, sebagaimana yang pernah penulis dengar dari sebagian imam sedang membawakan surat Al Lumazah, dia mengucapkan”Allazi jaama`a maalaw wa `addadah”, dengan memanjangkan “Ja”, sehingga artinya berubah dari arti ‘mengumpulkan’ harta, menjadi ‘menyetubuhi’nya . Na`uzubillah.
3. Kewajiban Imam Untuk Meluruskan Dan Merapatkan Shaf.
Ketika shaf dilihatnya telah lurus dan rapat, barulah seorang imam bertakbir, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakannya.

Dari Nu`man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu berkata,”Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan shaf kami. Seakan-akan beliau meluruskan anak panah. Sampai beliau melihat, bahwa kami telah memenuhi panggilan beliau. Kemudian, suatu hari beliau keluar (untuk shalat). Beliau berdiri, dan ketika hendak bertakbir, nampak seseorang kelihatan dadanya maju dari shaf. Beliaupun berkata:
سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ، يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَوِّي صُفُوفَنَا حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاحَ حَتَّى رَأَى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ، ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا فَقَامَ، حَتَّى كَادَ يُكَبِّرُ فَرَأَى رَجُلًا بَادِيًا صَدْرُهُ مِنَ الصَّفِّ، فَقَالَ: «عِبَادَ اللهِ لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ، أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ» (رواه مسلم)

Saya mendengar Nu’man bin Basyir berkata : Rasulullah saw. (suatu ketika) meluruskan shaf kami, sehingga Nampak seperti botol yang terikat rapi. Kemudian suatu hari Rasulullahsaw. Melaksanakan shalat, hampir takbir, namun melihat seseorang menonjol dadanya. Lalu Rasulullah saw. Berkata : wahai hamba Allah luruskanlah shafmu, atau Allah akan memperselisihkan di antara kamu. (H.R. Mulim)

Salah satu kesalahan yang sering terjadi, seorang imam menghadap kiblat dan dia mengucapkan dengan suara lantang,”Rapat dan luruskan shaf,” kemudian dia langsung bertakbir. Kita tidak tahu, apakah imam tersebut tidak tahu arti rapat dan lurus. Atau rapat dan lurus yang dia maksud berbeda dengan rapat dan lurus yang dipahami oleh semua orang?!

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Adalah salah seorang kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya, kakinya dengan kaki kawannya.” Dalam satu riwayat disebutkan,“Aku telah melihat salah seorang kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya, kakinya dengan kaki temannya. Jika engkau lakukan pada zaman sekarang, niscaya mereka bagaikan keledai liar (tidak suka dengan hal itu, pen).”
Oleh karenanya, Busyair bin Yasar Al Anshari berkata, dari Anas Radhiyallahu ‘anhu,“Bahwa ketika beliau datang ke Madinah, dikatakan kepadanya,’Apa yang engkau ingkari pada mereka semenjak engkau mengenal Rasulullah n ?’ Beliau menjawab,’Tidak ada yang aku ingkari dari mereka, kecuali mereka tidak merapatkan shaf’.”

4. Melaksanakan shalat dengan ringkas tetapi tetap sempurna dan optimal.

Melaksanakan shalat dengan ringkas; yaitu mempersingkat shalat demi menjaga keadaan jama’ah dan untuk memudahkannya. Batasan dalam hal ini, ialah mencukupkan shalat dengan hal-hal yang wajib dan yang sunat-sunat saja, atau hanya mencukupkan hal-hal yang penting dan tidak mengejar semua hal-hal yang dianjurkan.
Dasarnya adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمُ النَّاسَ، فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيهِمُ الصَّغِيرَ، وَالْكَبِيرَ، وَالضَّعِيفَ، وَالْمَرِيضَ، فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ» (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa rasulullah saw. Berkata :Kalau salah seorang di antara kalian mengimami jamaah, hendaknya ia melakukannya dengan ringkas, karena di antara jamaah itu ada anak kecil, orang tua, orang lemah dan orang sakit. Tetapi kalau ia mau shalat sendiri silakan ia shalat sekehendak hatinya.” (H.R. Muslim)

Juga hadits berkut ini :
سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيَّ، قَالَ: أَقْبَلَ رَجُلٌ بِنَاضِحَيْنِ وَقَدْ جَنَحَ اللَّيْلُ، فَوَافَقَ مُعَاذًا يُصَلِّي، فَتَرَكَ نَاضِحَهُ وَأَقْبَلَ إِلَى مُعَاذٍ، فَقَرَأَ بِسُورَةِ البَقَرَةِ – أَوِ النِّسَاءِ – فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ وَبَلَغَهُ أَنَّ مُعَاذًا نَالَ مِنْهُ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَشَكَا إِلَيْهِ مُعَاذًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا مُعَاذُ، أَفَتَّانٌ أَنْتَ» – أَوْ «أَفَاتِنٌ» – ثَلاَثَ مِرَارٍ: «فَلَوْلاَ صَلَّيْتَ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ، وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى، فَإِنَّهُ يُصَلِّي وَرَاءَكَ الكَبِيرُ وَالضَّعِيفُ وَذُو الحَاجَةِ» (رواه البخاري )
Dari Jabir bin Abdillah al-anshari r.a. berkata ada seseorang dengan membawa dua onta, sementara waktu sudah malam, lalu bertemu Mu’ad alam keadaan shalat. Kemudian ia tinggalkan ontanya dan menghadap Mu’adz yang membaca surat al-baqarah atau surat an-nisa’, lalu dating kepada Rasulullah saw. Dan melaporkan perihal Mu’adz. Kemudian Rasulullah saw. Berkata kepada Mu’adz:“Hai Mu’adz! Apakah engkau mau menjadi pembuat fitnah?” Begitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bertanya hingga tiga kali. Sebaiknya kamu membaca: “sabbihismarabbikal a’la atau Wasy-Syamsi wa dhuhaaha, dan wallaili idza yaghsya. Karena yang shalat bermakmum denganmu itu ada orang tua, orang lemah dan orang yang mempunyai kebutuhan.” (H.R. Al-Bukhari)

Hadits lain adalah hadits Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي لَأَتَأَخَّرُ عَنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ مِنْ أَجْلِ فُلَانٍ، مِمَّا يُطِيلُ بِنَا فَمَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَضِبَ فِي مَوْعِظَةٍ قَطُّ أَشَدَّ مِمَّا غَضِبَ يَوْمَئِذٍ فَقَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ، فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ، فَلْيُوجِزْ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ، وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ» (رواه البخاري ومسلم )
Dari Abu Mas’ud al-Anshari r.a. berkata : ada seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya saya pernah meninggalkan shalat Shubuh berjamaah karena si fulan shalat terlalu panjang mengimami kami.” Tak pernah kulihat Nabi demikian marah dalam memberikan nasihat seperti saat itu, beliau betul-betul marah. Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Hai kaum muslimin sekalian! Ada di antara kalian yang membuat orang menjauh/lari. Kalau salah seorang di antara kalian mengimami jamaah, hendaknya ia melakukannya dengan ringkas, karena di antara jamaah itu ada (orang sakit), orang lemah, orang tua dan orang yang mempunyai kebutuhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Akan tetapi perlu diingat, bahwa takhfif merupakan suatu perkara yang relatif. Tidak ada batasannya menurut syari’at atau adat. Bisa saja menurut sebagian orang pelaksanaan shalatnya terasa panjang, sedangkan menurut yang lain terasa pendek, begitu juga sebaliknya. Oleh karenanya, hendaklah penambahan ataupun pengurangan yang dilakukan, kembali kepada mashlahat.
Shalat ringkas yang dituntut dari seorang imam itu terbagi menjadi dua:
Pertama: Shalat ringkas standar. Yakni tidak lebih dari yang dijelaskan dalam ajaran sunnah. Kalau melebihi dari yang dijelaskan dalam ajaran sunnah berarti terlalu panjang. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam: “Kalau salah seorang di antara kalian mengimami jamaah, hendaknya ia melakukan shalatnya dengan ringkas.”
Kedua: Ringkas insidentil. Yakni shalat ringkas karena adanya sebab tertentu, misalnya adalah hal yang mengharuskan si imam shalat lebih ringkas lagi dari yang ditegaskan dalam ajaran sunnah, ia terpaksa melakukan shalat lebih ringkas. Dalilnya adalah ketika Nabi melakukan shalat ringkas begitu beliau mendengar tangisan bayi, karena khawatir menyusahkan ibu anak tersebut.”
Kedua jenis shalat ringkas tersebut sesuai dengan ajaran sunnah.
5. Melakukan rakaat pertama lebih panjang dari rakaat kedua.
Dalilnya adalah hadits Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan: “Ketika iqamah untuk shalat Zhuhur telah dikumandangkan, salah seorang jamaah keluar ke Baqi’ (sebuah tanah lapang) untuk buang air, kemudian ia sempat menemui istrinya dan berwudhu baru kembali ke masjid. Ternyata Rasulullah masih dalam rakaat pertama, karena saking panjangnya.”
6. Memperpanjang dua rakaat pertama dan memperpendek dua rakaat terakhir pada setiap shalat.
Dasarnya adalah hadits Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Sa’ad radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Umar bin Al-Khaththab: “Saya biasa melakukan shalat seperti shalat Rasulullah. Saya memperpanjang dua rakaat pertama dan memperpendek dua rakaat terakhir. Saya tidak mengurangi sedikit pun dari cara yang saya tiru dari shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.”
7. Memperhatikan kepentingan para makmum tapi tidak menyelisihi ajaran sunnah.
Dasarnya adalah hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, dimana Rasulullah memperhatikan kepentingan jamaah sehingga beliau menangguhkan shalat Isya bila jamaah belum berkumpul. Jabir menceritakan: “Beliau melaksanakan shalat Isya pada waktu yang berbeda-beda. Bila beliau melihat jamaah sudah berkumpul, beliau mempercepat pelaksanaan shalat jamaah. Kalau beliau melihat bahwa jamaah terlambat, maka beliau juga mengundurkannya.” Shalat Isya di sini memang disunnahkan untuk dilakukan lebih malam. Namun Nabi memperhatikan kondisi para makmum agar tidak menyusahkan mereka, sehingga beliau melakukannya lebih cepat bila mereka telah berkumpul. Adapun selain shalat Isya, selalu beliau lakukan di awal waktu, terkecuali shalat Zhuhur bila panas terlalu terik.
Dengan demikian jelas bahwa kondisi para makmum juga harus diperhatikan oleh imam, selama tidak bertentangan dengan ajaran sunnah. Di antara indikasi adanya perhatian tersebut dari Rasulullah adalah bahwa beliau meringkas shalat begitu mendengar tangis anak kecil, khawatir kalau menyusahkan ibunya. Demikian juga beliau memperpanjang rakaat pertama shalat agar jamaah yang terlambat tidak ketinggalan rakaat pertama. Nabi juga pernah menunggu jamaah kedua dalam shalat khauf. Pelajaran yang bisa diambil dari semua perbuatan Nabi itu adalah disunnahkannya menunggu makmum yang baru masuk shalat pada waktu ruku’ agar tidak ketinggalan ruku’, tentunya bila tidak menyusahkan para makmum lainnya. Wallahu a’lam.
8. Tidak shalat sunnah di tempat melakukan shalat wajib.
Dasarnya adalah riwayat Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu secara marfu’:
عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ يُصَلِّى الإِمَامُ فِى الْمَوْضِعِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ حَتَّى يَتَحَوَّلَ ( رواه أبو داود )
Dari Al-Mughirah bin Syu’bah berkata : Rasulullah saw. Berkata “Janganlah imam shalat (sunnah) di tempat ia shalat wajib, tetapi harus bergeser.” (H.R. Abu Dawud)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu juga diriwayatkan bahwa beliau menyatakan, dimakruhkan imam untuk shalat sunnah di tempat ia shalat wajib, tetapi beliau menganggap boleh-boleh saja bagi selain imam.
Dari Said bin Al-Musayyab dan Hasan Al-Bashri diriwayatkan bahwa mereka lebih senang bila imam maju ke depan setelah salam.
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu menandaskan: “Adam meriwayatkan kepada kami: Syu’bah menceritakan sebuah riwayat kepada kami, dari Ayyub, dari Nafi’ bahwa ia menceritakan: Ibnu Umar pernah melakukan shalat sunnah di tempat beliau shalat wajib. Perbuatan itu juga dilakukan oleh Al-Qaasim, bahwa menyebutkan riwayat marfu’ dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam:
“Janganlah seorang imam shalat di tempat dia shalat wajib,” tetapi riwayat itu tidak shahih.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menandaskan: “Tujuan dimakruhkannya imam shalat sunnah di tempat ia shalat wajib adalah karena dikhawatirkan tidak dapat dibedakan antara shalat wajib dengan shalat sunnah..”
Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Ini mengandung dalil yang menunjukkan kebenaran pendapat sahabat-sahabat kami bahwa shalat sunnah rawatib dan shalat sunnah lainnya, disunnahkan untuk dilaksanakan di tempat yang berbeda dengan shalat wajib. Dan lebih baik lagi bila dilakukan di rumah, atau paling tidak di tempat lain di masjid atau di luar masjid agar bisa dibedakan bentuk shalat sunnah dengan shalat wajib. Arti ucapan: “…sebelum berbicara,” menunjukkan bahwa pemisahan antara shalat wajib dengan shalat sunnah bisa juga dilakukan dengan berbicara. Akan tetapi lebih baik bila dilakukan dengan cara bergeser, berdasarkan apa yang telah kami jelaskan. Wallahu a’lam.
Namun pendapat yang tepat adalah mendahulukan dzikir yang disunnahkan dengan penjelasan tambahan dari berbagai riwayat shahih tentang dzikir-dzikir itu seusai shalat langsung.” Kemudian beliau (Ibnu Hajar) berkata: “Adapun shalat yang tidak disyariatkan shalat sunnah rawatib sesudahnya, boleh saja imam dan para makmumnya menyibukkan diri dengan membaca dzikir-dzikir yang disunnahkan, tidak ditetapkan tempatnya, bila mau mereka bisa bergeser terlebih dahulu lalu berdzikir, tetapi kalau mereka mau mereka juga bisa tetap di tempat mereka dan berdzikir..”
9. Diam di tempat sejenak setelah salam.
Dasarnya adalah hadits Ummu Salamah yang menceritakan: “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam apabila salam (dalam shalat), kaum wanita berdiri ketika beliau selesai salam, lalu beliau diam sejenak sebelum berdiri.” Dalam lafazh lain disebutkan: “Ketika Rasulullah salam, kaum wanita bergerak keluar masjid dan menuju rumah-rumah mereka sebelum Rasulullah bergerak bangkit.”
Ibnu Syihab: “Saya berpendapat bahwa senjang waktu ketika Rasulullah diam adalah untuk memberi kesempatan kaum wanita keluaq sehingga tidak sempat terlihat oleh makmum yang hendak bergerak keltar.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menyatakan: “Hadits itu mengindikasikan bahwa seorang imam itu harus memperhatikan kondisi makmum, dan berwaspada menghindari segala hal yang dapat menggiring kepada perbuatan haram. Hadits itu juga mengindikasikan agar kita menghindari tempat terjadinya fitnah, khawatir bercampurnya kaum lelaki dengan kaum wanita di jalan menuju rumah-rumah mereka.”
Sementara dalam lafazh An-Nasa’i menyebutkan: “Bahwa kaum wanita di zaman Rasulullah apabila salam langsung bangkit meninggalkan shalat, sementara Rasulullah bersama para makmum lelaki tetap di tempat mereka sampai batas waktu tertentu. Apabila Rasulullah bangkit, para makmum lelaki juga ikut bangkit bersama beliau.”
10. Menghadap ke arah makmum seusai salam.
Dasarnya adalah hadits Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan: “Dahulu apabila Rasulullah selesai melaksanakan shalat, beliau menghadap ke arah kami.”
Artinya, apabila beliau selesai shalat dan salam, beliau menghadap ke arah makmum. Karena posisi imam yang membelakangi makmum adalah karena posisinya sebagai imam. Kalau sudah selesai shalat, hak untuk membelakangi makmum itu sudah tidak ada lagi. Maka dengan menghadap ke arah makmum pada saat itu, akan tertepislah kesombongan dan sikap takabbur di hadapan makmum. Wallahu a’lam.
11. Imam tidak boleh mengkhususkan doa baginya, lalu diamini oleh para makmum sekalian.
Dasarnya adalah hadits Abu Hurairah secara marfu’ (bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda):
“Dan tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk mengimami sekelompok orang tanpa izin mereka. Dan janganlah ia mengkhususkan doa untuk dirinya sendiri tanpa melibatkan orang lain… Kalau ia melakukan hal itu juga, berarti ia telah berkhianat kepada mereka.”
12. Imam tidak boleh shalat di tempat yang terlalu tinggi dibandingan dengan tempat makmum.

Imam tidak boleh shalat di tempat yang terlalu tinggi dibandingan dengan tempat makmum kecuali kalau ada sebagian shaf bersama imam, bila demikian tidak menjadi masalah. Adapun makmum, tidak dilarang kalau berada di tempat yang lebih tinggi dari tempat imam.
13. Imam tidak boleh berada di tempat yang tidak terlihat oleh seluruh makmum.
14. Tidak terlalu lama duduk menghadap kiblat setelah salam.
Dasarnya adalah hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan: “Rasulullah biasanya hanya duduk sebatas beliau bisa mengucapkan:
‘Allahumma antassalam wa minkas salaam tabarakta ya dzal jalali wal ikram.’
Kemudian beliau langsung menghadap ke arah makmum sebagaiman disebutkan dalam hadits Samurah radhiyallahu ‘anhu.”
15. Menghadap ke arah makmum setelah salam, terkadang melalui kanan dan terkadang melalui kiri.
Kedua-duanya tidak menjadi masalah. Dasarnya adalah hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan: “Janganlah seorang di antara kalian memberikan sebagian shalatnya kepada setan kalau ia berpandangan bahwa ia hanya berpaling dari shalatnya melalui sebelah kanan. Karena aku melihat seringkali Rasulullah berpaling melalui sebelah kiri.” Dalam lafazh Muslim disebutkan: “Kebanyakan aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berpaling dari shalatnya melalui sebelah kiri.”
Dari Anas bin Malik diriwayatkan bahwa ia menceritakan: “Adapun saya, kebanyakan yang saya lihat, Rasulullah meninggalkan shalat melalui sebelah kanan beliau.” Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Rasulullah biasa berpaling dari shalat melalui sebelah kanannya.”
Imam An-Nawawi rahimahullahu menandaskan: “Cara mengorelasikan antara kedua hadits tersebut adalah bahwa Rasulullah terkadang melakukan yang pertama (berpaling dari kanan) dan terkadang yang kedua (dari sebelah kiri). Masing-masing sahabat menceritakan mana yang menurut pendapatnya lebih sering dilakukan oleh Rasulullah sebatas yang dia ketahui, sehingga menunjukkan kedua-duanya boleh. Tidak ada yang dilarang. Adapun konsekuensi ucapan Ibnu Mas’ud yang mengatakan dilarang, bukanlah karena asal dari berpaling dari shalat melalui sebelah kanan atau kiri, tetapi itu bagi yang berpendapat bahwa itu satu keharusan. Kalau seseorang yakin bahwa salah satu dari keduanya itu wajib, maka ia keliru. Oleh sebab itu beliau menjelaskan: “…kalau ia berpandangan bahwa ia hanya berpaling dari shalatnya melalui sebelah kanan.”
Beliau mengecam orang yang mengharuskan demikian. Madzhab kami adalah bahwa tidak ada salah dari kedua cara itu yang dilarang. Akan tetapi disunnahkan berpaling melalui arah yang diperlukan, melalui kanan atau melalui kiri. Kalau kedua arah itu sama-sama diperlukan atau sama-sama tidak diperlukan maka yang lebih baik adalah sebelah kanan berdasarkan keumuman hadits-hadits yang secara tegas menceritakan keutamaan ‘kanan’ dalam hal yang berkaitan dengan kemuliaan dan sejenisnya. Inilah pendapat yang paling tepat berkaitan dengan kedua hadits ini. Ada juga pendapat yang berlawanan dengan pendapat yang benar ini. Wallahu a’lam.”
16. Membuat sutrah (penghalang di depan), karena akan menjadi sutrah baginya dan bagi para makmum di belakangnya.
Dasarnya ialah hadits Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu secara marfu’:
“Apabila salah seorang di antara kalian shalat, hendaknya ia shalat menghadap sutrah dan hendaknya mendekat ke arah sutrah tersebut.”
Demikian juga karena Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah berjalan menunggang keledainya di depan sebagian shat, kemudian beliau turun dari keledainya. Dan tak seorang pun menyalahkan beliau. Karena sutrah bagi imam adalah sutrah bagi para makmum yang berada di belakangnya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
B. ADAB KHATIB

Adab khutbah Jum’at dapat diartikan sebagai sekumpulan tatacara khutbah Jum’at, syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, dan hal-hal yang disunnahkan padanya1.
Kata “adab” (jamaknya “aadaab”) dalam bahasa Arab mempunyai beberapa makna, di antaranya adalah sejumlah tatacara yang selayaknya dilaksanakan oleh orang yang mempunyai pekerjaan / profesi (fan) atau aktivitas/tugas (shina’ah/tashurruf) tertentu. Misalnya, abad-adab Qadly (hakim) atau Khatib (penulis / pengarang). Lihat Al Mu’jamul Wasith, Dr. Ibrahim Anis dkk., hal. 9-10. Lihat Kamus Al Munawwir, Ahmad Warson Munawwir, jal. 14, 115, dan 853.
Dengan pengertian tersebut, maka adab-adab khutbah Jum’at di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Disunnahkan bagi khatib untuk memberi salam ketika masuk masjid dan ketika naik mimbar sebelum khutbah. Ibnu Umar RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW jika masuk masjid pada hari Jum’at memberi salam pada orang-orang yang duduk di sisi mimbar dan jika telah naik mimbar beliau menghadap hadirin dan mengucapkan salam. (HR. Ath Thabrani)6
2. Disunnahkan bagi khatib untuk berkhutbah di atas mimbar, sebab Nabi SAW dahulu berkhutbah di atas mimbar10.
3. Disunnahkan bagi khatib untuk duduk pada anak tangga mimbar yang paling atas, sebab Nabi SAW telah mengerjakan yang demikian itu11.
4. Disunnahkan bagi khatib untuk mengeraskan suaranya pada khutbahnya (selain rukun-rukun khutbah)12. Diriwayatkan dari Jabir RA, bahwa jika Rasulullah berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya keras, dan nampak sangat marah, sampai beliau seperti orang yang sedang menghasungkan pasukan (untuk berperang) (HR. Muslim dan Ibnu Majah)13.
5. Disunnahkan bagi khatib untuk bersandar / berpegangan pada tongkat atau busur panah14. Ini sesuai riwayat Al Hakam bin Hazan RA yang mengatakan bahwa dia melihat Rasulullah SAW berkhutbah seraya bersandar pada busur panah atau tongkat (HR. Ahmad dan Abu Dawud)15.
6. Disunnahkan bagi khatib untuk memendekkan khutbahnya (tidak berpanjang-panjang atau bertele-tele)16. Diriwayatkan dari Amar bin Yasir RA, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya lamanya shalat dan pendeknya khutbah seseorang, adalah pertanda kepahamannya (dalam urusan agama). Maka panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah !” (HR. Ahmad dan Muslim)
7. Dibolehkan bagi khatib untuk memberi isyarat dengan telunjuknya pada saat berdoa mengingat Rasulullah pernah mengerjakannya. Demikian menurut Imam Asy Syaukani-18.
8. Kedua khutbah wajib memperbincangkan salah satu urusan kaum muslimin19, yakni peristiwa atau kejadian yang sedang terjadi di kalangan kaum muslim dalam berbagai aspeknya. Hal ini mengingat Rasulullah SAW dan para khalifahnya dahulu –yang senantiasa menjadi khatib– sesungguhnya berkedudukan sebagai pemimpin politik (Al Qaid As Siyasi) bagi kaum muslimin.
Maka dari itu, perkara khatib saat ini pun seharusnya juga mengaitkan khutbahnya dengan realitas atau problem kontemporer yang ada di kalangan kaum muslimin, dan tidak sekedar mengulang-ulang khutbah yang kurang memberi kesadaran bagi hadirin, dengan tema yang itu-itu saja yang tentu akan membuat hadirin jemu, mengantuk, atau bahkan tertidur. Wallahu a’lam. [Muhammad Shiddiq Al Jawi – Dosen Jurusan Ekonomi Islam STAIN Surakarta-SEM Institute ]
PUSTAKA :
1. Lihat Ahkamush Shalat, Ali Ar Raghib, hal. 104
2. Lihat Rohmatul Ummah, (terjemahan), hal. 105
3. Ibid., hal. 105.
4. Lihat Nailul Authar, Imam Asy Syaukani, jilid III/304, Syarah As Sunnah, Imam Al Baghawi, jilid IV / 24-27, Majma’uz Zawaid, Al Haitsami, II/187, Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq, jilid I/262.
5. Lihat Majma’uz Zawaid, jilid II/184, Fiqih Sunnah, jilid I/260.
6. Lihat Al Fiqih ‘Ala Al Madzahib Al ‘Arba’ah, Abdurrahman Al Jaziri, jili I/390.
7. Perhatikan rinciannya dalam Al Fiqih ‘Ala Al Madzahibi Al ‘Arba’ah, jilid I/391-392.
8. Lihat Al-Fiqih ‘Ala Al Madzahibi Al ‘Arba’ah, jilid I/392
9. Lihat Ahkamush Shalat, hal. 104 , Syarah Sunnah, jilid II/242 dan 244, Majma’uz Zawaid, jilid II/183
10. Lihat Ahkamush Shalat, hal. 104.
11. Lihat Ahkamush Shalat, hal. 105, Fiqih Sunnah, jilid I/262. Nailul Authar, jilid III/307.
12. Lihat Nailul Authar, jilid III/307, Fiqih Sunnah, jilid I/263.
13. Lihat Ahkamush Shalat, hal. 104.
14. Lihat Nailul Authar, jilid III/305. Menurut Asy Syaukani, Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan, isnad hadits ini hasan.
15. Lihat Ahkamush Shalat, hal. 105, Fiqih Sunnah, jilid I/263, Nailul Authar, jilid III/305-307.
16. Lihat Majma’uz Zawaid, jilid II/190. Syarah Sunnah, jilid II/251.
17. Lihat Nailul Authar, jilid III/308, Syarah Sunnah, jilid II/255.
18. Lihat Ahkamush Shalat, hal. 104.

Tentang FORUM STUDY ISLAM

kasih sayang
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s